Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Apa aku gila ?


__ADS_3

Jason masih dikantor, ia baru saja selesai rapat.


Pikirannya tak tenang, dadanya berdebar seperti akan terjadi sesuatu, ia menjadi gelisah, namun ia juga tidak tau ada apa dengan perasaannya.


Ia memutuskan untuk mengecek cctv di apartemen kekasihnya, tidak terjadi apapun, hanya saja diseluruh ruangan nampak sepi, sepertinya Misca dan Shirleen sedang berada dikamar.


Ia mencoba meredam segalanya, menarik nafasnya perlahan lalu hembuskan, begitu saja ia lakukan dengan berulang, supaya jantungnya berdetak normal kembali.


Tetap saja tidak bisa, ia memutuskan untuk mencari sesuatu di internet, referensi untuk menenangkan pikiran, entahlah mungkin ia terlalu banyak bekerja dan beraktivitas lainnya, hingga ia membutuhkan istirahat sejenak, liburan misalnya.


Ia tersentak, di laman pencariannya tertulis dengan jelas "bagaimana menghadapi dan meredakan kontraksi palsu".


Shirleen yang mencarinya, apa terjadi sesuatu dengan Shirleen.


Saat ia membelikan Shirleen ponsel ia sengaja mendaftarkan emailnya disana, ia memakai email yang sama dengan Shirleen, jadi ia bisa dengan mudah mengetahui apa saja yang dicari kekasihnya itu di dunia maya. Walaupun Shirleen tetap menggunakan akun pribadinya sekalipun.


Untuk urusan perusahaan, ia memakai email dan ponsel yang berbeda, keamanan perusahaan tidak boleh dianggap sepele, walaupun dengan istrinya sekalipun kelak.


Lalu ia mengecek kembali cctv, ia putar ulang segala yang terekam dari tadi pagi, didapatnyalah Misca yang terlihat panik keluar dan masuk lagi ke kamar Bundanya. Benar, pasti telah terjadi sesuatu.


Tanpa banyak perhitungan lagi, ia segera turun dan melajukan mobilnya kencang menuju apartemen Shirleen, pikiran Shirleen dan Misca yang hanya tinggal berdua di apartemen terus menekan kecemasannya. Apa yang bisa dilakukan bocah berumur empat tahun, ia berandai dan terlihat frustasi.


Hari ini hari kepulangan Riana ke tanah air, ia yang ditemani Suminem nampak menunggu jemputannya.


Athar yang melihat istri dan pembantunya itu langsung membantu Riana menuju mobil, ia tidak ingin berlama-lama melihat tatapan risih pengunjung bandara yang memandang istrinya geram. Bagaimana tidak, bau busuk istrinya yang menyengat membuat siapa saja akan melayangkan tatapan tidak sukanya.

__ADS_1


"Pak Athar, bagaimana dengan saya apa saya harus ikut atau saya pergi dan kembali lagi besok dirumah Pak Athar ?" Tanya Inem saat didalam mobil, ia berharap kontrak kerjanya segera berakhir.


"Eemm, kamu ikut saya saja, nanti saya akan perpanjang kontrak kamu !" Jawab athar. ia tidak mungkin memberhentikan Inem, siapa yang akan merawat istrinya jika Inem berhenti.


"Baiklah Pak" jawab Inem, dalam senyumnya terbesit kecewa, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkannya, salahnya sendiri yang telah berani mengemban tugas idiot ini.


Lalu ketiganya menuju kediaman Athar, disana sudah ada Sri yang menunggu mereka dengan Fahira.


Riana harap-harap cemas, ia takut suaminya akan membuangnya kerumah sakit jiwa, mengingat kondisinya sekarang, mungkin tempat itulah yang paling cocok untuk dijadikan sarangnya.


Aku tidak gila, hanya aku terus berhalusinasi tentang hal gila itu, minta maaf, Shirleen, heh apa-apaan ini.


Apa Mas Athar akan membawaku ke rumah sakit jiwa, sudah kubilang aku tidak gila. Hanya saja ini semua diluar kendaliku*.


Athar dan rombongannya sudah sampai, Sri yang sedang menggendong Fahira menyambut mereka dengan senang hati. Pun Riana yang nampak antusias bertemu dengan putrinya itu, ia minta dengan isyarat pada Sri untuk mendekatkan ia dengan putrinya.


Ini Ibu nak, ibu sayang sama kamu Fahira. Fahira anak Ibu, ini Ibu sayang...


Ingin sekali ia menciumi bayi mungil itu.


Athar yang melihat itupun mengiba, kebencian pada istrinya itu ia sampingkan, yang ia lihat kini adalah sebuah penderitaan, menahan rindu itu sakit, apa lagi setelah bertemu bahkan tidak bisa melampiaskannya.


"Sri kamu bawa Fahira ke kamarnya ya, Nem kamu bisa istirahat di kamar tamu, Sri tolong antar Inem sekalian ya"


"Baik Pak"

__ADS_1


Athar membawa Riana ke kamar mereka, tidak ada lagi kemesraan, yang ada hanyalah tugas wajib bersimpati terhadap istri yang sedang sakit. Athar enggan bicara banyak, namun perlakuannya masih tetap menunjukan ia peduli.


"Mas..." ucap Riana, ia tidak boleh banyak bicara, tapi ia ingin sekali bicara berdua dengan suaminya seperti dulu, seperti diawal-awal pernikahan mereka.


"Heemmm" Jawab Athar, ia mendekat pada istrinya, memindahkan Riana dari kursi roda ke tempat tidur.


"Mas, apa aku gila ?" tanya Riana, walau ia sudah divonis gila oleh dokter, tapi ia tetap ingin mendengar jawaban suaminya.


Katakan tidak, katakan tidak, itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu benar-benar masih mencintaiku Mas.


Ada harapan jika suaminya yakin ia tidak gila, itu sudah cukup untuk menyemangatinya menikmati sakit dan penderitaan ini.


Namun realita tidak sesuai ekspektasi, Athar tidak menjawab, ia memilih diam tidak menanggapi.


Riana menangis, seharusnya ia tidak banyak berharap, setelah hari dimana ia mengakui semuanya pada Mas Athar, seharusnya ia tau suaminya itu telah menelan bulat kekecewaan.


Kenapa sakit sekali rasanya...


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, kasih hadiah dan vote yah...


Happy reading !!!


__ADS_2