Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sesuatu yang tak pernah terbayangkan terjadi.


__ADS_3

Weni sedang berbelanja bulanan di supermarket, andai saja Shirleen tidak mempunyai seorang bayi yang masih rentan diajak keluar rumah pasti ia sudah mengajak hangout sahabatnya itu.


Saat ia sudah selesai berbelanja ia melihat kasir nampak penuh, ternyata disana juga ada dokter yang pernah ia temui untuk diskusi masalah Shirleen, saat ini dokter itu tampak kesusahan entah apa yang telah terjadi di kasir tersebut.


"Permisi bu Dokter, apa ada masalah ?" tanya Weni ramah.


"Kamu kenal saya ?" tanya balik Dokter Wina.


"Eemm saya salah satu orang yang pernah berkonsultasi dengan Bu Dokter" ucap Weni.


"Tuhh denger kan, gak percayaan sih, saya itu masih nyoba buat telpon anak saya tapi emang nggak diangkat dari tadi bukannya saya nggak punya uang buat bayar, saya sudah bilang dompet saya ketinggalan, ini tanyain aja sama dia saya beneran seorang dokter masa iya ada tampang nipunya" ucap Dokter Wina sembari menunjuk Weni seakan meminta dukungan, rupanya ia sempat dikatai kasir tersebut tidak mampu membayar belanjaannya sehingga ia sangat terlihat kesal saat ini, sangat disayangkan sekali supermarket yang lumayan terkenal ini harus dikotori oleh karyawan yang beretika buruk.


"Dik, emangnya muka saya deso banget yaaa, walaupun gitu dia nggak bolehkan seperti itu, jangan salah lho yaaa orang deso juga banyak yang berduit, kaya raya" tanya Dokter Wina.


Weni sempat tidak percaya, apa benar wanita paruh baya dihadapannya ini adalah dokter yang pernah ia temui beberapa hari yang lalu, kenapa sepertinya beda sekali kelakuannya dengan saat wanita ini menjadi dokter kemarin, waktu itu bu Dokter tampak kalem dan tidak banyak bicara.


"Aahh iya Mbak bener beliau memang seorang dokter" ucap Weni meyakinkan.


"Memangnya berapa totalnya Mbak" tanya Weni lagi.


"Eeehh eehh kamu mau ngapain ?"


"Udah Bu Dokter biar saya aja yang bayarin dulu, kasihan itu dibelakang masih antrian panjang" jawab Weni, ia menunjuk dengan matanya memberitahukan apa yang sedang terjadi dibelakang Dokter Wina.


Dokter Wina terbelalak kaget mengetahui apa yang terjadi, ia sudah membuat penuh antrian ternyata.


"Aahh iya, kamu bayar dulu nanti setelah anak saya datang pasti akan saya ganti" ucap Dokter Wina gugup, ia serba salah saat ini.


"Jadi berapa Mbak ?" tanya Weni pada si kasir yang katanya congkak tadi.


"Totalnya tiga juta sembilan ratus"


"Sama ini juga sekalian Mbak punya saya"

__ADS_1


"Dihitung dulu yaaa"


"Jadi total semuanya lima juta dua ratus"


Weni tersenyum ramah, ia kemudian membayar belanjaan dokter tersebut dan sekalian juga membayar belanjaannya sehingga ia lolos tidak perlu mengantri.


Weni kemudian mengantarkan pulang Dokter Wina.


Saat ini hujan sedang lebatnya mengguyur sebagian kota Jakarta, setengah jam berlalu Weni sudah sampai dikediaman Dokter Wina, ternyata Dokter Wina adalah keluarga kaya, terbukti dari kediaman yang sangat mewah serta perabotan berkelas menghiasi rumahnya.


Pemirsa, hujan dengan indentitas tinggi kembali melanda ibukota, himbauan untuk seluruh warga untuk tidak melakukan aktivitas diluar rumah, cuaca ekstrem dengan hujan lebat disertai angin kencang digadang menjadi penyebab beberapa kecelakaan lalu lintas saat ini.


Banjir bandang juga terjadi dibeberapa titik, berbagai akses jalan juga sudah ditutup dan tidak bisa dilewati untuk saat ini.


"Aduuhh ibukota ini memang selalu jadi langganan banjir deh, mana Yudha nggak bisa dihubungi, pasti itu anak belum pulang, entah kemana keluyurannya" ucap Dokter Wina tampak mengkhawatirkan putranya.


"Bi... Bibi..." teriak Dokter Wina memanggil pembantunya. "Eh maaf ya dik, kamu jadi nggak bisa pulang karena nganterin saya" ucapnya pelan pada Weni.


"Tidak apa Bu Dokter, saya akan pulang kalau hujannya sudah agak reda, lagian saya juga bawa mobil tidak apa kalau pulang hujan-hujanan" ucap Weni. Ia sebenarnya tidak nyaman berada dirumah sebesar ini.


Berkat kegigihan dan juga modal yang ia pinjam dari Shirleen ia bisa mendirikan butik Angel's W miliknya sehingga pelan-pelan ia menjadi wanita karier yang sukses seperti sekarang, maka dari itu ia tidak bisa menolak setiap kali Shirleen meminta dan menyuruhnya untuk ini dan itu.


"Eehh ngapain pulang, kamu nggak denger berita tadi, cuaca sedang buruk, diluar sana, coba kamu telpon orang tuamu, bilang kamu tidak bisa pulang dan menginap disini, nanti kalau orang tua kamu tanya kenapa biar saya yang bicara" ucap Dokter Wina, ia tidak tega jika harus menyuruh wanita yang tadi telah menolongnya pulang begitu saja sementara diluar sedang hujan lebat disertai cuaca ekstrem.


"Aahh tidak apa Bu Dokter, saya akan menunggu hujannya reda baru pulang" tolak halus Weni.


"Bi, Yudha tadi sempet pulang nggak ?" tanya Dokter Wina pada pembantunya yang sudah agak lama berdiri mendengarkan perdebatannya dengan Weni tadi.


"Tidak nyonya, den Yudha belum pulang dari tadi, bibi sudah telpon teman-temannya tapi katanya mereka semua tidak ada yang bersama den Yudha"


"Aduuhh dimana lagi itu bocah"


"Kenapa Bu Dokter ?" tanya Weni, sebenarnya ia sudah mengira pasti Dokter Wina mengkhawatirkan anaknya yang bisa ia tebak namanya adalah Yudha, tapi ia hanya ingin sekedar berbasa basi mencari topik untuk dibincangkan.

__ADS_1


"Aah itu dik, anak saya belum juga pulang, entah dimana dia sekarang, dari tadi juga nomornya nggak bisa dihubungi"


Weni mengangguk paham, ia juga memikirkan Bundanya yang mungkin saja sedang melakukan hal sama seperti dokter Wina. Menunggui seorang anak dengan cemasnya.


"Eh ngomong-ngomong panggil saja saya Tante, Tante Wina, saya juga hampir lupa nanyain nama kau siapa, dari tadi kita belum kenalan kan ?" ucap Dokter Wina.


"Saya Weni tante" jawab Weni.


"Waahh nama kita hampir sama, kebetulan banget"


"Iya tante ternyata"


"Nah Weni, kamu istirahat aja dulu sambil hubungin keluarga kamu, bilang kamu nginep dirumah tante, kamu bisa naik ke lantai dua, disana ada kamar terserah kamu mau pilih yang mana, asal jangan yang sebelah kanan paling pertama" ucap dokter Wina.


"Terimakasih Bu eeh Tante" ucap Weni.


"Iya, tidak usah sungkan, senyaman kamu aja" ucap dokter Wina lagi, kemudian ia berlalu pergi yang sepertinya menuju kamarnya juga.


Weni lalu bergegas pergi naik ke lantai dua, ia memasuki sebuah kamar, dan lansung merebahkan dirinya di ranjang. Ia juga sangat lelah saat ini.


Saat matanya hendak terpejam, ia tiba-tiba teringat kalau ia belum mengganti pembalutnya sedari siang tadi, pantas saja area intimnya terasa gerah dan rasanya itu sangat tidak nyaman.


Ia mengambil sesuatu yang dibutuhkannya di tas, lalu dengan mata yang agak mengantuk ia menuju kamar mandi.


Ia memulai ritualnya sebagai wanita yang selalu memuliakan tamu bulanan, ia mulai membersihkan area intinya.


Namun siapa sangka sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi saat ia masih dengan keadaaan setengah tel*njang karena masih khidmad membersihkan asetnya.


"Aaaaaaaaa"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2