Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Harus melakukannya


__ADS_3

Hujan lebat mengguyur kota penuh cinta ini. Shirleen melihat ke arah luar dari kaca apartemennya. Hujan mengingatkannya akan kenangan lalu.


Memang benar, jangan jatuh cinta saat hujan. karena kau akan selalu sakit saat mengingatnya.


Lelaki yang telah membuat ia merasakan rasa tak biasa, ketertarikan lawan jenis membuatnya melabuhkan hatinya pada lelaki itu.


Lelaki yang hanya dari keluarga biasa saja, sama-sama kuliah dengannya, lelaki itu begitu baik padanya dulu.


Tapi itu hanya kenangan, laki-laki baik itu pulalah yang menghancurkan hidupnya kini.


Membuatnya merasa bersalah hingga saat ini pada kedua orang tuanya.


Ia sekarang beruntung bertemu Jason, walau pertemuan keduanya tidak semenyenangkan pertemuannya dengan Athar, namun Jason nampak mencintainya.


Entahlah, walaupun masih jauh lebih muda darinya, ia merasa terlindungi dengan sosok Jason.


*Tak ku sangka, aku bisa jatuh cinta secepat ini


Bocah tengil itu kini telah memiliki separuh hati dariku.


Tidak apa kan kalau aku mencintainya*.


Ahaha, Shirleen masih selalu saja merasa lucu dan geli sendiri mengingat usia Jason yang jauh lebih muda darinya, kadang juga ia merasa tidak pantas mendampingi Jason, namun Jason selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa mereka berdualah yang akan menjalani suatu hubungan ini, lalu kenapa harus memikirkan pantas tidak pantas yang kadang hanya sebuah kata yang terlontar dari mulut orang lain.


"By... kenapa heemm ?" Tiba-tiba Jason memeluknya dari belakang.


"Tidak apa, Misca sudah tidur ?" Tanya Shirleen, karena beberapa hari ini Misca lebih memilih ditidurkan Jason dari pada Bundanya.


"Sudah, sekarang tinggal nidurin Bundanya" ucap Jason menggoda wanitanya itu.


Shirleen kini membalikkan badannya hingga posisi keduannya kini berpelukan, Shirleen menatap lekat mata Jason, ia sungguh mengagumi wajah kekasih mudanya itu.

__ADS_1


"Kenapa melihatku begitu, aku tampan yaa ?" narsis Jason.


"Dasar bocah" pekik Shirleen.


"Hemmm, katakan sekali lagi" ucap Jason dengan gaya tengilnya.


"Bocah" ulang Shirleen.


"Berani sekali lagi" tantang Jason.


"Bocah, bocah, kau kan memang bocah" ejek Shirleen.


"Hoo hoo, kau belum merasakan kekuatan bocah ini yaa, mau merasakan serangannya hemm ?" Jason menaik turunkan alisnya genit.


"Mesum !" Shirleen merasa tidak nyaman dengan perkataan ambigu Jason.


"By, kapan kau akan pulang kerumah orang tuamu ?" Tanya Jason tiba-tiba sambil memainkan poni Shirleen dan posisinya yang masih berpelukan dengan kekasihnya itu.


"Aku pernah mengecewakan mereka, aku tidak akan sanggup melihat mata yang telah kecewa itu menyambutku kembali"


"Aku tidak pantas jadi anak mereka" Shirleen kini nampak menunduk.


Jason tau pasti ada bulir-bulir air mata yang kini berjatuhan, namun ia harus tetap melakukannya walaupun harus membuat kekasihnya sakit. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut.


"Lalu, kamu mau apa by ?" Jason kini mengangkat wajah kekasihnya itu menghadap padanya.


Tidak ada sahutan dari Shirleen, ia hanya menggeleng menandakan ia tidak tau harus berbuat apa.


"Hemm, baiklah kalau itu keputusanmu, kau akan hidup sebatang kara tanpa menganggap orang tuamu yang jelas-jelas masih hidup ?" Ucap Jason tiba-tiba terdengar tegas sekali.


Shirleen masih menangis, apa lagi mendengar perkataan Jason barusan.

__ADS_1


"Begitu kah ?" Tanya Jason lagi.


"Aku tidak mau tau, suka atau tidak besok kau akan kuantar kerumah orang tuamu, kita akan lihat anak pembangkang ini apakah masih ada rasa kasih untuk orang tuanya"


"Tidurlah" Lalu Jason mengangkat tubuh kekasihnya itu ke tempat tidur.


Ia membaringkan Shirleen, dan memeluknya, menenggelamkan wajah kekasihnya itu didada bidangnya.


"Menangislah" ucap Jason.


Shirleen menangis mengingat orang tuanya, ia akan menemui orang tuanya besok dan meminta maaf, ia juga sangat rindu malaikat dan cinta pertamanya itu.


Perlahan suara tangis Shirleen mulai mereda, Jason melonggarkan pelukannya, ternyata kekasihnya itu telah tertidur.


Ia merasa bersalah telah membuat wanitanya menangis, namun Shirleen harus berani mengakui kesalahannya, kalau ia tidak segera pulang ia tidak akan lepas dari rasa bersalah dan menyesal pada orang tuanya.


"Maafkan aku By..." Ucap Jason pelan ditelinga Shirleen, lalu ia mengecup singkat kening dan bibir Shirleen.


Ia pun memejamkan matanya dan kemudian tertidur, dengan posisi yang masih saling berpelukan dengan Shirleen.


Bersambung...


*


*


*


Hai readers, dudkung karya ini dengan like, koment, dan vote yah...


Happy reading** !!!

__ADS_1


__ADS_2