Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Mengenang yang lalu.


__ADS_3

"Shakira..."


Roy melangkah menuju wanita yang ia panggil, matanya malah syarat akan permusuhan namun yang sebenarnya ia mulai tidak terima Shakira didekati pria lain.


Shakira menegang, bodohnya ia bahkan merasa seperti orang yang ketahuan berselingkuh saat ini.


"Ternyata selerahmu menurun yah" ucap Roy, lain dimulut lain juga dihati, ia merutuki saat malah kata semacam itu yang keluar dari mulutnya.


Shakira menggeleng cepat, nafasnya memburu otaknya blank tidak bisa memikirkan apapun termasuk bagaimana caranya lepas dari kenyataan yang tidak mengenakkan ini.


"Heh, ku pikir kau hanya akan melihat satu orang saja di dunia ini" ucap Roy dengan nada meremehkan, ia lagi-lagi tidak bisa bersikap manis pada Shakira meski ia ingin sekali.


"Ternyata tidak, kau malah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya"


"Sudahlah, mungkin kau sudah bosan menunggui seseorang, silahkan jika itu bisa membuatmu senang"


Roy berlalu setelah mengatakan itu, lagi dan lagi ia tidak bisa menunjukkan cintanya.


Meninggalkan Shakira dengan tetes air mata, Shakira merasa Roy benar-benar sudah keterlaluan.


Hanya melihatmu, selama ini bodohnya aku yang selalu hanya melihatmu.


Dasar tidak berperasaan, tidak tau diri, kau pikir laki-laki didunia ini hanya kau saja.


Shakira berlalu pergi tanpa menghiraukan Angga yang mencoba menahannya ia sudah tidak mood berada dikeramaian, ia benci Roy. sungguh ia benci.


Tinggallah Angga dengan sejuta kebingungan.


Pesta selesai, Shirleen lelah sekali rasanya menyiapkan semuanya demi kejutan untuk sang suami.


Jacob dan Misca sudah tidur duluan, kedua bocil itu terlihat lebih lelah darinya, sehingga tidur seperti mengenaskan tidak sadarkan diri.


"Sini aku pijat, mana yang lelah ?" tawar Jason, ia tidak tega melihat Shirleen yang nampak letih dari biasanya.


"Tidak usah By" tolak Shirleen halus, dari pada memijatnya mendingan mereka semua tidur cepat, Shirleen bukan butuh pijatan tapi butuh tidur yang cukup.

__ADS_1


"Sini, santai saja, relaks nanti pasti kamu akan tertidur lebih cepat"


Shirleen menurut, ia lalu menelungkupkan tubuhnya untuk Jason memijatnya.


Tidak lama ia yang ternyata begitu menikmati pijatan suaminya itu pun benar-benar tertidur. Ia kira Jason akan mengusiknya seperti biasa, menelusup sana sini mencari-cari apa yang bisa dimainkan, namun ternyata tidak, mungkin Jason mengerti kalau ia benar-benar lelah saat ini.


Jason melihat dalam wajah istrinya, ia memikirkan sesuatu.


Hari itu ia yang ingin masuk ke kamar malah menemukan kamarnya terkunci saat Shirleen dan Weni sedang berada didalam kamar.


Awalnya ia tidak curiga sama sekali, namun ia mengingat informasi di waktu dulu saat ia menyelidiki kehidupan Shirleen dan Athar, ia ingat sosok Weni, sekilas yang ia baca tentang wanita itu yang katanya pernah mempunyai perasaan terhadap Athar.


Ia jadi curiga, apa yang keduanya bicarakan dikamar sehingga harus mengunci pintu, apa tentang Athar pikirnya seketika cemburu mulai memguasai hatinya.


Ia beralih ke ruang cctv, dan mulai mengaktifkan penyadap dikamarnya sehingga ia bisa dengan jelas mendengar apa saja yang Shirleen dan sahabatnya bicarakan.


Ia terperangah tidak percaya kala Shirleen ternyata punya niatan seperti itu hanya untuk membuatnya bahagia di malam pertama nanti.


Ia tidak bisa menahannya jika saja harus sampai tiga bulan lamanya, namun ia juga penasaran akan hasilnya jika Shirleen benar-benar melalukan operasi tersebut.


Lalu ia ikut berbaring disebelah istrinya, memeluk istrinya dari belakang dengan satu selimut berdua.


Disebuah kamar yang hanya ditemani lampu temaram, Athar merenungi nasibnya. Ia mengikuti setiap peristiwa yang terjadi.


Shirleen, satu nama itu ternyata masih tersimpan rapi dihatinya.


Berpacaran dengan Shirleen, lalu menikah meski tidak adanya restu dari kedua belah pihak namun ia bahagia, membangun rumah tangga sederhana, hadirnya Misca dan rezeki yang tak putus-putusnya dilimpahkan sang khalik padanya, sungguh nikmat tuhan mana lagi yang bisa kau dustakan.


Istri yang sempurna akhlaknya, tidak pernah mengeluh ataupun menuntutnya, istri yang selalu mencintainya menerima segala kekurangannya, yah cinta, begitu juga ia yang sampai saat ini masih tidak percaya Shirleen bisa selingkuh darinya.


"Shirleen, sedang apa dia"


Athar bergumam pelan,ingin rasanya saat itu juga ia menemui mantan istrinya itu dan mengatakan bahwa ia masih sangat mencinta.


"Misca, sudah sepintar apa anakku itu"

__ADS_1


"Maafin ayah ya nak, ayah bukan ayah yang baik buat kamu"


Athar memandangi foto dirinya dengan keluarga kecilnya dulu, keluarga kecil yang ia hancurkan.


Lama ia memandangi dan mengenang semua itu hingga fokusnya teralih saat melihat sebuah kertas yang menunjukkan saldo terakhir direkeningnya.


Bukti transaksi yang ia dapatkan saat ia mengambil sebagian uangnya untuk ia berikan pada Sri, yah memang tidak banyak hanya sebagai bentuk terimakasih secara pribadi darinya.


Jika dulu saldonya menggendut sulit dihitung, tapi sekarang ia bahkan sangat teliti jika berkurang sedikit saja angka dari saldonya itu.


Heh hidup seperti apa yang aku jalani ini.


Besok adalah hari barunya, ia tidak akan mencari pekerjaan lagi, ia bertekad dengan sedikit sisa saldonya ini ia harus bisa bertahan hidup, memulai usaha mungkin menjadi pilihannya kali ini, setidaknya ia tidak perlu merasakan dipecat apalagi dengan alasan yang sama, karena sekarang bagai seluruh dunia tau betapa buruknya ia dalam dunia kerja.


Athar mulai memimpikan sebuah kehidupan sederhana lagi, jauh dari hutang piutang dan hidup mewah, ia hanya ingin tenang meski Shirleen tidak bisa lagi bersamanya nanti.


Sementara dikamar sebelahnya Riska sedang memikirkan malang nasibnya, besok adalah hari sidang cerainya yang pertama dengan Rendi, ia menuntut harta gono gininya karena ia yakin sekali Tiara pasti akan memilihnya.


Ia sudah memutuskan untuk melanjutkan keputusannya, baginya tidak ada maaf untuk peselingkuh.


Walau berat dan rasa benci telah bersarang dihatinya, ia tidak akan menyerah dengan mudah, jelas saja bagaimana bisa ia berlapang dada saat mentalnya diserang karena disuguhkan paksa film penghianatan suaminya sendiri, meski ia bisa memejamkan mata namun telinganya dengan jelas masih bisa mendengar suara-suara laknat itu. Semua yang dilakukan Jason sungguh benar-benar mempengaruhi kewarasannya.


Beruntung ia bertemu Clara dan bisa pelan-pelan mengobati jiwanya yang tidak pernah tenang setelah kejadian itu.


Pelan tapi pasti ia tetap menangisi nasib malangnya, rumah tangga yang tidak pernah terbayangkan olehnya akan hancur dalam sekejap mata.


Ia juga sama dengan adik bungsunya, mengenang masa lalu, membayangkan Mas Rendi yang begitu baik padanya, sampai saat ini ia juga masih enggan percaya pria yang masih berstatus suaminya itu akan tega berselingkuh darinya, keluarga yang harmonis tidak seujung kuku pun ia membayangkan hal menjijikan dalam hidupnya itu akan terjadi.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!


__ADS_2