
Ujian Nasional telah usai, Jason bergegas pulang kerumah, ia tidak sabar karena Shirleen menelponnya tadi untuk segera pulang kalau ujiannya sudah selesai.
Walau tidak ingin berharap banyak, namun ia juga sedikit berpikiran kalau Shirleen akan memberikan sesuatu padanya, entahlah karena dari nada bicara Shirleen saat menelpon ia seperti bisa membaca sesuatu.
Namun di perjalanan, mobil mewahnya itu malah ditabrak oleh seorang pengendara motor dan hal itu membuatnya dalam kemarahan, Jason masih tetap sama jika tidak berada di dekat Shirleen, sangat susah mengendalikan diri.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, memakai masker dan topi sebelum turun untuk melihat keadaan mobilnya.
"Mas, maaf Mas, suami saya sedang terburu-buru, anak kami demam, kami harus segera membawanya ke rumah sakit..."
"Sshhutt, udahlah Sri, biar gue yang minta maaf" ucap Dareen, ia tidak rela jika Sri meminta maaf karena kesalahannya. "Saya minta maaf Mas, saya beneran nggak sengaja, sekiranya kalau ada yang butuh di ganti nanti saya akan ganti"
Dareen tadinya baru saja pulang sekolah, ia juga diminta pulang cepat oleh Sri dan Ibunya untuk membawa Fahira ke rumah sakit, Bapaknya sedang di perkebunan, namun setelah di hubungi ternyata ponsel Pak Safar tertinggal di nakas kamar.
Jason memejamkan matanya, meredam segala amarah yang sempat hampir memuncak tadi.
"Mas Dareen, gak papa kasihan mobil Mas ini jadi penyok, eh kok nggak ada bekas sama sekali padahal kita ajah sampe lecet gini lho Mas" ucap Sri dengan polosnya, ia mengira mobil pemuda dihadapannya ini pasti penyok karena terhantam body motor Dareen tadi, tapi setelah ia perhatikan kenapa bisa seperti tidak membekas sama sekali.
Dia saja sampai terjatuh bersama Dareen tadi, beruntung Fahira ia dekap erat jadi tidak terjadi apa-apa dengan Fahira, hanya Sri dan Dareen yang terlihat mengalami luka ringan.
Dareen seketika menoleh ke arah pandang Sri, benar saja mobil yang tidak sengaja ia tabrak tadi tidak penyok bahkan tergores pun tidak, padahal jelas-jelas ia tadi menabraknya.
Ah syukurlah seenggaknya gue nggak perlu ganti rugi karena mobil nih orang lecet.
Jelas saja tidak akan ada bekasnya, karena mobil yang sedang Jason kendarai saat ini, kebetulan adalah salah satu mobilnya yang sudah di design anti peluru, jadi hanya hantaman seperti itu tidak akan berpengaruh.
"Kalau jalan itu ati-ati, lo nggak bisa ngebut kek gitu meski lo sedang buru-buru, bukan cuma bahaya buat lo, tapi juga bisa bahayain pengendara lainnya, lagian lo bawa bayi kek gini, nyetir yang tenang" ucap Jason, nampaknya Yudha benar semenjak menikah dengan Shirleen, Jason sudah bisa mulai peduli antar sesama.
"Iya Mas..." ucap Dareen, ia tidak akan melawan karena ia mengakui kalau ia memang salah.
"Hemmm"
Jason masuk lagi ke mobilnya, sungguh sulit mengendalikan amarah, tapi tak apa ini demi istrinya, istrinya itu tidak suka kekerasan.
Saat ia hendak menjalankan nobilnya, ia melihat pasangan yang menabrak mobilnya tadi sedang dalam kesulitan karena sepertinya terjadi sesuatu dengan motornya, ia menghela nafasnya lagi, lalu kembali turun menghampiri.
"Ikut gue, biar gue antar"
"Aahh tidak usah repot Mas, saya rasa di dekat sini ada bengkel, ini cuma sebentar" tolak Dareen tidak nyaman.
"Anak lo lagi sakit dan lo malah masih bisa nunggu motor lo dibenerin, lo kali yang sakit" protes Jason.
"Ah iya Mas, tapi apa nggak ngerepotin ?" tanya Sri.
"Ayo ikut gue" ajak Jason.
"Tinggalin aja motor lo disitu nanti biar orang gue yang urus" lanjut Jason lagi.
Dareen masuk bersama Sri dan Fahira, awalnya ia ingin menemani Sri duduk di kursi belakang. tapi sebuah ucapan dari pemuda yang ditabraknya itu membuatnya beralih duduk ke depan.
__ADS_1
"Emang kalian kira gue supir kalian"
Mobil Jason mulai merayap menuju rumah sakit, tidak ada suara apapun setelahnya, karena Sri dan Dareen memilih diam, sementara Fahira terus saja tertidur dengan badannya yang masih panas.
Sebuah panggilan telpon dari Shirleen membuyarkan keheningan, Jason menerima panggilan istrinya itu yang sudah tersambung pada head unit mobilnya.
"Ya By..."
^^^"Assalamualaikum Papa..."^^^
"Ah iya lupa, waalaikum salam Mama..."
"Kenapa By ?"
^^^"Kok belum sampai kamunya ?"^^^
"Ini masih di jalan, apa sih padahal tinggal bilang aja, aku udah penasaran"
^^^"Iihh kan kalau di bilang bukan kejutan namanya, aku sama anak-anak nungguin ini"^^^
"Iya nanti yaaa, aku masih ada urusan sedikit, mana jagoan papa, papa mau denger suaranya ini"
^^^"Ini Papa, ayo dek heeh heeehh biasanya kamu ada suaranya, apa mau mama cubit biar nangis"^^^
"Ya udah nanti aku langsung pulang kalau urusannya udah selesai"
"Daaahh jagoan..."
Dareen dibuat melongo oleh percakapan singkat pemuda di sampingnya ini dengan entah siapa di seberang telepon.
Ia tidak ingin berpikiran buruk, namun apa daya ia yang masih sering khilaf ini kadang suka melupakan batasannya dalam menilai sesama manusia.
"Pacarnya ya Mas" tanya Dareen, yang ternyata tidak bisa menahan gejolak kekepoannya.
"Istri gue" singkat Jason.
"Istri ? Maksud Mas, Mas sudah menikah ?" tanya Dareen lagi.
"Lo juga udah nikah kan, malah udah punya anak" ucap remeh Jason.
"Heemm iya juga sih, Mas juga udah punya anak yaaa ?"
"Iya istri gue baru ngelahirin sekitar dua bulanan"
"Ooohhh" Dareen mangut-mangut seolah mengerti, padahal di pikirannya malah bersuudzon karena ia menebak pasti pacar pemuda di sampingnya ini hamil di luar nikah, lalu mereka menikah dan punya anak, dasar anak jaman now umpatnya dalam hati.
Astagfirullah istighfar Dareen, Dareen merutuki sifatnya yang masih saja sering khilaf.
"Kenalin Mas, saya Dareen"
__ADS_1
Ciiitttt, mobil Jason terhenti tiba-tiba, dari tadi nama itu terus mengganggu pemikirannya, dimulai saat wanita berjilbab di belakang ini memanggil pemuda di sampingnya ini dengan sebutan Mas Dareen.
"Lho Mas, kenapa berhenti, ada kucing ya" tanya Dareen yang masih dengan keterkejutannya.
Jason memandang lekat pemuda yang bernama Dareen itu, ia kembali mengingat teman masa kecilnya, ada sedikit kemiripan dari wajah mereka, namun nama Dareen kan banyak di dunia ini.
"Siapa nama lo ?" tanya ulang Jason.
"Dareen"
"Maksud gue nama lengkap"
"Kenapa Mas ?" Heran Dareen.
"Jangan banyak tanya, kalau mau jawab ya tinggal jawab"
"Dareen Hanif Akbari"
Dareen Hanif Akbari...
Dareen Hanif Akbari...
Dareen Hanif Akbari...
Nama itu seolah memenuhi kepalanya.
Sama, atau cuma kebetulan aja, gue masih belum percaya, tapi namanya sama banget.
"Lo anaknya Pak Safarudin Ilham ?" tanya Jason langsung pada intinya.
"Iya Mas, kok Mas bisa tau nama Bapak saya ?"
Jason membuka topi dan Maskernya, terpampanglah wajah yang sering mondar mandir di TV maupun sosial media, yang juga Dareen kenali karena ia tau betul siapa pemuda di sampingnya ini.
"Lo..." Dareen tak percaya, ia bisa bertemu Jason hari ini, dulu ia sempat pindah ke Samarinda karena nenek dari ibunya sakit keras, lagi pun Jason sudah tidak bisa bermain dengannya lagi jadi ia tidak terlalu sedih kehilangan sahabat baiknya waktu itu. Ia sedikit kecewa karena orang tua Jason melarang mereka berteman.
"Iya ini gue, udah lama banget yaaa, lo kemana aja gue cariin, terakhir kabar yang gue denger lo pindah ke Samarinda jadi gue kira lo netep di sana" ujar Jason.
"Yah bener, gue emang pindah ke Samarinda, tapi setelah setahun nenek gue meninggal, jadi ya keluarga gue balik lagi ke Jakarta, tapi gue nggak nempatin rumah yang tetanggaan sama lo karena rumah itu udah di jual bokap gue, waah gila keren keren gue sering banget liat berita lo sliweran dimana-mana, pengen sih gue DM IGe lo, tapi aah sudahlah gue takut gak bakal ditanggepin"
Sri hanya melongo melihat apa yang telah terjadi di hadapannya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1