Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Pulang.


__ADS_3

Hari ini Shirleen, Jason dan beserta rombongannya akan kembali ke ibu kota, Jason harus sekolah dan bekerja, ia sudah lama bercuti, lagipun untuk apa juga berlama-lama ia tidak akan bisa honeymoon untuk saat ini.


Mereka saling berpelukan haru terkecuali Jason, manusia dingin dan kaku sepertinya mana bisa mengikuti drama berpamitan seperti itu.


Jacob nampak anteng di dekapan papanya, bayi yang belum genap satu bulan itu sangat dekat dengan Jason.


"Mau kemana kita, mau pulang dek yaaa" ucap Mama Mila, ia menoel-noel pipi Jacob yang chubby.


"Jason, kamu mau kan memaafkan papa, papa sudah menyesal sayang, kembali kerumah yaa" lanjutnya, Mama Mila sudah berani bicara begitu karena hubungannya dan Jason sudah membaik semenjak ia memutuskan untuk menikahkan putranya dengan wanita yang ia cintai, putranya sudah mulai kembali bersikap seperti biasa padanya.


Jason hanya diam, terus terang ia memang masih benci, papanya melakukan kesalahan bukan hanya mencampuri urusannya dengan Shirleen dan berniat memisahkan mereka, namun Papanya lah alasan mengapa ia sangat tertekan di sepanjang hidupnya.


"Akan aku pikirkan, aku akan mengunjungi Papa jika ada waktu, tapi maaf aku tidak bisa tinggal dirumah lagi, aku sudah memutuskan, kami akan tinggal berempat dirumah kami" jawab Jason, sebenarnya bukan jika ada waktu namun jika ia sudah bisa meredam benci mungkin baru ia akan mengunjungi Papanya.


"Baiklah, Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian" walau berat tapi setidaknya ia tidak jauh dari putranya seperti beberapa hari yang lalu, jujur saja saat Jason tidak lagi mau mendengarkan kata-katanya saat itu juga ia merasa sakit, saat itu ia seperti gagal menjadi orang tua, diabaikan lebih sakit dari pada harus berdebat dengan putranya.


"Ma, Shirleen pasti bakalan sering main kerumah mama kok, sama Misca, Jacob juga" ucap Shirleen, ia tau saat ini mertuanya itu sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Iya dong sayang, itu harus, Misca nanti nginep ya di rumah Oma, kita main" ucap Mama Mila pada Misca, kehadiran Misca dan Jacob menambah kebahagiaannya, walau bukan darah dagingnya, namun kedua jagoan kecil yang sudah ia anggap cucu sendiri itulah yang setidaknya bisa ia harapkan untuk merawatnya kelak saat dimasa tua.


"Iya Oma, Misca nanti pasti nginep rumah oma lagi"


Mobil pun sudah sampai di bandara, Pak Ramli dan kedua anak buahnya membantu mengangkat koper semua orang.

__ADS_1


Cukup ramai, mereka tadi dibuat terpisah dua mobil. Mobil yang ditumpangi Jason dikemudikan Pak Ramli, ada Shirleen dan dua jagoannya, serta Mama Mila dan Ipah dibelakang.


Sedangkan mobil satunya, ada kedua anak buah Pak Ramli dan Bi Ida yang membawa kedua orang tua Shirleen dan Sekar.


Sekali lagi drama berpelukan terjadi, Mama Mila berterima kasih pada Bi Ida yang telah merawat Shirleen selama Shirleen tinggal di desa.


"Nanti kami pasti kembali lagi Bi, desanya sangat nyaman, banyak ikan segar yang rasanya enak dimasak apa saja, aku selalu selera makan jika tinggal disini" ucap Shirleen pada Bi Ida.


"Iya Nona, nanti kalau den Jacob sudah boleh bepergian kemana-mana kita jalan-jalan menjelajahi pulau Belitung ini, disini pantainya bagus-bagus nona harus kembali lagi nanti kita piknik dipantai, kita bakar-bakar ikan segar, Bibi tunggu yaaa" dengan hati-hati karena tidak biasa berbahasa indonesia dengan baik Bi Ida mengucapkan apa yang ada dihatinya. Ia sudah menganggap Shirleen sebagai keluarga bukan lagi orang lain.


"Iya Bibi, sampaikan juga salamku pada para, tetangga, maaf tidak bisa berpamitan semuanya serba mendadak, tolong sampaikan yaaa"


"Iya Nona pasti"


...###########...


"Ngapain kamu mau tinggal disini ?" tanya Riska yang baru saja membukakan pintu rumah Ibunya, ia memang beberapa hari ini tinggal disitu katena menghindari Mas Rendi yang terus saja memohon supaya ia mencabut gugatan cerainya, namun ia kembali terbakar amarah kala mendapati adik bungsunya itu membawa dua koper besar berikut anak dan seorang pembantunya.


"Aku mau tinggal disini kak untuk sementara waktu" jawab Athar.


"Kenapa nggak tinggal dirumah kamu ?" tanya Riska lagi sambil bersedekap dada, nadanya ketus sekali.


"Aku dipecat, duitku habis buat bayar hutang sama perusahaan, aku gak tau mau tinggal dimana, tolong jangan ngajak ribut kak, seenggaknya biarkan aku dan anakku tinggal disini sampai aku dapat kerjaan lagi"

__ADS_1


Masalah yang dihadapi Athar sungguh berat, belum lagi jika si sulung mengajaknya adu mulut, ia tidak akan kuat, biarkan ia menenangkan otaknya barang sejenak.


"Dipecat, gimana bisa ?"


"Ya dipecat, gak ada yang gak mungkin namanya juga cuma kerja sama orang, mau setinggi apapun jabatan kita tetap aja cuma babu, yang bisa dibuang kapan saja" Athar memilih berucap demikian, ia enggan mengatakan yang sebenarnya, entah kakaknya itu akan tau atau tidak nantinya, tapi kali ini ia hanya ingin kakaknya tidak bertanya lagi.


"Terus kalau kamu gak kerja gimana dengan Ibu, kamu jangan lupa yaaa kamu yang udah buat ibu sampe jadi sakit kek gitu" Riska mengingatkan lagi.


"Iya... Aku gak lupa, bukannya selama ini aku juga yang paling banyak ngeluarin duit, bahkan kalian berempat gak pernah sepeserpun bantuin aku, kalau tiba-tiba aku gak punya duit lagi ya kalian mikir dong, emangnya ada gitu anak yang sengaja buat orang tuanya sakit ?"


"Kamu..." geram Riska.


"Udah yaaa kak, gak usah ngajak debat, aku capek kak, mobil udah aku jual, sekarang aku gak punya apa-apa lagi selain motor matic second didepan, apa kalian gak ada rasa kasihan sama aku"


"Kalau kalian sedikit saja masih nganggep aku sebagai adik kalian, ya kalian gantiin aku dong ngeluarin biaya buat rawat ibu, anak ibu kan bukan cuma aku doang, atau nggak gini aja biar kalian gak ngeluarin duit banyak, berhenti memfasilitasin Ibu di rumah sakit elit kek gitu, kita rawat dirumah aja, pekerjakan orang buat rawat ibu, rumah sakit elit itu mahal, harga kamar satu malamnya aja udah bisa gaji pembantu selama setahun" ucapnya lalu berlalu pergi, menunjukkan kamar Sri, ia juga meminta Fahira untuk tidur dengan Sri malam ini, bukan apa ia hanya ingin istirahat tanpa terganggu malam ini, ia benar-benar letih, dari fisik hingga ke otaknya perlu direfresh dengan tidur yang cukup.


Ia baru saja melalui hidup konyolnya hari ini, ia saja masih belum percaya kalau ia sekarang sudah jatuh miskin dan tak punya apa-apa lagi.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2