
"Lho kenapa begitu Kak, ini masih dua jam lagi lho!" tanya Rara, ia tidak menyangka malam ini akan pulang lebih awal.
"Aku akan langsung tutup saja Ra, kalian juga sebentar lagi juga bisa pulang." ucap Weni pada seluruh karyawannya.
"Oh ya sudah kalau begitu kak, biar aku bantu berberes juga." ucap Rara lagi.
"Ah tidak tidak, tidak perlu, karena kau sudah bekerja dari pagi tadi sedangkan yang lainnya memang shift malam kan, kau pulanglah, beristirahatlah, besok adalah hari baru kan!" ucap Weni. Para karyawan lainnya cukup heran dengan sikap Weni yang sepertinya sedikit memaksa Rara si resepsionis untuk pulang lebih awal. Apa apa?
"Heemm, okelah kalau begitu Kak, terimakasih atas pengertiannya!" ujar Rara, ia mengemasi barang-barangnya lalu mengambil kunci motor untuk pulang.
"Selamat malam Kak Weni!" pamitnya.
"Selamat malam!" balas Weni.
Rara melangkahkan kakinya ke luar Butik, ia bisa mampir untuk membelikan martabak kesukaan adiknya sebelum pulang ke rumah, masih ada banyak waktu kan.
"Astagaaahh" ucapnya saat melihat ban motor yang sudah tidak ada anginnya, bagaimana bisa kempes pikirnya, apakah bocor?
Rara melihat ban motornya yang kempes lebih detil, perasaan pagi tadi baik-baik saja, kenapa bisa seperti ini, batin Rara mendumel.
"Ada apa?" seseorang mengagetkan Rara, Rara mengusap pelan dadanya dan melihat siapa yang baru saja menanyainya.
"Angga!" kagetnya.
"Ya, ada apa? Rara!" tanya Angga, ia menekankan nama wanita yang diincarnya itu, kalaulah Rara menaruh curiga pasti tau bahwa semua yang terjadi adalah ulah siapa.
"Tidak apa!" ucap Rara, ia tidak mau ada hutang budi lagi dengan Angga, ia berniat meninggalkan motornya di parkiran Butik dan melangkah keluar gerbang untuk mencari taksi yang lewat.
"Hey, lo mau kemana?" tanya Angga saat Rara meninggalkannya, sayang sekali saat rencananya tidak sesuai dengan kenyataan, yang ada dipikirannya Rara akan kebingungan bagaimana untuk pulang, tapi kenyataannya Rara tenang saja, bahkan sudah meninggalkannya saat ini.
"Rara tunggu!" teriaknya.
__ADS_1
Dan berhasil, Rara berhenti karena mendengar panggilannya meski tidak menoleh kearahnya.
"Gue, gue minta maaf!" ucap Angga lagi, ah bodo amat dengan harga diri, yang penting dirinya bisa dekat dengan Rara.
"Emangnya lo ada salah apa?" tanya Rara, badannya masih belum berbalik menghadap pada Angga, tapi ia tetap menanyakan itu.
"Ya maaf, karena gue nggak ngenalin lo, tapi gue udah..."
"Emangnya itu layak disebut kesalahan, memangnya gue siapa lo hingga lo harus minta maaf sama gue, mungkin gue adalah bagian-bagian cewek yang pernah ngajakin lo kenalan tapi sayangnya nggak lo lirik sama sekali, jadi wajar aja kalau lo nggak ngenalin gue, gue nggak berharap lo kayak gini sih!"
"Malahan gue berharapnya kita emang nggak pernah saling kenal!" ucap Rara, yang secara tidak langsung sedang menolak Angga.
"Gue suka sama lo semenjak malam itu!" ucap Angga langsung, keadaan sudah genting, tidak ada lagi pendekatan, langsung tembak saja mungkin lebih baik, karena setelah ini entah Rara masih mau atau tidak menjalin hubungan dengannya meskipun hanya hubungan pertemanan.
Rara mematung, sungguh apa yang baru saja ia dengar, coba ulang sekali lagi, ia akan benar-benar memasang telinganya supaya bisa mendengar dengan jelas, dan ia tidak akan salah dengar.
"Gue suka sama lo Ra, sejak malam itu, malam yang gue nolongin lo dan lo nggak ada bilang makasih sama gue!" ucap Angga, heh pernyataan cinta macam apa ini pikirnya, ia saja tiba-tiba ragu setelah mengatakan itu.
Ya salam, masih juga di sebut-sebut poin yang itu.
"Apa mau lo?" tanya Rara langsung, dirinya berbalik menghadap Angga, jaraknya dengan Angga sekitar dua meter, namun ia bisa melihat mata lelaki itu dengan jelas.
"Pacaran! Yah gue mau kita pacaran!" tembak Angga langsung, astagah... Angga tidak percaya dirinya bisa melakukan itu malam ini tanpa rencana, tanpa pemikiran yang matang, semua itu asal ceplos saja keluar dari mulutnya, ngajakin pacaran kayak ngajakin beli gulali, ya Tuhan... Cinta sudah membuatku gila, batin Angga.
"Hah!" kaget Rara, apakah dirinya baru saja di tembak.
Mendengar keinginan Angga yang mau mengajaknya jalan saja waktu itu jantungnya sudah sulit dikondisikan, apa lagi ini, tidak, haruskah ia tergoda.
"Eemm, lo harus mau!" ucap Angga lagi.
"Ya, memangnya siapa yang berani nolak seseorang playboy seperti lo, gitupun gue..." ucap Rara menggantungkan ucapannya, hingga membuat Angga disana sudah tersenyum menang.
__ADS_1
"Tapi itu dulu, tepatnya kemarin, hari ini nggak tuh, gue udah nggak tertarik sama lo, kalau lo ngerasa bersalah karena pernah bikin gue marah sebab lo nggak ngenalin gue, oh gue minta maaf, nggak seharusnya gue kek gitu kan, dunia ini luas, cewek kek gue banyak, muka pasaran otak pas-pasan, jangankan tiga bulan, lo bisa ganti cewek dengan modelan yang sama kek gue dalam hitung waktu kurang dari seminggu aja, siapa sih yang bisa larang, mungkin nggak seharusnya gue ngomong gini ke lo, tapi jujur gue kecewa, dan meski gue tau kecewa gue ini konyol, ya udah bisa nggak lo biarin aja, gue nggak bakal ngelibatin lo, lo bisa tenang dan hidup damai, gue nggak papa sumpah, gue udah terima sikap lo kemaren." ucap Rara, ia berbalik lagi dan mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang.
Namun langkahnya terhenti lagi kala tangannya tertahan, ia melihat Angga sudah memegang tangannya sembari menampilkan wajah tidak suka.
"Gue udah bilang lo harus mau!" tegas Angga.
Rara sedikit tersentak, kok maksa pula pikirnya.
"Angga, dulu gue emang suka sama lo, tapi sekarang udah nggak, karena..."
"Cup." Angga langsung saja mencium lembut bibir Rara, ia akan memakai cara Yudha saat ditolak Weni, begitupun juga berlaku baginya, kalau sudah terjadi mau ditampar pun terserah, yang pasti dia sudah melakukannya.
"Lo kurang ajar yaaa!" pekik Rara.
"Dari cara lo ciuman, itu pasti ciuman pertama lo, rasanya manis!" ucap Angga tanpa dosa.
Rara menutup mulutnya tidak percaya, bibirnya baru saja diperawanin, ciuman pertamanya.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Gue tetap nggak mau jadi pacar lo?" bentak Rara.
"Dasar keras kepala!" dengus Angga.
"Gue suka sama lo, gue nggak ngenalin lo waktu itu karena gue lagi ada masalah, pikiran gue lagi kacau, waktu itu aja gue nggak ada jaim-jaimnya makan banyak di hadapan temen-temen lo, gue nggak mood untuk kenalan, sampai gue lupa wajah lo, dan sekarang gue udah ingat, gue mulai suka sama lo sejak malam itu, dan please Ra, kasih gue kesempatan, kali ini gue serius, dan gue berharap kita bisa lebih dari tiga bulan." ucap Angga dengan sungguh, membuat Rara yang mendengarnya hampir saja ambruk, mendengar pernyataan cinta dari seseorang yang memang kita sukai, itu sungguh mengesankan bukan.
"Lo serius?"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...