Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Aku tidak apa.


__ADS_3

"Kak, Mas Rendi mana, belum dateng juga ?" tanya Athar, saat ini ia dan Delia sedang berada di halaman kantor Polisi, untuk menjenguk Riska sebelum beberapa hari kedepan akan diadakan sidang putusan.


"Nanti kakak telpon dulu." ucap Delia.


Delia pun kemudian menelpon mantan iparnya itu, rencananya mereka bertiga, dirinya Athar dan Rendi ingin memberikan keterangan terkait kasus yang menimpa Riska, mereka akan sebisa mungkin berusaha untuk mengurangi hukuman yang akan diterima Riska, meski tidak bisa meloloskan Riska dari semuanya namun setidaknya jika masih bisa diringankan mereka akan mencoba cara itu.


"Katanya kita duluan aja Thar, kita jenguk kak Riska dulu, nanti Mas Rendi akan datang sama pengacara keluarga mereka." ucap Delia pada akhirnya.


Suasana haru nampak begitu mengena kala kakak sulung bertemu dengan kedua adiknya itu.


"Kakak minta maaf Del, kakak tau kakak salah." ucap Riska, ia hanya bisa mengatakan itu kepada adik-adiknya, begitupun saat kemaren Citra dan Mutia mengunjunginya.


"Kakak tidak bisa menjadi pedoman kalian, kakak bukan contoh yang baik buat kalian, Kakak gagal menjadi penerang kalian, disaat Ibu terbaring lemah seharusnya kakak bisa lebih bijak menata keluarga kita." lanjutnya menyesali segala yang telah terjadi.


"Sudah lah kak, kami semua tetap menyayangi kakak terlepas dari semua yang terjadi, kita semua adalah keluarga." ucap Athar.


"Kami juga minta maaf kak, kami nggak bisa bantuin kakak untuk bebas dari hukuman, tapi nanti ada pengacaranya mas Rendi, nanti kami akan berusaha buat kakak, supaya hukuman kakak bisa diringankan." ucap Delia, sembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Riska.


"Aku tidak apa, mungkin memang sudah jalannya seperti ini, aku selama ini memang udah jahat, aku akan menerima hukuman ini dengan ikhlas."


"Enggak Kak, Kak Riska nggak boleh ngomong gitu, seenggaknya nanti kakak nggak bakalan lama di penjaranya, Mas Rendi bisa mastiin itu, apa lagi aku udah ikhlas dan udah menyatakan bahwa kejadian waktu itu adalah ketidaksengajaan, sementara untuk kasus Tiara, Mas Rendi juga sudah memberikan keterangan, dan beruntungnya waktu itu tidak terjadi apapun dengan Tiara, Kakak pasti diringankan, kemaren kami udah ngomongin ini sama Mas Rendi." ucap Athar, bagaimanapun mereka adalah saudara, yang lalu biarlah berlalu, memaafkan dan hiduplah secara damai, hanya itulah yang mereka inginkan saat ini.


"Delia, Athar, kakak mau minta tolong sama kalian, boleh ?" tanya Riska agak meragu.


"Tolong apa Kak, kalau kami bisa bantu akan kami bantu !" ucap Athar.


"Iya kak !' timbal Delia.

__ADS_1


"Kalau bisa, Kakak mau minta tolong kalian bujuk Mas Rendi, supaya Kakak bisa ketemu dengan Tiara, kakak kangen banget sama Ara Del." pinta Riska.


"Soal itu, sebenarnya itu tergantung Mas Rendi sih Kak, tapi nanti aku sama Athar pasti akan coba, kami akan bicara sama Mas Rendi kalau kakak mau dipertemukan dengan Tiara, saat ini Tiara sedang di Palembang, semoga sebelum sidang kakak sudah bisa bertemu Tiara." ucap Delia, ia memberikan semangat untuk kakak sulungnya itu, dan Riska pun mengangguk patuh, ah anaknya itu sungguh saat ini ia sangat merindu.


"Kalian hiduplah dengan baik, terutama kamu Thar, jalanmu masih panjang, jangan menghancurkan hidup kamu seperti kakak menghancurkan hidup kakak sekarang ini, Kakak benar-benar menyesal telah masuk ke dalam lubang hitam, selama ini kakak hanya melakukan apa yang kakak anggap benar karena kakak lelah hidup tersakiti, padahal ini semua adalah ujian, tapi kakak malah menganggap seolah-olah kakaklah orang yang paling menderita, setan itu hanya setipis benang jaraknya dengan kita, kakak yang belum kuat iman hingga dengan bodohnya bisa melakukan hal-hal hina seperti kemarin, dan ya satu lagi jangan lupa untuk selalu bersyukur." nasihat Riska, ia sudah sadar akan perbuatannya, empat hari bermalam di penjara memberikannya begitu banyak pelajaran hidup.


Meski orang mengatakan penjara adalah tempatnya para penjahat, namun nyatanya tidak baginya, jika kita bisa menerima mungkin penjara adalah tempat untuk kita merenungkan diri, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, begitu banyak sisi positif yang bisa ia ambil, dan beruntungnya para napi di sel tahanannya adalah orang yang sama-sama sedang merenungi kesalahan, jadi ia bisa menjadi lebih tenang bergaul bahkan berbagi cerita.


"Kakak pasti bahagia, keluar dari sini nanti kakak pasti bisa bahagia." ucap Delia, tak henti-hentinya ia menguatkan si sulung agar tetap tabah menjalani hidup yang menurutnya sangat menyakitkan serta menyedihkan itu.


"Amin, kakak akan menunggu hari itu tiba." ucap Riska.


Riska yang sekarang berada dihadapan Athar dan Delia bagaikan Riska yang baru, ia lebih bisa memahami situasi dan kondisi maupun suasana hati, meski dalam hatinya sebenarnya juga masih ada sisa-sisa ketidakikhlasan akan yang menimpa hidupnya, namun ia bisa lebih tegar seakan ada kekuatan dalam dirinya, ia lebih memilih mempertanggungjawabkan perbuatannya dari pada menghindar namun tidak juga mendapat ketenangan jiwa.


Ini yang aku tunggu kak, inilah Kakak sulungku, andai kakak melakukan ini saat dihadapkan dengan masalah perselingkuhan Mas Rendi waktu itu, mungkin kakak tidak akan berakhir disini.


"Permisi, maaf Pak Athar, Bu Delia, waktu besuk kalian sudah habis, bisa dilanjutkan besok atau lain hari ?" ucap Polisi penjaga.


"Iya Pak, terimakasih atas waktu yang diberikan." ucap Athar sopan.


"Kak Riska, kakak pasti kuat, aku sama yang lain pasti akan selalu doain kakak." ucap Delia, ia memegang tangan kakak sulungnya itu sebelum berpisah.


"Aku tidak apa, aku sangat kuat saat ini." ucap Riska, ia tersenyum pada kedua adiknya, yang entah kenapa Delia malah melihatnya seperti sebuah senyuman luka.


Mereka pergi meninggalkan Riska menuju ruang pertemuan.


Dilihatnya masih ada seseorang yang mungkin sedang berkonsultasi, sehingga Rendi juga terlihat sedang menunggu di luar.

__ADS_1


"Gimana Riska ?" tanya Rendi pada kedua mantan iparnya itu.


"Terlihat lebih baik dari sebelumnya, tapi entahlah, masalah hati siapa yang tau, semoga saja kakakku tidak sedang berpura-pura tegar." jelas Delia.


"Mas Rendi, bisa kita bicara ?" tanya Athar.


"Ya !" jawab Rendi.


"Kesini sebentar." Athar membawa Rendi sedikit menjauh, dan Rendi pun menurut.


"Mas !" seru Athar.


"Kenapa ?" tanya Rendi.


"Tadi Kak Riska minta tolong sama kami, aku tau ini berat bagi Mas, tapi aku bicara begini bukan karena Kak Riska adalah kakakku lalu aku pasti membela dia, bukan lho Mas, sebelumnya tolong jangan dianggap begitu ya." ucap Athar.


Rendi menghela nafas berat, ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Athar selanjutnya.


"Bisakah Tiara dipertemukan dengan Mamanya ? Seorang ibu sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup, dan dia butuh wajah anaknya untuk sekedar menguatkannya." ucap Athar lagi.


Dan kemudian hening...


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2