Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kekhawatiran Angga.


__ADS_3

"Kamu mau makan pake apa By ?" tanya Shirleen, saat ini mereka sedang makan siang, Jason baru saja pulang dari kantor, seperti biasa semenjak menikah ia memilih makan siang di rumah saja.


"Tahu itu enak keknya By!" ucap Jason.


Shirleen sedikit bingung, karena biasanya sang suami selalu lebih memilih protein hewani dari pada protein nabati.


Shirleen menambahkan sedikit tahu bacem yang ditambahkan sedikit sambal, biasanya jika ia masak yang seperti ini, Jason hanya mengambil ayam goreng, sambal dan lalapan saja, untuk tahu atau tempe dua bahan makanan itu bahkan jarang sekali dilirik.


"Apa enak ?" tanya Shirleen.


"Yah, rasanya tidak buruk juga." jawab Jason.


"Kamu sudah mau makan tahu By?" tanya Shirleen lagi.


"Entahlah, rasanya tadi saat aku melihat itu, aku tertarik saja, ternyata rasanya tidak buruk."


Apa pengaruh ngidam bahkan bisa merubah selera makannya.


Dia bahkan sekarang lebih suka makanan kampung yang sederhana dari pada makanan restoran.


"Kenapa By, kok gitu ngeliatinnya, kamu nggak makan?" tanya Jason, ia melihat Shirleen yang dari tadi hanya mengaduk-aduk nasinya.


"Nggak papa, aku sedikit kenyang." Shirleen bahkan sudah merasa kenyang duluan saat melihat Jason makan, suaminya itu yang dari semenjak pertama bertemu tidak pernah sekalipun melihat Jason makan menggunakan tangan, dan kini ia melihat itu terjadi, dengan begitu nikmat Jason melakukannya.


"Aku baru tau kalau makan begini sungguh nikmat." ucap Jason, ia curiga Shirleen pastilah sedang memperhatikan cara makannya.


"Yah, memang nikmat." ucap Shirleen.


"Permisi Tuan Muda, di luar ada Tuan Angga, katanya ingin bertemu." ucap Ipah, ia menghampiri Tuan Mudanya di ruang makan karena Angga tadi mengatakan kalau harus segera bertemu dengan Tuan Mudanya.


"Suruh saja dia masuk, temui aku disini." jawab Jason.


"Baik Tuan Muda."


Ipah lalu menyuruh Angga untuk masuk dan langsung saja menemui Tuan Mudanya.

__ADS_1


"Lagi pada makan nih." antusias Angga, ia mencomot ayam goreng yang tersaji di meja makan.


"Makan Ga, ayok!" ajak Shirleen, Jason ? Hah dirinya merasa tidak terganggu, cukup tau saja akan kehadiran Angga, sayangnya ia tidak belajar untuk penyambutan tamu yang baik.


"Makasih Kak, tadi udah." tolak Angga, padahal berharap Shirleen menawarinya untuk yang kedua kali.


"Yakin, ini enak lho." tawar Shirleen lagi.


"Iya deh kak!" ucap Angga, heemm karena memang itulah yang ia mau sebenarnya.


Angga mengambil piring dan lalu nasi serta lauk pauk, ia memang belum makan sedari pagi, karena sibuknya suatu urusan, namun sayangnya ia bahkan lupa tujuannya kerumah Jason saat ini.


"Afik mana Ga, biasanya gak pernah ketinggalan kalau ada kamu?" tanya Shirleen pada Angga yang tampak lahap memakan masakannya.


Angga langsung saja menghentikan makannya, mengingat nama Afik ditanyakan, itulah tujuannya datang kesini.


"Junedi, Afik di kantor polisi!" ucapnya pada Jason.


Jason juga bereaksi, ia pun seketika langsung saja menghentikan kegiatan santap siangnya.


"Kantor Polisi?" Shirleen mengulang apa yang dikatakan Afik, kenapa bisa begitu.


"Iya kak, jadi aku itu kesini mau ngobrolin itu sama Jason, si Afik kena kasus penganiayaan, Ayahnya gak bisa dateng buat ngurusin masalahnya, udah ada pengacaranya sih yang urus tapi ya gitu deh kayaknya emang udah disetting sedemikian rupa, eh lo tau Davin Azka Wirawan?" jelas Angga.


Jason mengangguk, ia cukup familiar dengan nama itu meski belum pernah melihat orangnya secara langsung, orang tuanya perusahaan Pak Wirawan sempat mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, dan yah beberapa minggu kemarin sebelum Roy berangkat menjelajah, perusahaannya memang sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Wirawan, baginya perusahaan itu cukup berpotensi.


"Kenapa ?" tanya Jason.


"Orang yang dianiaya Afik itu ya itu." sebut Angga.


Jason menatap heran, aniaya ! Apa ia tidak salah dengar ?


"Iye si bijak dan cinta damai kadang kan ada juga ketika begonya." ucap Angga, sebenarnya ia tadi sudah mendengar sendiri dari mulut Afik sebuah penjelasan singkat namun padat dan jelas, disitu dapat ia simpulkan bahwa sebenarnya Afik tidak sepenuhnya bersalah, ia hanya tidak suka ada yang memukul wanita, namun rupanya salahnya karena dirinya sekarang harus berurusan dengan keluarga Wirawan, anak sang petinggi itu sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit karena ngilu di bagian asetnya yang tidak kunjung reda.


Afik mengatakan bahwa bukan dirinya yang berbuat hingga menyebabkan begitu, namun pacar dari Davin itulah yang berbuat.

__ADS_1


Apa yang dijelaskan Afik tadi di kantor polisi begitu jualah yang dijelaskan olehnya pada Jason.


"Kenapa bisa Afik terlibat?" tanya Jason sekali lagi, bukankah tadi Angga bilang Afik hanya memukul para pengawal saja.


"Ya itu, cuma karena kelahi sama pengawal si Davin, tapi hebat juga lho, tadi aku liat korbannya si Afik malah babak belur gitu padahal badannya lumayan gede, gue tanya apa bener dia yang nuntasin, katanya sih iya tapi kok gue nggak percaya." oceh Angga.


"Heh, kenapa nggak dimatiin aja sekalian?" ucap Jason, ia seperti sangat menyesal kenapa korban Afik hanya sebatas luka-luka.


"Gile lu Ndro, kek gitu aja Afik udah mau di penjarain, gue kesini tuh mau nanya sama lo, sekalian mau minta tolong, lo urus tuh temen lo." ucap Angga.


"Gue bisa apa ?" tanya Jason sok polos padahal hanya untuk menjaga kewarasannya dihadapan Shirleen, tangannya sudah gatal ingin bermain.


Sudah lama sekali kan, tapi sayangnya ia sudah berjanji.


"Apaan kek serah lo, pokoknya ya jangan sampai Afik kena masalah, gue nggak mau tau." ucap Angga.


"Ya udah !" singkat Jason.


"Apanya yang ya udah ege ?" tanya Angga, kenapa sih selalu saja begitu, ia diminta mengerti bahasa yang kadang otaknya aja nggak nyampe.


"Ya udah." ucap Jason lagi, kali ini ditambah dengan kedipan mata.


Angga yang memang tidak mengerti bahwa Jason sedang menjaga hati Shirleen pun mengangguk saja, sudahlah ia tau Jason akan melakukan apapun untuk seorang sahabat, apa lagi sahabat yang sedang dalam kesusahan.


"Nggak bisa ya dijelasin bener-bener, lagian pasti ada saksi kejadian atau bukti apa gitu, yang bisa dijadikan pembelaan." ucap Shirleen.


"Haaahh." Angga menghela nafasnya berat, inilah permainan bisnis, sebenarnya jika Angga telusuri Davin mungkin hanya ingin membalas perbuatan kekasihnya, bisa jadi atas dasar tidak terima dipermalukan di hadapan umum atau mungkin saja cemburu dengan Afik, sedang Afik hanya kena getahnya saja, dan sayangnya karena pertunangan Davin dan wanita bernama Zarin itu adalah sebuah kesepakatan bisnis, disinilah Afik harus merasakan kesakitan.


Angga sudah panik duluan mengetahui Afik tertimpa kasus penganiayaan, sedang yang sedang terlibat kasus nampak santai saja, tidak ada gentar sedikitpun di kantor polisi sana.


Jika bukan karena melihat Bundanya Afik yang sempat menangis di pojokan, untuk apa juga Angga peduli dengan orang yang sama sekali tidak peduli dengan diri sendiri. Sungguh Afik memang seakan menganggap remeh kasus yang menimpanya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2