Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Meminta izin Jason.


__ADS_3

Dengan wajah yang dibuat senetral mungkin Jason turun kebawah hendak sarapan, disana sudah ada Ipah dan Misca, sementara Shirleen, istrinya itu mungkin sedang bersama Jacob namun entah kemana karema di kamar tadi ibu dan anak itu sudah tidak ada.


"Kemana istriku ?" tanyanya pada Ipah tanpa menoleh lawan bicaranya.


"Nona sedang di kamar mandi Tuan Muda, tadi den Jacob abis pup lagi," ucap Ipah "Tuan Muda mau sarapan pakai apa ?" tanya Ipah lagi.


"Tidak perlu, biar aku saja." jika bukan Shirleen yang menyiapkan makannya, Jason tidak mau sama sekali dilayani orang lain, ah iya satu lagi hanya Roy yang bisa, jadi kalau bukan Shirleen atau Roy, Jason lebih baik sendiri.


Jason mulai menyendokkan bubur ayam beserta topingnya dan tak lupa menambahkan sedikit kerupuk, ah inilah bahagianya kalau punya istri, apa lagi Shirleen tau betul bagaimana memanjakan lidahnya.


"By, udah makan kamu, siapa yg ngambilin ?" tanya Shirleen sembari menggendong Jacob.


"Sendiri." singkat Jason.


"Oh," Shirleen mengangguk, "Ipah, tolong kamu bawa Jacob sebentar yaaa, biar Misca sama aku aja." ucap Shirleen.


"Iya Nona." Ipah pun mengambil Jacob di gendongan Shirleen.


"Kakak makannya yang banyak ya." ucap Shirleen pada Misca yang sedari tadi tampak diam saja.


"Iya Bunda." sahut Misca.


Lalu Shirleen pun ikut sarapan bersama, setelah sarapan ia mempersiapkan pakaian suaminya untuk ke kantor, suaminya juga bilang bahwa malam ini ia akan lembur lagi.


Besok hari kelulusan, sekali lagi Jason meminta Shirleen saja yang menghadiri acara di sekolahnya, ia malas melibatkan orang tuanya lagi.


"By, ada yang mau aku omongin." ucap Shirleen.


"Apa ?" tanya Jason "Kalau soal yang tadi aku minta maaf By, aku beneran nggak sengaja, tuh bayi udah bisa ngerangkak gitu sejak dari kapan, perasaan kemaren pagi belum ?" sambung Jason.


"Yah baru inilah tadi, aku juga kaget" ucap Shirleen.


"Lah iya makanya aku kaget beneran, maaf yah sayangkuh" ucap Jason penuh cinta ia mengecup singkat kening wanitanya itu.


"By...!" seru Shirleen lagi.


"Ya."


"Sini deh." Shirleen menepuk bagian ranjang disampingnya, menyuruh Jason untuk duduk bersama.


"Kenapa By, nanti malam aja ya, ini masih pagi aku juga udah keramas." ucap Jason, sebelah matanya mengedip genit pada Shirleen.


"Ih dasar otak mesum, pikiran nggak jauh dari selang*angan." umpat Shirleen.

__ADS_1


"Ya lagian ngapain ngajak duduk dekatan, morning kiss udah, apa lagi kalau bukan..."


"By..." Shirleen langsung saja memotong ucapan Jason sembari memelototkan mata, suami berondongnya itu benar-benar susah untuk diajak serius, tapi jika sudah serius susah pula ngajakin becanda.


"Apa sih By" manja Jason, namun kakinya tetap melangkah untuk kemudian duduk di samping Shirleen.


"Ini tentang Misca." ucap Shirleen memulai pembicaraan seriusnya.


"Kakak kenapa ?" tanya Jason, ia juga mulai serius.


"Dia, dia mau ketemu ayahnya lagi." ucap Shirleen.


Jason menghela nafasnya, ah iya mungkin kemaren bahkan Misca belum puas memandangi wajah ayahnya dibalik kaca rumah sakit.


"Lalu ?" tanyanya.


"Apa boleh, Ipah membawanya menemui Mas Athar ?" tanya Shirleen hati-hati.


"Heehh" desah Jason lagi. "Oke, gak masalah, cuma kamu jangan ikut ya." ucap Jason.


"Iya By, aku dirumah aja."


"Nah ini pasangin ?" ucap Jason, tangannya menggantungkan sebuah dasi supaya Shirleen bisa memasangkannya.


"Besok juga jangan lupa dateng" ucap Jason lagi.


"Iya By, jam sembilan kan ?" jawab Shirleen.


"Iya, daah" pamit Jason.


"By, tunggu tunggu." cegah Shirleen, Jason selalu saja begitu, acap kali melupakan sesuatu.


"Apa By..." Belum sempat Jason melanjutkan katan-katanya, Shirleen sudah mengambil tangannya lalu menciumnya


"Aku kan ingin jadi istri yang baik." ucap Shirleen.


Jason tersenyum puas, ah manisnya.


"Cup" mencium kening Shirleen agak lama, ada rasa damai di dalam hati saat ia melakukan hal ini saat berpamitan, sayang sekali ia sering melupakan ritual yang padahal jika dilakukan juga bisa menjadi ladang pahala ini pikirnya.


"Aku pergi dulu By" pamit Jason.


"Iya By, hati-hati."

__ADS_1


Sementara di sebuah Rumah Sakit, Delia, Riska, dan Rendi sedang kebingungan, pasalnya Athar di berikan pelayanan tak tanggung-tanggung tentang perawatannya selama di rumah sakit ternama tersebut.


"Menurutmu siapa Mas yang bayarin ?" Tanya Delia berbisik pada Rendi, ia benar-benar penasaran siapa dibalik semua itu, siapa orang baik yang telah menolong adiknya itu.


"Aku nggak tau Del, gak bisa nebak" jawab Rendi.


Sementara Riska sedang duduk di sofa, memperhatikan Athar dari kejauhan, entah kapan Athar akan sadar dari tidur lamanya.


Dokter yang tadi baru saja merawat luka Athar, bahkan sepertinya Dokter yang dikirimkan merupakan Dokter dari luar negeri, semua peralatan medis disini sangat canggih, Delia saja enggan untuk sekedar memegangnya, takutan karena pasti nilai harganya tidak main-main.


"Del kamu pulang saja dulu, gantian sama yang lain, yang lain bahkan belum pernah nungguin Athar sampai kek kamu, palingan cuma nengok sebentar, kasihan Mas Ilham sama anak-anak kamu, kamu bahkan udah berapa hari nggak pulang." ucap Rendi pada Delia, selama ini hanya Delia dan Riska lah yang selalu menjaga Athar.


"Tidak Mas, kalau aku pulang bagaimana dengan Athar ?" ucap Delia, ia memang menganggap Riska bagai ada dan tiada, ia tidak bisa menyerahkan Athar hanya pada Riska, sementara Rendi biasanya kalau pagi sampai sore akan pulang untuk bekerja.


Riska ingin sekali mengatakan kalau dirinyalah yang akan menjaga Athar selama Delia pulang, tali lidahnya justru kelu, ia tidak mampu menghadapi kemarahan Delia lagi.


"Kan ada Riska Del selagi nunggu yang lain gantiin kamu." usul Rendi.


"Dia ?" ucap Delia remeh, "Aku tidak yakin dia bisa menjaga Athar dengan benar." singgung Delia, berbicara agak keras sehingga Riska bisa mendengar jelas kata-katanya.


Riska membiarkan, bagaimana pun disini dirinyalah yang bersalah, ah sebenarnya dirinya tidak sengaja namun semua itu terjadi jelas karenanya.


"Lalu gimana ?" tanya Rendi.


"Ya nggak gimana, biarlah aku disini, Mas Ilham bukan anak kecil lagi, dia cukup mengerti akan keadaannya, aku sudah cerita semalam lewat telpon dengannya." ucap Delia, yah ia semalam memang menelpon suaminya untuk mengabarkan perihal kondisi terkini Athar, ia juga sudah meminta izin untuk tidak bisa pulang terlebih dahulu, Athar baru saja di pindahkan ke rumah sakit besar ternama, banyak hal yang mesti diurus mengingat ialah sebagai perwakilan keluarga.


"Ya sudah kalau begitu, aku hanya mengingatkan saja Del." ucap Rendi.


"Iya tidak apa Mas, aku mengerti."


Riska berjalan cepat menghampiri brangkar, entah hanya halusinasinya saja karena terlalu berharap Athar segera bangun, tapi tadi rasanya ia memang melihat Athar menggerakkan jarinya.


"Thar, ini kakak Thar..." lirihnya, mengusap puncak kepala adik bungsunya.


Delia yang melihat itu pun segera menghampiri juga, Athar memang menggerakkan jarinya, ia juga sudah melihatnya.


"Dek..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2