
"Ingat kau juga punya keturunan By, anak-anak kita, hentikan ini sebelum kau menyesal, Tuhan tidak tidur By, Allah disana selalu melihat apa yang kau lakukan, setiap darah yang menetes karena kau goreskan, setiap nadi yang kau putuskan, setiap air mata mereka yang kau tumpahkan, ada harga yang harus kau bayar setelahnya By, aku selama ini selalu berdoa semoga kau selalu diberikan keselamatan, tapi dirimu malah selalu saja menyakiti tanpa belas kasih seperti ini, aku mohon kita juga punya nyawa yang kita sayangi By."
"Kau benar By, aku bahkan tidak bisa membayangkan jika sampai kau meninggalkanku tadi, aku terlalu kejam selama ini, kau benar."
Jason mengingat lagi kata-kata istrinya, tangisan Shirleen yang menyesakkan masih terbayang jelas.
Tangannya terulur membelai lembut rambut Shirleen, mengecup kedua mata yang masih betah terpejam itu.
"Aku mencintaimu, kita mulai dari awal, kita pasti akan bahagia." bisiknya pelan.
"Tuan Muda!" sebuah suara orang yang sangat Jason kenali memanggilnya tiba-tiba.
Dilihatnya raut wajah kekhawatiran dengan nafas yang tersengal mengucapkan itu.
"Saya khawatir sekali, apa Nona baik-baik saja?" tanya Roy yang sudah mendekat, yah suara yang memanggilnya tadi adalah suara Roy.
Ia mendapatkan informasi dari Ben bahwa Nona Muda mereka pingsan dan di bawa kerumah sakit, Roy tidak bisa tinggal diam, ia takut Tuan Mudanya melakukan hal diluar batas mengingat ini menyangkut kesehatan nona muda mereka, ia bahkan menyewa jet pribadi untuk mengantarkannya cepat kembali ke tanah air.
"Dia belum bangun Roy?" ucap Jason, meski ia ingin menanyakan mengapa Roy kembali dari menjelajah padahal belum waktunya, namun jiwa gengsinya masih juga bersemayam.
"Sabar Tuan Muda, bukankah Dokter Eri sudah menjelaskan Nona Muda sudah melewati masa kritisnya."
Roy memang telah menemui Dokter Eri terlebih dahulu, lebih tepatnya tidak sengaja bertemu saat ia sedang terburu-buru ingin segera menjumpai Tuan Mudanya tadi.
"Aku takut jika dia tidak bangun, itu akan mempengaruhi bayi kami, haruskah aku kehilangan mereka?" tanya Jason parau.
"Tuan Muda, berdoa pada yang kuasa, hanya Dia-lah yang menentukan seluruh isi dari dunia ini, begitupun hidup seseorang." ucap Roy, penuh perhatian.
"Berdoa, apa maksudmu berdoa seperti sholat?" Jason mengerti, namun ia menjadi seperti orang bodoh, karena hari ini begitu banyak sekali teguran yang diberikan sang pencipta padanya.
"Ya bisa di mulai dari itu!" ucap Roy.
"Tapi Roy..." sanggah Jason ragu.
"Tuan Muda tidak bisa melakukannya?" tebak Roy, melihat ekspresi Tuan Mudanya yang nampak kebingungan ia tidak bisa untuk menahan diri untuk tidak mengatakan itu.
"Aku?" Jason menunjuk dirinya sendiri, "Aku jelas bisa, apa yang tidak aku bisa?" sombong Jason, ia yang sangat menyukai kesempurnaan, mana berani mengakui kelemahannya.
__ADS_1
"Ya, kalau begitu, apa Tuan Muda sudah sholat isya malam ini, sudah berdoa dan berserah diri pada yang Kuasa?" tanya Roy, meski ia curiga namun kali ini ia bisa menahannya.
"Heemm, belum..." ucap Jason ragu.
"Kenapa belum Tuan Muda?" tanya Roy lagi.
"Aku tadi mengurus ini dan itu dan juga banyak hal, jadi aku belum melakukannya." dalih Jason.
"Sebentar, tunggu Nyonya besar ke sini, nanti kita akan sholat isya bersama." Roy berani memerintah, baginya sholat adalah kewajiban dan ia rasa Tuan Mudanya juga mengetahui akan hal itu, jadi jika Tuan Mudanya menjawab atau menolak dengan alasan yang tidak mengena sekalipun Roy masih bisa menentangnya, baginya tentang agama itu diluar pekerjaan jadi dirinya tidak akan tunduk.
"Tidak-tidak, kalau kau mau duluan tidak apa, bukankah sholat itu tidak boleh ditunda!" dalih Jason lagi.
"Tapi Tuan Muda baru saja menundanya, tidak apa sekali-sekali yang terpenting jangan acap kali dan harus dikerjakan, saya bisa menunggu." dan Roy pun tidak kalah tangkis menjawab.
Jason ingin berdalih lagi, namun lidahnya seolah kelu, menyangkut tentang agama ia tidak bisa menggunakan kekuasaannya, ia kalah kali ini Roy bahkan bisa membalikkan perkataannya.
"Kita berdoa untuk Nona Muda, semoga Nona Muda bisa segera bangun, dan bayi didalamnya baik-baik saja." ucap Roy.
Jason tertunduk, ia merasa bersalah dan sangat buruk, baiklah ia mengakui bahwa dirinya penuh dosa.
"Kamu pasti belum makan, menjaga seseorang yang sakit itu membutuhkan banyak tenaga, makan dulu ya nak." ucap Mama Nena.
"Iya Ma, taruh saja di situ, nanti kalau aku lapar aku akan memakannya." ucap Jason.
Jason melirik sedikit Roy, tentu saja setelah ini ia akan mengikuti kemauan Roy.
"Permisi Nyonya besar, saya dan Tuan Muda harus keluar sebentar, untuk itu tolong jaga Nona Muda selama kami tidak ada." ucap Roy.
"Oh mau pergi, tindak perlu seformal itu Roy, ini sudah di luar jam kerja." ucap Mama Mila.
Roy tidak menjawab, ia masih menunggu jawaban Mama Mila, sementara Jason, ia memilih diam karena yang sebenarnya ia sedang mengingat-ingat bagaimana caranya sholat saat ia dulu ujian praktik agama di sekolah dasar, oh itu sudah lama sekali semoga daya ingatnya bisa dipaksa.
"Baiklah, selesaikan urusan kalian, kami akan menjaga putri kami disini." ucap Mama Mila lagi.
"Terimakasih Nyonya."
"Ayo Tuan Muda." lanjut Roy lagi.
__ADS_1
Jason bangkit dari duduknya, ia mengecup singkat kening Shirleen sebelum pergi meninggalkan.
Ia mengikuti langkah kaki Roy yang sudah pasti akan membawanya ke Mushola.
"Silahkan Tuan Muda." ucap Roy saat mereka sudah sampai di tempat untuk berwudhu.
"Kau duluan saja." ucap Jason.
"Saya selalu mendahulukan Tuan Muda hampir di setiap hari-hari saya, silahkan Tuan Muda duluan." tolak Roy lagi.
Ingin sekali Jason meneriaki asisten pribadinya itu yang nampaknya sudah berani menolak permintaannya, namun lagi-lagi menyangkut tentang agama dan ia tidak bisa berbuat apa.
Nampaknya nih anak manusia mau bikin gue malu, heh awas saja kau Roy.
"Tuan Muda!" seru Roy, dilihatnya Tuan Mudanya nampak termenung seperti memikirkan sesuatu, namun Roy tidak berani menanyakan.
"Ah apa? Kau bilang apa tadi?" kaget Jason.
"Saya mengatakan, silahkan Tuan Muda saja yang duluan." jawab Roy mengulangi apa yang ia katakan tadi.
"Seharusnya kau selalu menurut padaku kan!" gumam Jason pelan dan hampir tidak terdengar, namun sayangnya Roy masih bisa mendengar itu.
Roy memalingkan muka dan tersenyum geli, ia tau Tuan Mudanya hanya berpura-pura bisa padahal nyatanya tidak bisa.
Dasar, selalu saja gengsi...
"Aku harus ke Toilet sebentar!" ucap Jason beralasan, ia memilih meninggalkan Roy dari pada harus duluan berwudhu, bukannya ia tidak tau caranya berwudhu, ia masih ingat namun hanya mau memastikan saja lewat Roy jangan sampai step wudhu dirinya dan Roy berbeda, malu sekali kan jika ada yang terbalik atau kelupaan satu dua stepnya.
Roy hanya bisa menahan tawanya dalam hati, ia mengangguk pelan menyetujui, semoga dimulai hari ini jika nanti sudah tau caranya sholat yang benar, Tuan Mudanya itu bisa melaksanakan ibadah dengan baik, meski tidak serta merta langsung berubah namun setidaknya ada kemajuan.
Roy berharap untuk itu, Tuan Muda yang sangat ia sayangi, adik kecilnya, semoga bisa menjadi lebih tau akan ilmu agama.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1