
Shirleen sedang berbincang bersama Ipah, maid yang bekerja di apartemennya.
Sudah satu minggu berlalu, semenjak terakhir kalinya itu ia tidak pernah lagi merasakan sakitnya kontraksi palsu.
Entah apa yang mereka bahas sambil menemani Misca menonton kartun kesukaannya, nampaknya begitu seru.
Tusss, sebuah suara yang hanya bisa didengar Shirleen saja.
Ia sebenarnya menyadari, tapi ia mengabaikan dan masih melanjutkan obrolan serunya.
Celananya mulai sedikit basah. Ia mulai merasa tidak nyaman.
"Ipah, aku ke kamar dulu yaaa" ucapnya.
"iya nona, apa terjadi sesuatu ?" tanya Ipah, ia agak merasa aneh, karena tiba-tiba Nona Mudanya menghentikan obrolan seru mereka.
"Tidak apa, aku hanya ingin ke kamar mandi"
"Apa nona mulas lagi ?" tanya Ipah lagi.
Shirleen menggeleng, kemudian segera berlalu menuju kamarnya, ia memang ingin ke kamar mandi untuk memeriksakan sesuatu.
Sesampainya di kamar mandi, ia membuka celananya, dan melihat celana serta selana dalamnya sudah mulai basah.
Ia bingung, apa lagi ini. Dulu waktu ia akan melahirkan Misca, ia merasakan sakit perut yang tetamat hinga sehari semalam, namun saat ini ia tidak merasakan sakit apapun, hanya saja suara tadi dan ia seperti mengompol saat ini, apakah ia akan melahirkan.
Shirleen mencoba tenang, ia membasuh area intinya, dan keluar kamar mandi berganti celana bersih yang baru.
Ia diam sejenak, memikirkan harus bagaimana.
Ia mencoba menelpon kekasihnya, ia hanya ingin tau kekasihnya itu sedang dimana saat ini.
"Hallo, assalamualaikum... Kau dimana By...?"
^^^"Aku di sekolah, sebentar lagi jam istirahat, ada apa tumben telpon ?"^^^
"Tidak apa, hanya rindu"
^^^"Heemmm ada apa ini, apa aku sedang dirayu ?"^^^
"Nanti kau bisa kesini sebentar setelah pulang sekolah sebelum menuju kantor ?"
^^^"Bisa saja, baiklah aku akan pulang sebentar"^^^
"Daaahhh"
^^^"Daaahhh assalamualaikum..."^^^
"Waalaikumsalam"
Shirleen menghela nafasnya, pacarnya masih di sekolah, apa harus menyusahkannya. Apa ia benar akan melahirkan, tapi ini masih lama dari HPL.
Ia terus berfikir, tidak terasa sprei yang ia duduki juga sudah basah akibat rembesnya cairan yang keluar dari intinya.
__ADS_1
Ia bangkit, dan keluar kamar memanggil Ipah, ia tidak tau apakah itu yang dinamakan cairan ketuban. Ia tidak punya pengalaman tentang ini walaupun ia sudah pernah satu kali melahirkan. Benarlah kata orang, setiap anak beda pula pengalamannya.
"Iya Nona"
"Ipah, bagaimana ini, aku mengeluarkan air terus, apa aku akan melahirkan ?" tanyanya, sebisa mungkin Shirleen menahan kepanikannya.
"Emmm, kita kerumah sakit saja Nona" Ipah mengusulkan begitu, ia tidak mau mengambil resiko, karena ia juga tidak berpengalaman, menikah saja belum mana mungkin ia punya pengalaman untuk hal seperti ini.
"Ya baiklah, apa kau bisa menyetir ?" tanya Shirleen.
"Bisa Nona"
Mereka berdua pun segera berkemas untuk pergi kerumah sakit, Misca digendong oleh Ipah menuju mobil, mobil pun mulai merayap.
Selama perjalanan Shirleen nampak tenang, ia tidak merasakan sakit apapun padahal saat ini ia seperti terus mengompol. Celana dan ****** ******** yang telah dua kali ia ganti pun basah juga.
"Ipah jangan dulu beritahu Jason yah, aku tidak merasakan sakit, aku baik-baik saja, ia sedang di sekolah saat ini, jangan membuatnya khawatir" ucap Shirleen.
"Eemmm baiklah nona" walau ragu, Ipah tetap menurut.
Kini mereka sudah sampai dirumah sakit, Ipah menggendong Misca untuk turun dan menuju tempat pemeriksaan.
Shirleen terlihat baik-baik saja, ia masih bisa berjalan dengan santainya, tidak kesulitan sama sekali kecuali air yang terus merembes membuat basah.
Ia menemui dokter Eri, beruntung hanya ada dua pasien yang mengantri, jadi tidak akan lama.
Jika bersama Jason, ia selalu di istimewakan, namun karena ia sendiri, saat ini ia tidak mau berlebihan, ia ingin menjadi seperti pasien pada umumnya, berhenti menggunakan kekuasaan. Sayangnya ia belum memahami apa yang terjadi padanya sebenarnya.
"Nona Muda, kenapa tidak langsung masuk saja, kenapa harus antri.?" tanya dokter Eri.
"Tidak apa, Jason selalu mengistimewakanku, aku jadi tidak bisa menikmati menjadi pasien biasa dirumah sakit ini" jawabnya.
"Apa ada keluhan ?" tanya dokter Eri lagi, sembari melihat Shirleen dan maidnya bergantian.
Bertepatan saat Shirleen hendak menjawab,
Praaahhh, air yang cukup banyak tumpah merembes serta melewati kakinya sampai dilantai.
Dokter Eri tercengang, ini bukan lagi keluhan pikirnya, seorang dokter obygn sepertinya tentulah tau kalau nona mudanya itu kini akan segera melahirkan.
"Air ketubannya sudah pecah, kau akan segera melahirkan nona" ucapnya.
"Akan melahirkan ?"
Dokter Eri mengangguk dan segera menelpon bidannya untuk menyiapkan segalanya, tidak lama datanglah pasukan pembawa brankar dan menyuruh Shirleen berbaring disana.
Dokter Eri mengikuti, Ipah juga dengan membawa Misca, ia mulai panik, Nona mudanya tadi meminta ia untuk tidak memberi tahu Tuan Mudanya, tapi nona Muda akan segera melahirkan, yah tuan muda harus mengetahui ini pikirnya.
Lalu ia mendial nomor tuan mudanya, ia membeberkan informasi terkini tentang nona mudanya.
Jason yang saat itu sedang istirahat pun segera menuju parkiran, bahkan ia melupakan perlengkapan sekolahnya, ia sudah terlalu panik saat itu.
Shirleen masih bingung, apa benar ia akan melahirkan, rasanya ini beda sekali saat ia melahirkan misca dulu.
__ADS_1
"Apa tidak ada rasa sakit sama sekali ?" Tanya Bidan yang akan menanganinya, saat ini ia sudah berada di ruang bersalin, ia juga sudah berganti pakaian, dan hanya menyisahkan selimut dibagian bawah tubuhnya yang sudah plong.
"Tidak" Jawab Shirleen.
"Ini air ketuban, normal airnya bagus tapi sudah agak kering, mungkin karena terlalu banyak bergerak tadinya, sudah buka empat tapi belum juga merasakan sakit" ucap bidan itu pada bidan lainnya sambil memeriksa bagian inti Shirleen.
"Nona tidak boleh banyak bergerak lagi, diharuskan miring ke kiri, air ketuban nona sudah agak kering, minum air putih yang banyak" ucap bidan lainnya.
Shirleen pasrah, ia pun menurut.
Disampingnya berdiri Ipah yang setia menungguinya, Misca duduk di sofa, ia menatap bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Lama ia berdiam diri, memiringkan tubuhnya kekiri membuat pinggangnya pegal, ditambah lagi sempat-sempatnya saat seperti ini ia ingin buang air kecil.
"Suster, boleh saya pipis" pertanyaan konyol yang secara tidak sadar ia tanyakan.
"Silahkan nona"
Shirleen hendak bangkit dibantu Ipah, kedua wanita ini memang sangat minim pengalaman nampaknya.
"Mau kemana Nona, pipisnya disitu saja, disitu sudah tersedia alasnya supaya memudahkan nona untuk buang air kecil" cegah bu bidan.
"Disini saja ?" mata Shirleen membulat, ia tidak bisa seperti ini.
"Iya Nona muda"
Shirleen mengurungkan niatnya untuk bangkit, ia mencoba menurut untuk buang air kecil disitu, namun tidak bisa, ia tidak biasa melakukannya.
Kalau seperti ini ceritanya, lebih baik aku tahan saja.
Dengan terengah-engah seorang pemuda berlari ke arah ruang bersalin. Ia bertemu dokter Eri yang saat itu hendak masuk ke ruangan yang sama juga.
"Kenapa disini, kau tidak menunggui Shirleen, lagi pula aku sudah menyiapkan ruangan di rumah sakit ini untuk Shirleen melahirkan, kenapa kau bawa ia kesini ?" Raut marah terlihat jelas ditujukan Jason pada dokter Eri.
"Maaf Tuan Muda, nona Shirleen melahirkan jauh mendahului hari perkiraannya, ruangannya belum selesai disiapkan" jelas dokter Eri, setelah ini jabatannya pasti akan segera diperhitungkan.
"Bodoh, apa kalian tidak bisa becus dalam bekerja, bagaimana bisa belum disiapkan, apa saja kerjaan kalian"
"Minggir, aku ingin melihat calon istriku" Jason menghentakkan dada Dokter Eri dengan kasar yang saat itu berdiri didepan pintu.
Ia membuka pintu ruangan bersalin.
"By..."
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote
__ADS_1