Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Salam perpisahan yang memilukan.


__ADS_3

"Kakak tidak bisa ikut Ayah kalau hari ini, mungkin besok-besok bisa, Kakak harus kerja!" ucap Misca, tiba-tiba dirinya ingat akan sesuatu, Misca sudah berjanji untuk menyelesaikannya supaya mendapatkan upah berupa uang, jadi ia meminta maaf pada Ayahnya karena belum bisa pergi menginap.


"Nanti akan saya antarkan jika Non Misca sudah selesai tugasnya Tuan." ucap Ipah.


"Tugas apa?" tanya Athar.


"Hanya menyiram kebun setiap pagi, Nona Shirleen mengajarkan Non Misca cara mendapatkan sesuatu dengan bersyarat." jelas Ipah.


"Ohh, tapi tidak berat kan." selidik Athar.


"Tidak Tuan, Non Misca juga nampak senang melakukannya."


"Iya Ayah, Kakak bisa sambil main air, ternyata menyiram tanaman itu menyenangkan, kata Bi Ipah sebentar lagi kebun Bunda panen." jelas Misca antusias.


"Benarkah!" tanggap Athar, "Ya sudah, tapi antarkan dia yah kalau tugasnya sudah selesai, meski cuma satu hari saja." pinta Athar.


"Baik Tuan."


Hari sudah berlalu, sudah lewat tiga hari dari hari dimana kejadian yang menimpa Lisa, dan dikabarkan hari ini adalah sidang pertama jerat kasus yang menimpa Bayu Lesmana dan Gilbert Cowan.


"Tuan Muda berkenan hadir?" tanya Roy, saat ini mereka sudah berada di kantor, dan Roy baru saja selesai membacakan jadwal Tuan Mudanya.


"Entahlah, bagaimana denganmu?" tanya bakik Jason.


"Aku pastikan dia akan mendapatkan balasan yang setimpal, katakan kau mau apa?" tanya Jason lagi. Melihat mata Roy yang memanas tentulah Jason tau begitu pedih jika mengingat lagi apa yang dilakukan Tuan Gilbert.


"Aku sudah iklhas Tuan Muda!" jawab Roy, yah tidak baik terlalu menyalahkan keadaan, tidak baik menghakimi, biar Tuhan yang membalasnya nanti di Akhirat sana.


"Hemm, kau memang punya hati seluas samudra!" puji Jason.


Roy tertunduk, entahlah apa benar dirinya begitu?


"Tidak apa Roy, aku akan membalaskannya untukmu, kau tidak perlu takut akan dosa, biar aku saja yang menanggungnya." ucap Jason lagi.


"Tidak Tuan Muda!" sanggah Roy.


"Bahkan sekarang kau sudah berani mencegahku, ada apa denganmu Royand?" tanya Jason.

__ADS_1


"Maksud saya, biarkan hukum yang mengatur segalanya, maaf Tuan Muda saya hanya tidak ingin Tuan Muda mengotori janji Tuan pada Nona Shirleen." ucap Roy mengingatkan.


"Aku tidak mengingkari janji, karena ini permintaan istriku, dia ingin Gilbert dihukum seberat-beratnya dan kau tau kan apa yang istriku mau pasti akan selalu aku kabulkan." terang Jason.


Roy menarik nafasnya dalam meski sesak yang kini ia rasakan. "Baiklah Tuan Muda, saya setuju apapun yang akan Tuan Muda lakukan." ucap Roy pada akhirnya.


"Siapkan segalanya!" titah Jason.


"Baik Tuan Muda."


Athar sedang sibuk-sibuknya kala Misca datang mengunjungi kedainya.


"Ayah..." seru gadis kecil itu sembari berlari ke arahnya.


Athar menghentikan kegiatannya, menyambut putrinya itu ke dalam pelukan.


"Kakak hari ibu nginep Yah!" ucap Misca mengatakan tujuannya.


"Oh ya, bagus dong, bisa seharian bareng Ayah."


"Iya Ayah, seneng deh."


"Iya Tuan, besok jam tiga sore aku akan menjemput Nona Misca kembali." jelas Ipah.


"Yah baiklah."


"Ayah selesaikan ini dulu yah, Misca duduk dulu sebentar."


"Oke!"


Jason dan Roy sudah datang di pengadilan Negeri, dilihatnya Bayu Lesmana yang sepertinya belum menyerah, terbukti dari pengacara yang dirinya sewa, pengacara kondang itu tampak antusias karena sebanyak yang Jason ketahui pria paruh baya itu tidak pernah gagal akan kasus yang ia tangani, meski sudah runyam sekalipun.


Namun bukan Jason namanya jika bisa dengan mudah membiarkan semua itu, bisa dipastikan bahwa tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Penjara seumur hidup bagi Tuan Gilbert serta hukum mati untuk Bayu Lesmana, sudah ada di kepala Jason dan tidak akan meleset.


"Apa saya perlu mengatasinya Tuan?" tanya Roy karena melihat arah pandang Tuan Mudanya.


"Tidak perlu!"

__ADS_1


Saat mereka sedang menunggu, ternyata sebuah kebetulan, Riska, kakak sulung Athar baru saja keluar dari ruang sidang, dengan tangan diborgol menuju bilik sel tahanan.


Ada Rendi dan juga Delia, keduanya pernah ia jumpai di rumah sakit.


Melihat kehancuran, Jason selalu saja tepat sasaran.


Yah hari ini adalah sidang putusan terakhir untuk Riska, dirinya terbukti bersalah dan harus menanggung hukuman kurungan tiga tahun enam bulan, Riska nampak lega, ia menerimanya, apalagi kemarin sebelum sidang ia sempat dipertemukan dengan Tiara, Rendi sangat baik, meski awalnya kesalahan terletak pada Rendi yang menyebabkan rumah tangga mereka hancur, namun tidak bisa dipungkiri bagi Riska saat ini Rendi adalah mantan suami yang baik.


Terbesit rasa ingin bersama lagi bagi Riska, namun Rendi dengan tegas menolak meski pria itu tidak mengatakannya, karena sikap Rendi yang menjaga jarak tentulah membuat Riska tau kalau Rendi tidak bisa menerimanya lagi.


Menyesal? Tentu ada! Tapi Riska mencoba menerima semuanya, dan hukuman tiga tahun setengah itu akan ia pergunakan sebaik-baiknya untuk membenahi diri.


"Terimakasih Mas, sudah mendukungku sampai sejauh ini." ucap Riska, dirinya tersenyum samar, ingin sekali meraba wajah pria yang pernah sangat ia cintai itu, namun itu tidak mungkin lagi.


"Yang sabar ya Ris, aku berharap hidupmu akan lebih baik setelah keluar dari sini." ucap Rendi. Tidak ada kontak fisik, Rendi menghindari itu, rasa cinta untuk Riska masih ada dan sebisa mungkin ia kubur dalam supaya tidak sakit karena terlalu memikirkan.


"Sampaikan permintaan maafku untuk orang tua Mas, maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi mantu yang baik, tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk cucu mereka." lirih Riska.


"Mereka sudah memaafkan kamu Riska, tidak usah dipikirkan, jaga dirimu." ucap Rendi, kemudian pria itu berlalu pergi, meninggalkan Riska dengan tangis pilu.


"Kak Riska jangan nangis, harus semangat, Del yakin Kakak bisa ngelewatin ini meski tidak mudah, Kakak kuat, pasti!"


"Iya Del, makasih juga yah, kamu sudah selalu ada di samping Kakak, sampaikan juga salam kakak untuk Athar, dia pasti sangat sibuk dengan usahanya saat ini, katakan padanya Kakak akan selalu berdoa untuk kebaikannya." ucap Riska.


"Iya kak, akan aku sampaikan!" lalu keduanya berpelukan, "Semangat, senyum, aku sama yang lainnya pasti akan sering-sering ke sini jengukin Kakak." ucap Delia sembari menyeka air matanya.


"Jaga diri kakak baik-baik yah, kami semua sayang Kakak!" ucap Delia lagi.


"Kalian juga, selalu jaga kesehatan, hidup rukun, kita sudah yatim piatu, kalian harus mufakat jangan ada yang bertengkar, jangan ada saling iri dan benci, Kakak berharap banyak semoga kalian semua selalu bahagia." ucap Riska.


Riska dibawa ke sel tahanan, salam perpisahan yang sangat memilukan itu mungkin akan selalu Riska ingat di seumur hidupnya.


Bersambung...


*


*

__ADS_1


*


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2