
"Mas Athar..." Lisa tidak percaya bisa bertemu dengan duda gebetannya itu di tempat kerja.
"Emm..." Athar masih mengingat, dia pernah melihat gadis dihadapannya ini, tapi siapa namanya dia lupa.
"Mas sendiri?" tanya Lisa.
"Iya, sendiri, kamu kerja di sini?" tanya Athar balik, mencoba akrab untuk menetralkan kecanggungan.
"Iya Mas, yang pas waktu itu aku bilang kerja, di sini lah aku kerjanya!" jelas Lisa.
Beruntung Athar memilih meja yang ada sekatnya, jadi dirinya tidak perlu menghadapi mulut asal nyablak Ririn yang masih juga memusuhinya, Lisa juga heran setiap apapun yang dilakukan Lisa meski sudah benar tapi tetap saja masih salah bagi Ririn.
Beruntung kadang ada Zalin, Naura dan Vita yang siap membelanya, atau paling tidak minimal menengahi segala pembullyan Ririn.
"Oh..." Athar mulai ingat, kalau tidak sama nama gadis dihadapannya ini adalah Lisa.
"Yang mana lagi Mas, minumnya apa?" tanya Lisa sopan.
"Ehm, minumnya banana milkshake aja." tutur Athar.
"Oke Mas, terimakasih, mohon tunggu sebentar pesanannya."
Athar mengangguk, Lisa tampak periang, entah hanya pemikiran Athar saja atau memang benar, Athar beranggapan Lisa punya perasaan lebih padanya, namun masa iya, dia sudah tua begini masih ditaksir anak SMA.
"Assalamualaikum Ma..." ucap Shirleen, saat ini ia dan Jason sudah sampai di rumah utama keluarga Adrian.
Papa dan Mama mertuanya itu tampak sedang makan siang. Shirleen menaruh makanan apa saja yang sempat dirinya beli tadi sebelum menuju ke rumah mertuanya di meja makan.
"Duh banyak banget, repot bener deh." ucap Mama Mila.
Wanita paruh baya itu memeluk menantunya meski terhalang perut Shirleen yang membuncit.
"Nggak papa Ma, sekalian buat kita makan siang, kami rencananya mau makan siang di sini." jelas Shirleen.
"Oh gitu, yah udah hayuk, padahal Mama juga udah masak lho!"
"Iya nggak papa, wah udang asam manis, kesukaan aku banget ini Ma!" ucap Shirleen, terlihat sekali dirinya yang banyak bicara mendominani Jason yang nampak sangat kaku. Shirleen tidak tau lagi bagaimana membuat wajah suaminya itu tersenyum manis saat bersama orang lain.
"Hemm, kebetulan banget kan!" ucap Mama Mila.
__ADS_1
Shirleen menarik ujung baju Jason, mengisyaratkannya untuk duduk, sebenarnya ini rumah orang tua siapa sih batin Shirleen.
Padahal Jason kalau di rumah keluarga Julian, sudah bisa bersikap biasa saja, bahkan seringkali Shirleen melihat suami dan Papanya itu berbincang santai sembari main catur misalnya, namun di rumah orang tua sendiri Jason malah seperti ini, sungguh kekecewaan seorang anak di masa lalu telah menjadikan Jason memiliki pribadi seperti itu, tidak akan mudah merebut hati Jason kembali.
"Gimana liburannya Ma? Kata Jason Mama sama Papa liburan?" tanya Shirleen, lagi-lagi dirinya harus mencoba mencairkan suasana.
"Ah iya, emm suka, di sana desanya nyaman banget, polusi nggak banyak kayak di sini, ya kan Pa?" jelas Mama Mila, wanita paruh baya itu tampak antusias.
Mama Mila menyenggol lengan Papanya, mengisyaratkan jangan hanya diam, harus buka suara supaya suasana menjadi hangat.
"Iya sayang, gimana keadaan orang tua kamu, sehat mereka?" tanya Pak Adrian.
"Kedua orang tuaku sehat Pa, Ma, mungkin minggu depan rencananya Mama sama Papa mau ke Turki, soalnya Babaanne kesehatannya memburuk." jelas Shirleen, Mamanya pernah menjelaskan padanya saat di rumah sakit, dirinya hanya bisa berharap penyakit jantung Babaanne bisa sembuh.
"Oohh begitu, mungkin kita nanti juga bisa ke Turki Pa mengunjungi keluarga Shirleen di sana!" ajak Mama Mila.
"Iya, Papa rasa itu perlu, nanti kami juga akan ke sana!" setuju Pak Adrian.
"Ah iya Ma, Pa, kebetulan kalau mau ke sana bisa sekalian sama Mama Papa aku juga minggu depan, atau kalau mau nyusul juga bisa nanti biar di urus Papaku kalau udah nyampe Istanbul!" ucap Shirleen bersemangat.
"Kerjaan masih banyak Adrian, hari-hari sibuk baru saja dimulai, kalau mau cukup Mama aja yang ke sana!" ucap Jason tiba-tiba.
Dukk,
"Aww, ashh!"
"Kenapa Nak?" tanya Mama Mila yang melihat putranya nampak kesakitan.
"Nggak papa Ma, Jason lagi nggak enak badan aja keknya, soalnya ambeiennya kumat!" ucap Shirleen beralasan, seenaknya saja dirinya mengatakan itu, Shirleen juga tidak sadar, mencari alasan dengan cepat membuatnya asal bicara saja.
Jason melotot tidak percaya, dasar istri durjana, bisa-bisanya ngatain suami ambeien.
"Kamu ada ambeien sayang, sejak kapan?" tanya Mama Mila khawatir, "Makanya jangan diforsir kerjanya, ini pasti karena selalu aja kelamaan duduk."
Duh, salah ngomong kan aku, bisa-bisanya ini mulut kek nggak ada akhlak bener.
Jason diam saja, tidak berniat menjawab, namun matanya mengarah ke Shirleen, mengisyaratkan perhitungan.
Shirleen meneguk salivanya kelat, ini semua gara-gara panik mencari alasan.
__ADS_1
"Nggak parah kok Ma! Tadi udah diobati di rumah sakit!" ucap Shirleen semakin melancarkan kebohongannya.
Jason mengepal, malu sekali kan, kenapa juga haru alasan yang begitu tidak mengena keluar dari mulut Shirleen.
Jason bangkit, "Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja!" ucapnya.
Pemuda itu berjalan menuju lift, dia akan menuju kamarnya dulu saat masih bujang, sebelum dirinya meninggalkan rumah.
"Dasar istri durhaka, bisa-bisanya dia, awas aja nanti biar ku siksa mulut rombengnya itu!" gumam Jason dengan seringainya.
Jason sampai di kamarnya, terlihat banyaknya buku-buku bisnis masih menghiasi kamarnya, buku-buku itu memang sengaja dirinya simpan sebagian di kamar, dulu semenjak belum mengenal Shirleen, saat tidak sekolah ataupun nongkrong dengan ketiga sahabat minim akhlaknya, Jason selalu saja menyempatkan diri untuk membaca, anak itu memang mudah menyerap segala pelajaran, wajar saja dirinya menjadi pebisnis yang sukses di umur yang masih sangat muda.
"Buku-buku ini bagai hukuman yang mengantarkanku pada kesengsaraan." Jason bergelut pada pemikirannya sendiri.
Namun karena buku-buku inilah kau bisa menjadi penguasa seperti sekarang...
Jason mengedarkan pandangannya saat mendengar suara yang persis seperti suaranya, terdengar dalam namun berbeda pendapat dengannya.
Jason duduk di ranjang king size miliknya, menatap puluhan piala dan piagam penghargaan di lemari hias, yang dirinya dapatkan semasa sekolah dasar sampai kelas dua SMA.
"Aku menatap semuanya, benar tidak ada kebahagiaan melihat semua itu, hampa, karena bukan itu yang aku mau!"
Tapi karena semua itu jualah orang bisa mengenalmu dengan begitu banyak kelebihan, begitu banyak prestasi yang kau gapai, sehingga orang begitu banyak yang mengagumimu, tanpa sadar meskipun kau tidak mau, kau tidak menyukai hidupmu dulu, namun kau perlu tau banyak orang yang sangat berterimakasih karena kau sangat menginspirasi mereka.
"Aku tidak menyukai hidupku dulu!" ucap Jason, dirinya bagai terus melawan suara itu, "Aku tidak suka!" Jason menutup telinganya, berharap suara yang bertentangan dengan apa yang dirinya ucapkan itu bisa segera pergi.
Kadang yang tidak kau harapkan, namun sebenarnya hal itulah yang membawamu pada sebuah kesempurnaan.
"Tidak!"
Kau sudah berhasil atas hidupmu sendiri, kau sudah bisa mencapai apa yang bahkan orang lain pun belum tentu bisa mencapainya. Bukankah itu terdengar sangat luar biasa, bukan hanya terdengar, kau tau itu sungguh benar-benar luar biasa.
Jason masih menutup telinganya, berusaha menghindari suara yang sebenarnya adalah suara hatinya sendiri, dia bagaikan berhalusinasi, karena yang sebenarnya hatinya memang sudah benar-benar menerima segala yang terjadi padanya, Jason sudah ikhlas meski ia masih juga meragu, dan yah ada ego yang juga masih menguasai pikirannya.
Bersambung...
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, and Vote !!!