
"Ya Tuhan, Zalin!" pekik Zalfa histeris.
Wanita paruh baya itu mendekat, tangannya terangkat menyentuh pipi Zalin, dipandangi wajah itu, benar! ada kemiripan.
"Namamu Zalinda?" tanyanya.
"I iiya Nyonya!" jawab Zalin.
Afik sudah terduduk di sofa, lututnya lemas seolah tidak mampu menahan bobot tubuhnya.
"Apa dia Ibumu?" tanya Zalfa menunjuk Bi Adin.
"Iya."
"Dan kau..." tunjuknya pada Bi Adin, "Apa dia benar anakmu?"
Bi Adin menghela napasnya berat, wanita tua itu menunduk dalam, rasa takut dan khawatir membuat sebak di dadanya.
"Diammu membuat aku yakin akan jawabannya."
"Saya tidak bermaksud menyembunyikan apapun Nyonya."
"Aku mengerti!"
"Mari kita bicarakan ini!"
Zalfa mengajak Bi Adin menuju suatu ruangan, ia juga menyuruh Afik untuk membangunkan suaminya lalu segera menyusulnya ke ruangan pribadi mereka.
...***...
"Hai Jio..." manja Shakira, wanita itu membelai lembut pipi bayi mungil anak dari Bosnya itu.
"Kau bisa membiasakannya dengan panggilan Bunda untukmu!" ucap Shirleen, "Aku tidak keberatan, mereka juga anak-anakmu!"
"Terimakasih Nona!" sahut Shakira.
Diliriknya Jill di box bayi sebelahnya, bayi mungil itu tampak pulas tertidur.
"Bagaimana kondisi Jio?" tanya Shakira.
"Dia sudah baik-baik saja untuk saat ini, semoga tidak terjadi kebocoran jantung lagi beberapa tahun ke depan. Namun, Dokter Eri mengatakan meski begitu Jio tetap tidak bisa beraktivitas berat yang membuatnya terlalu lelah, dia masih terus dalam penanganan." jelas Shirleen.
"Kau mau gendong?" tanya Shirleen pada Shakira.
__ADS_1
Mata wanita itu yang tidak putus memandang Jio membuat Shirleen menawarkan itu.
"Aku tidak berani."
"Cukup mudah jika kau mau, lihatlah." Shirleen mengambil Jio di dalam box, lalu mulai mendekapnya.
"Anak Mama..." manja Shirleen.
Shakira tersenyum hangat, kadang masih sesekali berpikir andai saja. Benar kata Roy, ikhlas itu tidak segampang apa yang diucapkan, buktinya dirinya, meski mengatakan ikhlas, meski bisa tersenyum manis seperti ini, namun bukan berarti dirinya tidak menyimpan kesedihan.
Janin yang mungkin baru berbentuk semacam gumpalan daging di rahimnya itulah yang selalu dirinya rindukan.
"Cobalah." ucap Shirleen.
"Tidak Nona, aku belum berani." tolak Shakira lagi.
"Jio sayang, ini Bunda... Panggilnya Bunda yaaa!" seru Shirleen bagai memperkenalkan lagi Shakira pada Jio.
Bayi mungil itu menggeliat, seketika matanya bertemu dengan mata Shakira.
Air mata Shakira tidak bisa di bendung, dia sungguh menyayangi bayi itu, "Ini Bunda sayang, ini Bunda!" lirihnya menumpahkan segala harunya, kegelisahannya seolah terbayarkan.
Shirleen terharu, keinginannya untuk berbagi kebahagiaan dengan Shakira akhirnya terlaksana, Shakira dilihatnya mulai menerima bayinya.
...***...
"Aku sudah tau, kau seharusnya jujur saja." Ayahnya Afik terlihat puas, hari ini sebuah kenyataan terkuak.
"Aku menemukannya saat kami masih tinggal di kampung halaman suamiku, Pangkalan Bun."
"Saat itu, suamiku yang hanya seorang nelayan menemukannya di pinggiran pantai, kondisinya sangat lemah, kami menduga dia adalah salah satu korban pesawat yang jatuh."
"Kami sudah melaporkan ke rumah sakit untuk menyiarkan berita ini, namun satu minggu berlalu tidak ada tanda-tanda bahwa dia memiliki keluarga, dia juga tidak mengingat namanya, dia tidak mengingat apapun, ada sebuah kalung, bertuliskan nama Zalinda, dari situ aku mengetahui nama anak itu." terang Bi Adin.
"Lalu?"
"Lalu, kami membawanya ke rumah, kami yang merawatnya, sembari menunggu siapa tau ada yang mencarinya, kalung itu sengaja aku sembunyikan, jangan sampai ada pihak yang tidak bertanggung jawab mengaku-ngaku mengenal Zalinda."
"Hemmm, kau tidak berbohong?" tanya Ayahnya Afik.
"Tidak Tuan, suami saya dan seluruh keluarga saya di Pangkalan Bun bisa bersaksi atas kejadian sepuluh tahun lalu."
"Sedikit aneh." ucap Ayah Afik lagi.
__ADS_1
"Karena sudah lebih dari tiga bulan namun tidak ada juga yang mengakui Zalin, saya dan suami yang memang tidak memiliki anak pun memutuskan untuk mengadopsi Zalin, Zalin benar-benar tidak ingat siapa dirinya hingga kini."
"Apa dia pernah mencoba mengingat sesuatu?"
"Saya tidak pernah melihatnya berusaha mengingat sesuatu, dan kami pun tidak punya uang untuk membawanya ke dokter mencoba memulihkan ingatannya."
"Semua keluarga mengetahui bahwa Zalin bukanlah anak kami, namun mereka juga menyayangi Zalin sehingga mereka tidak mempermasalahkan itu."
"Apa Zalin tau kalau dia bukan anak kalian?"
"Tidak Tuan, emmm saya yang salah karena saya dan suami saya tidak pernah mengatakan itu padanya."
"Mengapa?"
"Yah, sudah, tidak perlu kita bahas, kita sudah mengetahui kebenarannya, Bi Adin juga sudah jujur, Bunda rasa tidak lagi ada masalah."
"Yah, kau benar, tapi aku masih tidak percaya, setelah sepuluh tahun berlalu?"
"Maaf Tuan, Nyonya. Apa Zalinda adalah keluarga kalian yang hilang?" tanya Bi Adin menyimpulkan, karena calon majikannya itu kelihatan sangat bahagia bertemu Zalin dan menemukan kenyataan bahwa Zalin bukan anak kandungnya.
"Dia calon menantu kami, anakku Afik dan dia sudah dijodohkan sedari mereka kecil, tepatnya sebelas tahun lalu saat umur keduanya masih tujuh tahun, namanya Zalinda Bianca Putri Darmawan, putri dari almarhum sahabatku Darmawan Adijaya."
"Hari itu, Zalin dan kedua orang tuanya akan berlibur ke Singapura, namun naasnya pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, dan sampai saat ini pun mereka tidak ditemukan."
"Kita harus memperkenalkan Zalin pada keluarga Adijaya Yah, Zalin harus tau identitasnya." ujar Zalfa bersemangat.
Bi Adin menganga tidak percaya, kuasa Tuhan memang benar adanya. Sepuluh tahun sudah berlalu, Zalin sama sekali tidak bisa mengingat di mana keluarganya, dari mana asal usulnya, namun baru dua tahun dirinya menetap di Jakarta, sebuah kenyataan sudah bisa terkuak.
"Maafkan saya Tuan!"
"Sudahlah, tidak apa Bi, kami seharusnya berterimakasih karena Zalin kami bisa di rawat oleh orang yang tepat, baik seperti kalian, izinkan kami berterimakasih secara khusus pada Ayahnya Zalin, suaminya Bi Adin." ucap Zalfa.
Gemuruh di dadanya, tiada hentinya ia berucap syukur atas kepulangan Zalin.
Terimakasih Tuhan, terimakasih sudah membawa anakku kembali, atas kehendak-Mu, atas kuasa-Mu.
"Itu tidak perlu Nyonya, maksud saya tidak perlu sampai begitu, saya yang meminta maaf, karena keterbatasan pengetahuan dan kendala biaya, kami tidak bisa memberikan Zalin kehidupan yang layak, dia harus hidup sederhana bersama keluarga kami dan..."
"Tidak usah dipikirkan, seharusnya kami yang sangat berterimakasih, meski dalam waktu yang sangat lama, kau sudah menjaga Zalin kami dengan sebaik-baiknya."
"Hari itu, bahkan kau tidak rela untuk menjual kalung Zalin, apa yang kau maksud hari itu adalah kalung nama yang kau temukan saat Zalin masih kecil?" tanya Zalfa, sebenarnya dia sudah yakin namun hanya ingin memastikan saja.
"Iya Nyonya, kalung dengan nama Zalinda, saya masih selalu berharap Zalin bisa menemukan keluarganya suatu hari nanti, jika kalung itu dijual, maka harapan saya akan terhenti saat itu juga." ucapnya sembari menahan sesak.
__ADS_1
...Bonus chapter masih berlanjut,...
...Like, koment, and Vote !!!...