
Hari ini Athar mulai bekerja, walau terpaksa ia tetap mencoba menerima dengan sepenuh hati pekerjaan yang akan ia lakoni nanti.
Pekerjaan yang sangat tidak pernah ia harapkan, namun kini pekerjaan itulah yang harus ia jaga sepenuh hati.
Dibawah teriknya matahari yang mulai meninggi, helai demi helai daun kering ia kumpulkan dengan sapu, sebanyak pekerjaan yang pernah ia lamar, hanya pekerjaan inilah yang bisa ia dapatkan, yakni sebagai tukang bersih-bersih yang dipekerjakan oleh sebuah yayasan. Kali ini ia ditugaskan untuk membersihkan taman kota yang lumayan luasnya, di seragamnya terdapat logo yayasan yang mempekerjakannya.
Sebenarnya pegawai ditempat itu tidak semuanya digaji, melainkan sebagian lainnya juga ada yang suka rela, hanya sekitar lima belas orang yang kerjanya digaji sepertinya, upahnya pun tidak banyak, hanya sekitar empat puluh ribu rupiah per satu tempat yang akan mereka bersihkan.
Hari ini rencananya Athar akan bekerja di dua tempat, pagi di taman kota, dan siang sampai sorenya disebuah gedung pertemuan. Itu berarti ia hanya mendapatkan upah senilai delapan puluh ribu untuk hari ini. Sungguh ia tidak menyangka hidupnya akan sesulit sekarang ini, untuk uang seratus ribu saja ia mendapatkannya harus dengan peluh yang bercucuran.
Dan disebuah kursi taman yang berada tidak jauh darinya, seorang pria tampak sedang mengamati gerak geriknya. Pria itu kemudian berlalu pergi setelah bisa melihat dengan jelas logo yang ada dibaju Athar.
Ia akan pergi untuk melakukan sesuatu.
Shirleen sedang menyiapkan makan siang untuk sang suami, Jason masih betah menunggui istrinya itu masak sembari tangan dan matanya kadang juga berfokus ke gadget mengecek laporan perusahaan yang dikirimkan Roy.
Setelah beberapa menit berlalu Shirleen bahkan sudah selesai menata masakannya dimeja. sepasang suami istri itu kemudian makan dengan lahapnya.
Jason sangat menyukai masakan Shirleen, jadi begini, tidak heran jika dulu Athar selalu makan siang dirumah pikirnya.
"By, nanti malam ikut aku yah, nanti aku suruh Ipah kesini buat jagain Jacob sebentar, aku ingin ngajakin kamu ke suatu tempat" ucap Jason saat ia sudah menyelesaikan makannya.
"Mau kemana By, kalau gak terlalu penting jangan dulu deh, aku gak mau ninggain Jacob" tolak Shirleen, bukan apa naluri seorang ibu memang begitu, walaupun dibilang cuma pergi sebentar tapi kalau nggak bawa anak itu berasa lama banget ninggalin rumah, apa lagi Jacob masih bayi bisa-bisa telinganya gak berhenti terus mendengar tangis dan suara teriakan anaknya, padahal semua itu hanya halusinasi saja.
__ADS_1
"Sebentar aja By..." ajak Jason lagi.
"Mau kemana sih, jauh nggak.?"
"Nggak jauh, cuma sebentar By, mau yaaa"
"Mau kemana dulu emangnya ?"
"Eemm, ikut aja dulu By"
"Oke janji yaa jangan lama, itupun kalau Jacob gak rewel nanti malam" ucap Shirleen, meski ia ingin menolak tapi ia juga penasaran akan kemana Jason mengajaknya.
"Yaudah aku mau mandi, terus mau ke kantor, nanti kamu pompa itu asi, soalnya stok dikulkas tinggal dikit tadi aku lihat" ucap Jason, Shirleen tidak percaya Jason begitu memperhatikan hal yang bersangkutan dengannya dan Jacob, hingga hal sekecil begitu saja Jason tetap mengingatkannya.
Shirleen membersihkan piring bekas mereka berdua makan siang, lalu menyusul suaminya ke kamar, ia akan menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Dilihatnya Jacob sudah terbangun dari tidurnya, namun tidak menangis, bayinya itu semakin hari semakin pintar dan menggemaskan.
Ia mengambil pakaian untuk suaminya di lemari, ia melilih kemeja merah maroon dengan jas berwarna senada dan celana hitam. lalu ia letakkan disisi tempat tidur.
Ia kembali ke dapur untuk mengemas kue yang ia buat tadi pagi untuk bekal suaminya dikantor. Dan tak lupa juga satu hidangan akan ia bagikan untuk Roy yang belakangan ini ia ketahui sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan suaminya.
Tak lama Jason pun sudah terlihat rapi, Shirleen mendekat dan menyalami suaminya itu, Jason pun membalas dengan mengecup kening istrinya mesra.
__ADS_1
"Ini jangan lupa dimakan, satunya kasih ke asisten kamu itu" Shirleen memberikan sebuah paper bag yang berisikan dua toples kue buatannya.
"Iya... Kenapa juga harus dibagi si Roy sialan itu" gumam Jason, namun Shirleen tidak mendengarnya.
"Aku berangkat dulu By..." ucap Jason kemudian.
"Iya hati-hati"
Ia berdua lagi dengan Jacob, rumah mewah ini sangat sepi, karena hanya ditinggali ia dan Jacob saat siang hari, malam juga masih sepi karena hanya ditambah Jason saja, sementara Misca anak gadisnya itu katanya akan pulang hari senin mendatang setelah pulang dari sekolahnya.
Mengingat betapa sunyinya suasana dirumahnya, ia masih belum tau tentang misteri dini hari dirumah ini.
Ia tidak bisa membuang rasa penasarannya begitu saja, namun mau bertanya pada suaminya pun percuma, Jason selalu saja memberikan jawaban yang tidak mungkin baginya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!
__ADS_1