
Athar masih memandangi wajah ibunya dari kaca jendela ruang rawat ibunya, ia begitu ingin menggenggam tangan itu, namun keempat kakaknya tidak memberikannya kesempatan.
Air matanya tak dapat mengering seolah betah terus saja mengalir, ia tak henti-hentinya berucap maaf dalam hatinya.
Bagaimana bisa, bagaimana bisa ia melakukan ini pada orang yang begitu ia kasihi.
Ibunya disana terbaring lemah, dan ia tidak bisa berbuat apapun selain menyalahkan dirinya sendiri disini.
"Heh, sini kamu" ucap Nana sambil menarik tangan Athar dengan kasar, ia mengajak adik bungsunya itu pergi menuju kantin rumah sakit.
"Ada apa Kak, aku masih mau liat Ibu" ucap Athar.
Namun Nana tidak menghiraukan, ia terus saja menarik tangan Athar untuk mengikutinya.
"Sekarang apa yang bakal kamu lakuin ?" Tanya Nana saat ia dan Athar sudah duduk di bangku kantin rumah sakit.
Athar tertunduk, sebenarnya ia juga tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, selain berdoa untuk kesembuhan ibunya. Uang, ia sudah tidak punya banyak uang sekarang karena sakit yang diderita istrinya begitu menguras ekonominya.
"Dengan kamu berdiri disitu sampe berjam-jam pun gak bakal bisa bantu ibu"
"Kami udah putusin, karena ini semua salah kamu, kamu harus tanggung jawab"
"Tanggung jawab gimana kak ?" Tanya Athar, walaupun sebenarnya ia sudah menebak pasti ia akan mengeluarkan uang banyak lagi demi kesehatan ibunya.
"Ya tanggung jawab, kami ingin ibu diobati, kalau perlu sampai ke luar negeri, seperti kamu ngobatin istri kamu itu"
"Tapi kak" Athar nampak meragu.
"Kenapa ? Jangan bilang kamu nggak punya uang ? Jual rumah, jual mobil, atau apa kek aku nggak mau tau ibu harus segera diobati" Nana tidak perduli, kini ia sungguh benci dengan adik bungsunya itu.
"Atau jangan-jangan harta kamu udah dikuras habis sama Shirleen" Tuding Nana, ia tidak banyak tau tentang kehidupan rumah tangga Athar dan Shirleen dulu, karena ia tidak menyukai segala yang berhubungan dengan Shirleen. Ia hanya tau kehidupan perekonomian Athar dan Shirleen begitu mencukupi, karena jabatan Athar yang lumayan.
"Berhenti nyalain Shirleen kak, ia bahkan tidak mengambil sepeserpun uang saat meninggalkan rumah" bela Athar pada mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Ooh yaa, terus kemana larinya uang yang katanya kamu jadi manager itu, kok nggak keliatan ?" Nana menatap sinis Athar.
"Aku nggak mau tau, serahin sertifikat rumah kamu sama kak Riska, kami akan segera mengurus pinjaman dana, kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadi sama ibu"
"Aku udah gak punya apa-apa lagi kak, sertifikat rumah itu udah aku gadai buat biaya pengobatan Riana di luar negeri" ucap Athar meragu, ia bahkan tidak sanggup menatap mata kakaknya.
"Apa ???" Nana semakin geram dibuat adik bungsunya itu.
"Terus sekarang gimana, mau pake apa buat biaya pengobatan ibu ?"
"Lagian ngapain juga kamu ngurusin wanita sakit-sakitan itu, udah nggak bisa ngapa-ngapain, bisanya ngabisin duit aja"
"Kak, Riana sedang sakit ya disana, ia berjuang antara hidup dan mati, tolong jaga omongan kakak" Athar semakin frustasi, belum kelar masalah sakit Riana, ibunya juga menderita disini, ia tidak tau harus berbuat apa lagi. Apalagi keempat kakaknya begitu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Sama, ibu juga sekarang diantara hidup dan mati, mikir dong, apa yang bakal kamu sumbangin buat ibu, ibu kayak gini juga gara-gara kamu yaaa, jangan lari dari tanggung jawab kamu" Bentak Nana.
"Nggak Shirleen gak Riana sama aja, cuma bikin sial"
Disisi lain, di sebuah tempat yang enggan untuk dikunjungi semua orang yang merasa tidak bermasalah. Namun sepertinya tidak bagi wanita paruh baya yang matanya nampak sembab saat ini.
"Nona Ralisa, ada yang ingin bertemu dengan anda" ucap petugas penjaga lapas menemui sel tahanan Lisa.
Lisa bangkit dari duduknya, setelah seharian ini ia melamun meratapi nasibnya ia nampak heran siapa yang kini ingin bertemu dengannya.
Ia mematung menatap sosok yang paling ia rindukan, mamanya mengunjunginya disini, apakah mamanya mengetahui kasus yang menimpa dirinya.
Lisa duduk dihadapan mamanya, ia terdiam menunggu apa yang akan diucapkan dari bibir mamanya itu. Ia akan menerima segala jenis umpatan dan makian, ia akan menerima itu karena ia memang pantas mendapatkannya.
"Lisa..." Lirih mamanya memanggilnya.
Lisa mengangkat tatapannya, memberanikan diri menatap sosok wanita yang sudah ia kecewakan itu.
"Ma..." ucap lisa, nampak rasa takut menyelimuti di serak suaranya.
__ADS_1
Mama Lisa mengusap air matanya yang jatuh, ini sungguh berat baginya.
"Dengar, apapun yang terjadi. kamu tetaplah anak kami"
"Kita mungkin boleh lebih jauh berpisah, namun tidak ada yang bisa menggantikanmu sayang, kamu tetaplah bagian dari kami"
"Ma..." Lisa tercekat, ia ingin menanyakan apa maksud mamanya mengatakan ini semua padanya, namun ia tidak sanggup, tangisnya sudah luruh saat itu juga.
Mama Lisa mengangguk, ia mencoba tegar untuk memberi segala pengertian ini pada anak semata wayangnya yang kini mendekam di penjara.
"Ini mungkin yang petama kalinya mama mengunjungimu, dan maafkan mama, ini juga harus menjadi yang terakhir untukmu"
"Mama tidak sanggup melawan papamu, jika mama masih melakukan ini kebencian papamu akan terus bertambah, mama nggak mau papa membenci kamu sayang"
"Maafkan Mama"
Belum habis waktu yang diberikan untuk mengunjungi anaknya. Mama Lisa sudah berlari keluar lapas, ia tidak sanggup melihat wajah anaknya berlama-lama walaupun kenyataannya ia sangatlah rindu.
Ia begitu dilema harus memilih suami ataukah anaknya itu. Sungguh ia tidak mau keluarganya berantakan seperti ini.
Bersambung...
*
*
*
***Like, koment, dan vote...
Ayo dukung karya ini biar bisa naik ke permukaan !!!
Happy reading*** !
__ADS_1