Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan katakan itu By...


__ADS_3

Hari sudah sangat gelap saat Jason tiba di sebuah rumah yang menurut informasi dari Roy, disinilah tempat Shirleen menghindari dirinya.


Sebuah perkampungan yang nampak sangat sepi, padahal malam baru menunjukkan pukul sebelas, namun sudah tidak ada orang yang berlalu lalang mengukur jalan.


Kali ini ia memilih mengetuk pintu, akan tidak sopan rasanya jika ia masuk dengan caranya mengingat bisa saja rumah ini bukan hanya dihuni oleh Shirleen dan anak-anaknya serta Maid yang dulu sempat ia tugaskan.


Shirleen yang mendengar suara ketukan pintu dari luar pun terbangun dari tidurnya, Bi Ida dan Pak Ramli tidak menginap malam ini, diliriknya jam dinding menunjukkan pukul sebelas malan, siapa gerangan yang bertamu malam-malam begini. Apa Pak Ramli atau Bu Ida ?


Ia membangunkan Ipah, untuk menemaninya membuka pintu, namun Ipah dengan tegas menolak, ia mengatakan biar dirinya saja yang membuka.


Sebenarnya dalam pemikiran keduanya mereka sependapat, bagaimana jika pintu diketuk oleh seseorang yang berniat jahat, dikampung yang begitu sepi ini pelaku kejahatan bisa dengan mudah melakukan tindak kriminal.


"Jika terjadi sesuatu dengan saya, Nona keluar dari pintu belakang bawa Misca dan Jacob kerumah Pak Ramli atau tetap kunci pintunya, saya akan berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta bantuan" pesan Ipah sebelum pergi membukakan pintu.


Mana mungkin Shirleen tega membiarkan Ipah sendirian, bagaimana pun juga ia hanya punya Ipah disini, Ipah lah satu-satunya keluarga bagi Shirleen.


Ipah pergi kedepan, suara ketukan semakin terdengar jelas, dipegangnya knop pintu, pelan tapi pasti pintu itu mulai terbuka.


"Tu tu Tuan Muda..." Ipah lunglai, kakinya bagai tak bertulang, bagaimana bisa Tuan Mudanya mengetahui keberadaan mereka. Apa telah terjadi sesuatu dengan Nyonya besar disana sehingga Nyonya besar terpaksa memberitahukan tempat persembunyian mereka, selama ini tidak ada kabar yang bisa mereka dengar.


Jason tidak perduli dengan keterkejutan Ipah, dengan masih mengumpulkan nyawa Ipah terpaksa harus menurut saat Tuan Muda Jason menyeretnya dengan paksa seolah meminta tunjuk dimana kekasihnya.


Sampailah didepan sebuah pintu kamar yang Jason yakini dibalik pembatas itu ada mereka para sumber kebahagiaanya, tidak ada suara, Jason menatap tajam Ipah, membuat Ipah harus melakukan sesuatu.


"Nona Shirleen, ini saya, bukalah... Semuanya sudah aman"


Tak lama pintu pun dibuka, sama seperti Ipah bahkan Shilrleen mungkin lebih lemas melihat kenyataan dihadapannya kini.


Kekasihnya, orang yang sedang ia hindari justru dengan santai berdiri dihadapannya.


"By..." akhirnya Jason bisa melihat wajah itu lagi. Wajah yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


Shirleen benar-benar mematung, semudah itu Jason menemukannya. Kalau begini caranya mau bersembunyi dilubang semut pun percuma.


Ia membawa Jason kedalam sebuah kamar lainnya dirumah itu, ia mengisyaratkan Ipah untuk menjaga Jacob dan Misca. Jika sudah begini tidak ada pilihan lain, semuanya harus tetap diselesaikan.


Ia menarik kasar tangan kekasihnya itu, Jason tidak melawan, ia pasrah apapun yang akan dilakukan wanitanya.


"Mau apa kamu kesini ?" tanya Shirleen, kini hanya ada ia dan Jason, sebisa mungkin ia mencoba memainkan peran.


"By, aku mau bawa kamu pulang"


"Aku gak mau pulang"


"By..."


"Kamu tau alasan aku ninggalin kamu, aku tanya apa kamu udah berubah ?"


"By..."


"Dengar Jason, tolong dengan sangat, mungkin aku bisa nerima kamu yang kayak gini, tapi enggak dengan mereka, aku gak bakal biarin mereka kenal kamu dengan semua keburukanmu"


"Lupakan tentang penjelasan, aku tanya, apa aku bagimu ?" Tanya Shirleen tegas.


"By..." Percayalah Jason saat ini berada dalam posisi serba salah.


"Kau tidak bisa menjawabnya karena disini masih sangat ragu, iya kan, kau bahkan tidak bisa memilih antara aku atau pekerjaan gilamu itu" Shirleen menunjuk tepat di dada Jason.


"Sekarang aku jadi tidak yakin bagaimana bisa kau mengatakan begitu mencintaiku bahkan ingin membangun sebuah rumah tangga" pilu saat kata membangun rumah tangga keluar dari mulutnya, sebuah mimpi yang sangat ia harapkan menjadi kenyataan, air matanya luruh saat berkata demikian, ia benci keadaan ini. Ia benci mengakui bahwa ia tidak bisa jika harus berpisah dari pemuda dihadapannya ini.


Jason tertunduk, ia pasrah. Satu hal yang harus Shirleen ketahui, ia paling tidak suka melihat wanitanya memangis.


"By, maafkan aku..." ucapnya lirih.

__ADS_1


Shirleen masih sesegukan menangis, sudahlah, benar dugaannya Jason tidak semudah itu meninggalkan dunia hitamnya.


"Katakan aku harus apa ?" ucap Shirleen setengah berteriak, nampaknya ia lupa bahwa kini ia bukan berada di apartemen, sungai dimatanya semakin deras saja mengalir.


"Katakan aku harus apa Jason, hiks hiks katakan, aku menuruti apa kata orang tuamu untuk berpisah darimu sementara, setidaknya sampai kau bisa berubah, katakan aku harus apa lagi"


"By... Kau tidak perlu melakukan itu By" sanggah Jason, ia tidak pernah ingin berpisah dari kekasihnya, dan ia bisa melihat dari sikap Shirleen pun sama sepertinya, rindu ini begitu menyiksa mereka, baginya jika berat kenapa juga harus Shirleen lakukan.


"By..." Tangan Jason terulur ingin menghapus air mata itu. Air mata yang entah kenapa dilihatnya syarat akan penderitaan.


"Hentikan Jason, jangan membuatku lebih sakit lagi, dengan perlakuanmu seperti ini bahkan lebih membuatku menderita"


"Jika kamu tidak bisa berubah demi aku, bolehkah aku meminta demi anak-anakku, kalau tidak bisa juga maka lupakan, jangan lagi mencintaiku, aku juga sebisa mungkin akan mencoba melepaskanmu"


"By, tidak, tidak jangan By, jangan katakan itu" Jason gusar, ia memeluk paksa Shirleen erat, ia paling tidak suka Shirleen mengatakan itu.


Bahu itu semakin berguncang, Shirleen membenci pada akhirnya sang hati telah berlabuh disini, pada seseorang yang tengah memeluknya kini.


"Apa salahku, apa salahku"


"Hentikan Jason, jangan lagi buatku lebih menderita, sudah cukup dikhianati, jangan lagi menyuruhku melepaskan seseorang yang telah berhasil menempati hatiku"


"Kau membuatku semakin berharap, hentikan Jason"


Shirleen memilih meratapi nasibnya, berharap Jason akan luluh, karena ia tau lelaki dihadapannya ini paling tidak suka melihat jatuh air matanya.


Jason menghela nafas panjang, benar saja ia benci air mata itu.


"Dengarkan aku, jika kau bisa berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi, maka aku juga bisa berjanji untuk meninggalkan semua itu" ucap Jason, walau berat namun akhirnya kata itu terlepas juga dari mulutnya.


Shirleen mendongak, apa benar yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


Bersambung...


Like, koment, gift, dan vote.


__ADS_2