
Hari sudah berganti, Jason tidak bisa marah pada istrinya itu, meski niatnya untuk mengabadikan moment lebih lama lagi di tempat yang telah ia siapkan.
Dan hari ini adalah harinya Jacob Aslan Adrian, perayaan kikahan untuk anaknya itu dilangsungkan secara meriah meski hanya dihadiri kerabat dekat saja.
Namun karena sudah bersatunya dua keluarga membuat acara itu tampak ramai.
Seperti yang diketahui, para saudara dan orang terdekat mereka mengetahui kalau Jacob adalah anak kandung Jason, sehingga baik keluarga Adrian ataupun keluarga dari Mama Mila semuanya sangat membanggakan Jacob yang tampak memang menggemaskan.
"Aku nggak nyangka lho, wajar saja sih Jason mau menikahimu, ternyata usia bukan menentukan tuanya wajah seseorang, seperti kamu ini apa sih rahasianya biar tetep cantik awet muda begini ?" ucap salah satu sepupu perempuan Pak Adrian.
Jason tersenyum smirk, meski ia membenarkan ucapan tantenya yang mengatakan Shirleen awet muda dan cantik, namun ia yang bisa membaca pikiran orang lain itu mengetahui perkataan tantenya itu penuh dengan penjilatan.
Keluarga Papanya memang seperti itu, selalu haus akan kekuasaan, selalu bersikap baik padanya namun dibalik itu semua terdapat iri dan sumpah serapah mereka pada keluarga Adrian, lucu sekali kenapa bisa ada golongan orang seperti itu, padahal kadang kerja saja tidak becus namun seolah merekalah sang penguasa.
Lain halnya dengan keluarga mamanya, Mama Mila dilahirkan oleh keluarga terpandang namun tidak sekaya keluarga Adrian. Selalu rendah hati namun bersikap apa adanya, benci ya benci suka ya suka, maka dari itu jika dikatakan dekat dengan kubu mana, Jason lebih hangat pada keluarga dari Mamanya, termasuk sepupunya Dokter Eri.
"Tidak memakai apa-apa tante, saya rasa wajah saya memang sesuai umur saya" ucap Shirleen, ia mulai tidak nyaman karena tantenya Jason yang satu ini sepertinya mempunyai maksud lain.
"Aahh masa sih, tante beneran lho kamu kayak masih abege, bagi-bagi dong rahasianya" ucap Tantenya Jason lagi.
"By, ayo sini sebentar, itu Mama mau nanya apa sama kamu, aku kurang paham" ucap Jason sembari menghampirinya, Jason mengedipkan matanya sehingga membuat Shirleen mengerti bahwa ia baru saja selamat dari salah satu orang yang ingin menjilat.
"Maaf ya tante, aku kesana dulu karena dipanggil mama" ucap Shirleen kemudian berlalu tanpa mendengar jawaban si tante iya atau tidaknya.
"Itu siapa sih By" tanya Shirleen saat ia dan Jason menuju tempat dimana mamanya sedang duduk santai.
"Nggak tau" jawab Jason sembarang.
"Iihh kok nggak tau sih, masa sodara sendiri nggak tau, aku aja sodara sodara mama yang di Turki tau semua kalau aku kesana, padahal aku udah lama banget nggak ke sana"
"Nanti yaaa kita kesana boyong anak-anak sekalian mau" ucap Jason.
"Mau banget, aku memang udah kangen banget sama babaanne"
*Babaanne : Nenek (Turki)
"Iya nanti kalau Jacob sudah bisa diajak jalan-jalan"
__ADS_1
"Eh Junedi" pekik seorang pemuda yang saat ini tengah menatapnya dengan songong.
"Junedi ?" ulang Shirleen. Siapa yang dipanggil pemuda itu Junedi pikirnya.
"Gue cariin juga, nempel mulu lo ama bini lo kek kutil" ucap Afik setelah sampai dihadapan Jason, tak lama ternyata juga muncul Angga dan Yudha dari belakang.
Ooohh ternyata panggilan sayangnya Junedi yaaa, hahahaha.
"Hemmm"
"Eeehh nih hadiah dari gue" ucap Afik sembari memberikan kado untuk anak sahabatnya itu.
Shirleen menerimanya, tak lama Angga dan Yudha juga mengikuti jejak Afik, sehingga ia harus meninggalkan suaminya itu untuk membawa ketiga kado itu ke kamarnya.
"Eh Junedi, boleh nggak nih nyumbang lagu, band kita udah lama nggak tampil, kuy lah" ucap Afik sang vokalist.
"Kalian kalo mau nyumbang lagu ya nyanyi aja" ucap Jason.
"Lo nggak niat manggung nabuh gendang, hahahaha" tanya Angga lagi.
"Nggak mood gue" jawab Jason.
"Eh eh betewe anak buah lo itu mana ?" tanya Angga, ia dari tadi clingak-clinguk mencari keberadaan Shakira di pesta itu.
Jason mengkerutkan keningnya tidak mengerti.
"Aelah Shakira Son, dari tadi gue nggak liat dia disini, gak mungkin gak lo undang kan ?"
Jason langsung melihat-lihat sekitar mencari keberadaan Shakira, dan benar saja anak buahnya itu tengah memandangi Roy seolah tidak ada habisnya. Pasangan yang entah kapan bisa bersatu itu padahal saling berhadapan dan satu meja malah, namun sifat Roy yang cuek sangat tidak sinkron dengan Shakira yang bagai sudah putus urat malunya.
"Tuh" singkat Jason sambil menunjuk dengan arah matanya.
"Eehh sama siapa sih dia, itu kan om om yg waktu itu ?" ucap Angga.
"Yaaahh udah keduluan, lo kesiangan sih" ejek Afik.
"Tapi cocok kok mereka berdua, yang satu ganteng yang satu cantik, sepadanlah" lanjut Afik lagi, semakin membuat Angga panas hati.
__ADS_1
"Eh Fik lo tim siapa sih, kok lo malah muji tuh om om" protes Angga.
"Yeee gue nggak di tim siapa-siapa kali, gue sih dukung yang menang aja" jawab Afik enteng.
"Sialan lo, jadi manusia gak punya pendirian"
"Eh punya yaaa, cuma pengecualian aja kalau cuma buat masalah lo doang" lawan Afik.
Lalu bisa dipastikan keduanya pasti adu mulut,Yudha sudah biasa, ia bahkan sudah pergi dengan Jason meninggalkan keduanya.
"Lo kapan move on dari si Sarah ?" tanya Jason tiba-tiba.
"Heeehh, susah gue" jawab Yudha, matanya seakan memandang jauh yang dulu-dulu.
"Dia aja udah married Yud, lo gak bisa nungguin dia" ucap Jason.
Begitulah persahabatan mereka. jika memang diperlukan mereka bisa saja menjadi tempat untuk berkeluh kesah, Yudha sudah lama menjomblo semenjak putus dengan pacarnya Sarah waktu itu yang ternyata hamil diluar nikah.
Yudha merasa dipermainkan, karena sampai sehari sebelum Sarah menikah, Sarah masih tetap menjadi pacarnya dan seakan sangat setia padanya.
Memanggil panggilan sayang, keduanya terlihat mesra, siapa sangka cintanya bahkan harus dibalas dengan penghianatan.
Ia mengetahui Sarah akan menikah dari orang tua Sarah, ia yang tidak percaya bahwa Sarah akan tega menghianatinya memutuskan untuk hadir di pernikahan pacarnya itu.
Dan benar saja ia menyaksikan sendiri seorang laki-laki yang tidak sama sekali ia kenal sedang mengucapkan ijab qobul sebagai syarat menikahi Sarah. Sarahnya waktu itu sudah resmi menjadi milik orang lain.
Bahkan desus-desus yang ia dengar, ternyata pacarnya itu sudah hamil tiga bulan saat itu, sungguh hebat bukan main, siapa yang menghamilinya tentu saja pria yang saat itu telah menjadi suami sarah, mereka berdua tampak bahagia tanpa memikirkan perasaannya yang hancur saat itu.
Berfoto mesra keduanya tampak tidak canggung sama sekali, seakan sudah terbiasa bersentuhan seperti itu.
Ingin rasanya saat itu Yudha mencaci maki Sarah, namun apa daya keluarganya tidak mengajarkan ia berbuat segila itu. Apa lagi di tengah-tengah acara orang lain.
Kenangan buruk itu selalu ia simpan, ia sama sekali belum bisa melupakan Sarah, banyak hal yang sudah ia lalui bersama mantannya itu, mantan yang tidak pernah terucap kata putus baik darinya ataupun dari mulut Sarah. Keadaanlah yang memutuskan mereka.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!