Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Gombal kamu By !


__ADS_3

"By, bayi kita!" ucap Shirleen dengan tangis yang terisak.


"Ada apa By, apakah sakit?" tanya Jason sembari mengusap pelan perut istrinya, percayalah ia sudah panik namun masih mencoba tetap tenang demi Shirleen.


Shirleen terdiam kala merasakan pergerakan dari perutnya, bayi-bayinya merespon sentuhan Jason, itu berarti tidak terjadi apa-apa dengan bayinya.


Oh Shirleen tersenyum malu kala sudah membuat panik suaminya.


"Kenapa, ada apa, mana yang sakit?" tanya Jason lagi.


"Tidak ada By, maaf ya aku kira tadi terjadi sesuatu dengan bayi kita, aku sudah lama bangun dan menunggu pergerakannya, tapi ia tetap tidak melakukan pergerakan, ternyata mereka hanya butuh sentuhan papanya." ucap Shirleen malu-malu.


Jason menghela nafas lega, ternyata Shirleen hanya parno duluan, syukurlah ia kira terjadi sesuatu pada Shirleen atau bayinya.


"Kalau sudah bangun mengapa tidak membangunkan aku saja, kamu butuh sesuatu, haus misalnya atau apa?" tanya Jason lagi.


"Iya aku memang sedikit haus." jawab Shirleen.


Jason lalu membuka air mineral dalam kemasan botol dan kemudian menuangkannya pada gelas yang sudah tersedia lengkap dengan sedotan, ia akan membantu Shirleen minum.


"Gimana rasanya, sudah lebih baik, mana yang sakit?" tanya Jason setelah Shirleen selesai minum.


"Aku merasa badanku tidak bisa digerakkan, maksudku aku seperti tidak berdaya sehingga untuk bergerak saja aku seperti tidak punya tenaga." jawab Shirleen, ia jujur saja tentang kondisinya.


Jason tersenyum, ia membelai lembut pipi istrinya, "Itu tidak apa kata Dokter Eri, hal itu akan berangsur membaik, kamu hanya kekurangan nutrisi, tidak apa katanya itu normal." jawab Jason.

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa By, apa telah terjadi sesuatu padaku selama ini?" tanya heran Shirleen, ia merasakan tubuhnya sangat tidak berdaya, kalau dirinya hanya pingsan pasti tidak akan separah ini kan pikirnya.


"Aku hampir saja kehilanganmu, aku minta maaf By, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi, aku berjanji akan benar-benar berhenti dari duniaku yang seperti itu, aku mohon maafkan aku By yang telah menyakitimu." ucap sungguh Jason.


Shirleen mengerjapkan mata, ah ia ingat terakhir kali sebelum ia tidak sadarkan diri ia bahkan mengatakan kalau Jason telah menyakitinya.


Shirleen tersenyum manis, "Aku tidak apa By, aku sudah memaafkanmu, aku harap kau tidak hanya membuatku senang dengan berjanji seperti itu, aku ingin kita mulai dari awal dan kau tidak akan kembali lagi ke lubang hitam itu." ucap Shirleen.


"Iya By, aku janji, aku janji padamu, bukan hanya padamu aku juga akan berjanji pada Tuhan, jika sudah begitu tidak akan mudah bagiku mengingkarinya." ucap Jason, ia bahagia Shirleen bisa menerimanya dengan tanpa tekanan, ia merasa apa yang Shirleen ucapkan memang tulus dari hati, salut sekali, seorang istri yang pernah tersakiti dan dengan hati seluas samudra mau menerima bajingan sepertinya lagi.


"Jangan berjanji padaku atau pada Tuhan, karena janji itu berat By, berjanjilah pada dirimu sendiri cukup dirimu saja yang tau, berjanjilah untuk menjadi lebih baik, kami mengharapkan Papa yang sangat mencintai keluarganya, sehingga tidak akan berani untuk mengulangi kesalahan yang sama." ucap Shirleen lirih, sungguh air matanya sudah memanas, Jason benar-benar membuatnya terharu.


"Aku masih bisa terima kesalahan apapun, sekalipun kau harus masuk penjara sekalipun, aku tidak akan pernah malu ataupun menyesal telah menjadi istrimu, tapi aku tidak akan pernah bisa memaafkanku dan mungkin saja bisa pergi jika kamu tidak menginginkanku lagi atau kamu sudah punya tambatan hati yang lain selain diriku, aku tidak akan sanggup untuk gagal di kedua kalinya." ucap Shirleen mengutarakan isi hatinya, karena jujur saja baginya penghianatan adalah harga mati. Ia tidak akan bisa terima kesalahan seperti itu, contoh saja rumah tangganya dengan Athar, sekalipun hidup dengan banyaknya ujian, ia masih bisa bertahan, sekalipun orang tua mereka tidak ada yang menginginkan pernikahan mereka dulu, namun Shirleen tetap bertahan demi Athar, laki-laki yang sangat ia cintai dulu, namun sayangnya saat Athar mendua, ia tidak bisa menerima itu dan memutuskan untuk pergi.


"By, berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu bersamaku meski tidak ada yang menginginkan kita bersama sekalipun, hanya aku saja, hanya aku seorang, dan aku pun akan sama memperlakukanmu begitu." ucap Shirleen, apa yang ia pendam akhirnya terlontar juga, ia memang sudah sering kali ingin mengatakan itu pada suaminya, namun takut suaminya akan marah karena ia yang terlalu banyak keraguan akan pernikahan ini.


"Gombal kamu By, memangnya apa yang telah terjadi padaku sehingga kau mengatakan melawan maut." tuding Shirleen.


"By..." manja Jason.


"Apa?" tanya Shirleen.


"Aku sedang serius malah diejek begitu, aku benar-benar tengah mengatakan seluruh isi hati kau malah meruntuhkan segala isi hatiku." protes Jason pada istrinya.


"Hiks hiks, maafkan aku By, kalau aku tidak mengatakan itu mungkin aku sudah menangis karena mendengar perkataanmu, karena aku juga tidak sanggup jika kehilanganmu." ucap Shirleen, sungai yang sudah menganak sedari tadi akhirnya luruh juga.

__ADS_1


"Kita pasti bahagia!" ucap Jason.


"Pasti." sambung Shirleen.


Jason mengecup punggung tangan Shirleen yang masih bertaut pada tangannya, keduanya terlibat saling tatap, mesra sekali rasanya jika dilihat, kata cinta saja rasanya tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya ia memiliki Shirleen.


Tok tok tok, sebuah ketukan pintu terpaksa harus memutus pandangan mereka.


Jason melirik sedikit jam dinding, dan ternyata benar sudah saatnya istrinya itu diberikan obat, Dokter Eri sudah mengatakan bahwa akan ada perawatnya yang akan menyuntikan obat pada istrinya waktu subuh karena sudah terjadwal.


"Siapa By?" tanya Shirleen.


"Perawat yang akan memberimu obat, sebentar aku bukakan pintunya dulu." ucap Jason.


"Oh, iya By."


Jason langsung saja bergegas membukakan pintu, meski ia ingin mengumpat karena kehadiran perawat telah memotong acara romantismenya dengan sang istri namun karena kesehatan Shirleen jauh lebih penting, ia hanya bisa pasrah, ia mencoba menjadi seseorang yang penyabar, bukankah itu juga salah satu langkah menjadi orang baik, begitu saja pikirnya untuk menetralkan perasaan.


Ceklek, pintu di buka, Jason sedikit terkejut kala mendapati siapa yang mengetuk pintu.


"Kau!"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2