Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kejutan pagi lagi.


__ADS_3

Shirleen menggeliat merasakan ada yang mengecupi wajahnya, antara sadar dan tidak ia melihat Jason adalah pelakunya. Dengan mata terpejam, Ia segera menepis pikiran tak tau dirinya itu, bukankah semalam si pacar berondong pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata. Membuat ia menyesal telah mengabaikan kekasihnya itu, lain kali ia berjanji tidak akan lagi.


Jason begitu gemas melihat tingkah wanitanya ini, sudah seluruh wajah diabsen oleh Jason dengan kecupan, namun sang pacar belum juga terbangun.


Baiklah, mari kita kejutkan dia.


Jason membuka baju dan celananya menyisakan boxer yang membungkus rapi kesatrianya, ia menyeludup masuk dibawah selimut, memeluk kekasihnya itu menghadapkan kedada bidangnya.


Siapa sangka, semalaman tidak tidur membuat ia dengan mudahnya malah tertidur.


Kali ini Shirleen benar-benar terbangun, karena sudah jamnya ia membuka mata. Subuh menjelang, ia melihat tangan kekar memeluknya, nampak blur ia melihat dada bidang dihadapannya.


Oh astagah, kurasa aku sudah tergila-gila dengan bocah tengil itu, apapun semuanya tentang dia, pagi-pagi gini aku juga liat guling mirip dia, memang tidak beres otakku ini.


Masih belum sadar dan menganggap semuanya hanya halusinasi, ia dengan percaya diri menyingkirkan tangan kekar yang ia anggap guling itu. Bangkit dan memulai ritual subuhnya.


Jason pun sama, ia begitu lelah hingga tidak terganggu saat Shirleen menyingkirkan tangannya.


Kedua manusia yang sama-sama belum sadar itu kembali dengan kegiatan masing-masingnya. Biarkan, tidak lama pasti ada teriakan yang menggema diruangan ini.


Satu, dua, tiga, benar saja saat Shirleen keluar dari kamar mandi, penglihatan dan pikirannya kini telah kembali sinkron karena sudah terkontaminasi oleh air, ia benar-benar melihat dengan jelas Jason memang berada dikamarnya, dan yang ia rasakan tadi kemungkinan bukanlah mimpi.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa" Shirleen berteriak melihat kekasihnya yang bertelanjang dada, pikiran buruk menerpa otaknya yang memang selalu tidak waras saat berhadapan dengan Jason.


Jason yang merasa baru saja tertidur, dipaksa membuka matanya karena mendengar teriakan yang tak asing baginya, ia sadar kekasihnya pasti akan melakukan itu, santai saja, anggap saja kamar sendiri, apa lagi melihat Shirleen yang saat ini sedang berbalut handuk saja, biarkan semangat pagi ini mengguncang imannya. Terserahlah mau siraman kalbu subuh-subuh begini juga tak apa, toh dia sudah menang.


"Keluarrr" Teriak Shirleen, ia benar-benar terkejut, keahlian membuka apa saja yang dimiliki Jason membuatnya sedikit waspada, untung saja kan semalam ia tidak dibuka, walau sudah tidak tersegel, namun ia juga bukan yang sembarangan bisa dibuka.


Enak saja, cinta sih cinta bego jangan.


Tidak ada tindakan dari Jason, ia tetap saja mempertahankan posisinya, memeluk guling dan kembali memejamkan mata.


Nafas yang naik turun kini berangsur stabil, ia menyadari ia hanya berbalutkan handuk saat marah tadi, membuat ia segera mencari pakaian untuk menyalin tubuhnya. Ia memutuskan kembali ke kamar mandi.


Sholat subuh, dan pergi ke dapur membuat sarapan, meninggalkan Jason yang masih berbalut selimut.


Ah memalukan...


Athar bertemu rekan bisnisnya, proyek yang ia tangani hari ini berjalan lancar, tanggung jawab besar kini sudah berada dipundaknya.


Semua orang terkesan atas cara kerjanya, Athar memang begitu, sebenarnya ia cukup bisa diandalkan.


"Kesempatan tidak datang dua kali Pak Athar !" Rudi masih saja melobi dirinya, Athar tak kuasa menolak namun ia juga tidak berani bertindak. Jantungnya marathon setiap kali melihat apa yang Rudi suguhkan, bolehkah.

__ADS_1


Keadaan Riana ia dengar semakin memburuk, uang pinjaman untuk mengobati istrinya terpakai sia-sia, tidak ada tanda kesembuhan pada istrinya, di vonis gila sudah cukup menjadi pukulan terberat baginya.


Ibunya pun begitu, tidak ada perubahan, meski dipindahkan keluar negeri pun belum tentu akan membaik, skizofrenia tidak bisa disembuhkan, ucapan dokter tentang seberapa serius penyakit ibunya itu membuat ia mehela nafas panjang.


Namun masih bisa dirawat, kemungkinan itu juga melintas pada dilemanya.


Ah lagi-lagi kendala biaya, ia tidak punya cukup uang untuk beberapa bulan kedepan jika ibunya terus menginap dirumah sakit elit itu. Bagaimana dengan Riana, gaji Inem dan Sri, kebutuhan Fahira, bayar angsuran pinjaman, kebutuhan rumah, siapa yang mau perduli.


Ketiga kakaknya menyalahkan dirinya atas sakitnya ibu, terlebih hubungannya dan sisulung tidak begitu baik untuk saat ini, ia tidak akan berani membantah apa yang dikatakan Riska jikapun harus mengeluarkan sisa uangnya.


"Aku tidak berani..."


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, dan vote yah...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2