
"Cih, dasar nggak tau di untung !"
"Apa lo bilang ?" tanya wanita itu, samar ia dengar pria disampingnya ini tadi mengumpat.
"Gue bilang, dasar lo manusia nggak tau di untung ?" ucap Afik, berbicara lebih jelas.
"Beraninya lo, lo nggak tau gue siapa hah ?" garang si wanita.
"Enggak, dan perlu lo tau gue juga nggak mau tau lo siapa !" yakin Afik.
Ciiittt,
"Turun lo !" sentak si wanita pada Afik, jelas ia mengusir Afik sekarang.
"Lo ngusir gue ?" tanya Afik.
"Iya, kenapa ? Lo denger ya gue itu udah nolongin lo tadi dari orang-orangnya Davin, dan lo malah bilang gue nggak tau di untung, waras lo ?" jelasnya.
"Ow terimakasih sekali nona good job, ya gue rasa gue emang harus mengatakan itu, denger ya gadis maha benar, kalau bukan karena gue yang ngehalangin itu tangan manusia super yang udah sedikit lagi mau nampar lo, mungkin lo udah di UGD sekarang." jelas Afik tak kalah tegas, haruskah ia pamer jasanya tadi, untuk menyadarkan pada si wanita siapa juga yang mau berurusan dengan para pengawal berotot super.
"Hah, maksud lo ?" tanya si wanita tidak mengerti.
"Iya, lo mungkin udah terpental entah berapa meter dari TKP, sekarang gue tanya, lo waras hah ?" dengus Afik tak kalah kesal.
"Gue, mau ditampar ?" tanyanya ulang memastikan.
"Iye Markonah, makanya yang digedein itu tete* jangan emosi aja yang lo gedein." sindir Afik.
Si wanita nampak menatap tajam Afik yang memang tidak memfilter ucapannya.
"Kurang ajar si Davin." umpatnya, kemudian memutar mobilnya kembali melaju menuju Bar.
"Ett ett, mau kemana lo ?" tanya Afik.
"Mau ke sana lagi, berani banget dia mau nampar gue."
"Anjim nih cewek bar bar nggak kira-kira, udah bikin si otong cowoknya jadi ronsokan malah belum puas cari masalah." gumam Afik menggerutu.
"Berenti, gue nggak ikutan." ucap Afik.
Ciittt,
"Anjim, pelan-pelan bisa nggak sih." kesal Afik, karena si wanita selalu bertindak semaunya, termasuk memberhentikan mobil dengan cara tiba-tiba.
"Turun lo cowok mesum !" suruh si wanita.
Afik menggeleng pelan, ya Tuhan mengapa juga ia bisa bertemu singa betina yang garang naudzubilah.
__ADS_1
Drettt drettt,
Ponsel Afik seketika berbunyi, benar sekali dugaannya pastilah si Angga yang menelpon.
"Halo..."
^^^"Lo dimana ege ?"^^^
"Gue di jalan, mau pulang."
^^^"Wah gak waras lo main tinggal aja, ada apaan sih, lo kan gak bawa mobil nggak bisa ya nunggu gue aja."^^^
"Gue ada urusan mendadak."
^^^"Gue kira lo kabur sama si cewek yang bikin masalah di Bar ini, soalnya tadi pada heboh katanya ada yang bikin masalah, sepasang manusia nggak tau diri katanya, ciri-ciri cowoknya mirip banget kayak lo, tapi gue yakin lo nggak mungkin bikin masalah, lo kan cinta damai."^^^
Afik sedikit tersindir, kurang ajar si Angga, beraninya bilang kalau dirinya manusia nggak tau diri.
^^^"Fik, lo belum mati kan ?"^^^
"Iye, udah ya gue masih ada urusan ini, harus pulang cepet."
^^^"Ya udah, selamat malam sayang..."^^^
"Jijik gue Ga, lo lambat banget sih mampusnya."
"Anj!"
Afik menutup telponnya, ia berdecak, teman laknatnya mulai tidak waras di seberang sana.
"Siapa ?" tanya si wanita.
Afik menatap heran, kenapa bertanya, pentingkah ?
"Temen." jawab Afik.
"Pacar lo ?" tanya si wanita lagi.
"Peduli gitu ?" Afik cuek saja, ia hendak membuka pintu mobil untuk turun.
"Ya enggak, gue cuma nanya, btw makasih ya !" ucap wanita itu pada akhirnya.
Afik menyeringit heran, kenapa berubah pikiran, kenapa harus berubah menjadi wanita lemah lembut begini, dia kan jadi serba salah udah ngasarin tadi, maksudnya kalau bobrok ya bobrok aja sekalian.
"Santai aja kali, gue turun, gue saranin lo jangan balik deh ke tempat tadi, maksud gue gak usah cari masalah." ucap Afik, ia melihat wanita yang berterimakasih padanya baru ini, ada raut kesedihan yang terpancar, dan sayangnya dirinya adalah spesies lelaki yang tidak bisa meninggalkan wanita kalau dalam keadaan bersedih.
"Gue sama dia mau tunangan bentar lagi, tepatnya seminggu lagi, bokap gue punya utang ke perusahaan bokapnya, awalnya gue gak terima, kok idup gue gitu amat jadinya, maksud gue, gue nggak lebih dari gadis penebus hutang kan, nolak pun percuma, mungkin gue bisa hidup susah, cari kerja buat hidup, tapi nyokap gue butuh duit buat berobat ginjalnya, dan gue nggak rela nyokap gue sakit-sakitan sementara gue nggak bisa ngelakuin apa-apa."
__ADS_1
Dih kok curhat nih cewek, kemana singa yang mengaum garang tadi ?.
Afik tidak jadi membuka pintu mobil, ia memilih mendengarkan curhatan si gadis, bukan apa ia hanya merasa tidak tega dan kepergiannya seperti kurang tepat.
"Lo bener, gue nggak bisa ke sana dan lawan dia, gue masih butuh dia kan, gue nggak boleh egois." ucap si wanita itu, tatapannya lurus ke depan, ada titik air mata yang menggenang di pelupuk, Afik bisa melihat itu.
"Sorry !" ucap Afik, ia memberikan tissue yang memang sudah tersedia di dashboard mobil.
Afik bisa memahami, saat kita sedang kesal dan tidak bisa marah atau melampiaskan, maka sang hati sangat sulit untuk menerima.
"Dimana rumah lo, biar gue antar." tanya si wanita.
"Jalan SS nomor 12," ucap Afik, "Kalau lo masih ada tujuan lain biar gue cari taxi aja."
"Enggak biar gue antar."
Wanita itu kemudian mengantarkan Afik sampai rumah, dilihatnya rumah Afik yang lumayan mewah, ternyata orang yang diajaknya bertengkar tadi memiliki kasta yang sama dengannya, pantas saja terlihat cuek dan seolah tidak perduli dengan dirinya.
"Ini rumah lo ?" tanyanya.
"Bukan, rumah orang tua gue ! Gue belum punya rumah kali." ucap Afik santai.
Si wanita nampak tersenyum, ia sedikit tergelitik kala mendengar jawaban Afik. "Zarinda, panggil aja Zarin !" ucapnya memperkenalkan diri.
Afik terdiam, nama yang hampir sama hanya berbeda satu huruf saja, ada apa dengan jantungnya yang nampak berdegup kencang kala mengetahui nama si wanita.
"Dan lo ?" tanya Zarin membuyarkan Afik dari lamunan.
"Eh, emm emm Afik, biasanya temen-temen gue panggil gue gitu sih, tapi kalau dirumah gue dipanggil abang." garing, saking gugupnya Afik malah melebih-lebihkan sebuah perkenalan.
"Hah, lo itu lucu banget sih."
"Maksudnya ?" tanya heran Afik.
"Iya, jadi gue harus panggil lo apa, Afik aja atau Abang juga kayak orang tua lo ?" tanya Zarin.
"Terserah lo, tapi gue saranin panggil sayang !" ucap Afik gombal, nampaknya hantu tengil yang bersarang di badannya sudah menetralkan kegugupannya tadi.
"Hah, apa tadi ?" Zarin melototkan matanya, apa saat ini ia sedang digombali.
"Eemm." Afik tersenyum samar, seperti inilah kadang ia melancarkan aksinya menggoda gadis-gadis.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1