Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
"Eemm Tuan, bolehlah saya... ?"


__ADS_3

Pagi menjelang, kedua anak manusia itu masih betah membalut tubuhnya dengan selimut.


Hujan masih terus berlanjut, Jason sudah memutuskan tidak akan berangkat sekolah, baginya palingan sebentar lagi pasti akan ada pengumuman bahwa sekolah di liburkan untuk sementara.


Semalam ia sudah melihat sendiri begitu banyak akses jalan yang ditutup, banjir setinggi lutut orang dewasa menggenangi sebagian jalan, kembali tidur mungkin lebih baik sepertinya.


"Papa bangun, ayo kita olahraga" ajak Misca yang tiba-tiba sudah berada ditengah mereka.


"Iya nanti yaaa, Papa ke kamar mandi dulu" walau berat namun Jason tetap bangkit dan menuruti permintaan anak sambungnya itu. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Pagi adik bayi" sapa Misca pada Jacob yang masih betah berada di box bayi disamping tempat tidur.


"Pagi Kakak Misca, hemmm kakak udah wangi udah mandi yaaa" ucap Shirleen.


"Iya dong, adik bayi belum mandi yaaa"


"Hemmm tau aja kakak ih" ucap Shirleen memanjakan anak sulungnya itu.


"Ayo, kakak mau olahraga apa ?" tanya Jason pada Misca saat ia sudah keluar dari kamar mandi.


"Papa, kira-kira kita olahraga apa ?"


"Nggak tau, diluar kan masih hujan" ucap Jason lagi.


"Hemmm"


"Kita main pingpong aja, ayo papa ajarin mau ?" ajak Jason.


"Mauuuu"


Lalu Jason dan Misca menuju ruangan olahraga yang didalamnya ternyata juga sudah ada meja pingpong.


"Papa pingpong itu apa ?" tanya Misca, jadi ternyata ia tadi hanya asal saja menyebut mau.


"Pingpong itu tenis meja, dulu waktu papa di sekolah dasar papa sering main olahraga ini, nanti papa bakal ajarin kakak pokoknya"


"Asyiikkk" girang Misca.

__ADS_1


Sementara di komplek perumahan padat penduduk.


"Duh Sri, airnya makin naik ini udah semata kaki" ujar Bu Halima, komplek perumahan mereka sayangnya harus menjadi salah satu kawasan yang terkena banjir.


Sri masih menggendong Fahira, disampingnya ada Bu Halima, sementara Pak Safar dan Dareen membersihkan air yang mulai memasuki rumah mereka.


Dareen masih memusuhi Sri, ia juga belum mendapatkan kontrakan untuk Sri tinggali, dan lebih parahnya saat ini ia harus melihat Sri tidak ikut membantunya berbenah rumah karena ada bayi yang selalu digendong wanita itu. Yah wanita karena ia tidak mengetahui kalau Sri sebenarnya masih gadis.


Ia dengan terpaksa melakukan pekerjaannya, Pak Safar yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya.


"Dareen kerjanya yang benar, kamu lihat ini, kamu malah membuat basah sampe ke dinding-dinding ini" ujar Pak Safar.


"Iya Pak"


Setelah dua jam lamanya akhirnya semua itu bisa diatasi, rumah mereka kembali bersih tanpa adanya air yang menggenang.


Fahira sedang tidur saat ini, tiba-tiba saat Dareen lewat depan kamar tamu yang dipakai Sri, ia melihat Sri yang tengah termenung seakan menatap jauh entah kemana.


Sekilas ia pandangi wajah itu, Sri memang tidak terlalu cantik, tapi mukanya putih bersih, rambutnya selalu ditutupi oleh hijab yang panjang, pun dengan pakaiannya yang ia kenakan selalu longgar, kalau saja Sri tidak mempunyai anak mungkin Sri adalah salah satu perempuan yang masuk dalam kriterianya.


Tapi tidak ia kembali memutus pandangan itu, itu adalah zinah mata, lagi pula dipikiran Dareen anak itu adalah anak Sri, berarti apa yang membungkus wanita itu tidaklah lebih dari sebuah topeng belaka.


Sri masih belum menyadari kehadiran Dareen didepan kamarnya, ia begitu merindukan orang tuanya saat ini.


Niatnya ingin membahagiakan orang tuanya harus ia tunda terlebih dahulu, bahkan mungkin saja saat ini orang tuanya sedang khawatir memikirkan ia yang berada di sini, mengingat se Indonesia pasti tau kalau Ibu kota sedang dilanda banjir di berbagai titik saat ini.


Ia tidak punya ponsel, saat ia sedang menunggu kontrak kerja waktu itu sayang sekali waktu yang cukup lama membuatnya harus kehabisan uang yang ia bawa dari kampungnya, jelas saja habis karena jumlahnya tidak lebih dari lima ratus ribu.


Maka dari itu, dengan terpaksa ia harus menjual harta satu-satunya itu untuk bertahan hidup sebelum akhirnya seminggu kemudian ia menerima kontrak kerja.


Lalu sekarang bagaimana bisa ia menelpon orang tuanya sementara orang tuanya dikampung tidak mempunyai ponsel, waktu itu ia berjanji akan selalu memberi kabar pada orang tuanya lewat nomor Dwi tetangganya, namun sayang sekali ia tidak mencatat nomor Dwi sebelum menjual ponselnya waktu itu.


Kini ia hanya bisa menahan rindu ini, rindu dan rasa bersalah telah meninggalkan orang tuanya di kampung dan memilih merantau.


Anak sungai itu tetap saja harus mengalir, Sri merasa sesak didadanya, ternyata rasanya berat sekali jauh dari orang tua dengan cobaan yang bertubi-tubi seperti ini.


Tiba-tiba ia mendapatkan satu ide supaya ia bisa menghubungi orang tuanya, yaah ide yang tidak pernah terbayangkan olehnya dari kemarin-kemarin.

__ADS_1


Ia lalu membuyarkan lamunannya, dan langsung saja matanya bertemu dengan mata Dareen yang juga tengah menatapnya sebelum akhirnya pandangan itu terputus karena keduanya yang sama sama menyadari.


Sri berpikir sejak kapan Dareen berada di depan kamarnya.


Ia lalu melangkah mendekat kearah Dareen.


"Tuan Dareen, ada yang bisa saya bantu" tanya Sri, walau selalu saja dibuat kesal oleh Dareen namun ia tetap bisa menerima dengan lapang, biarkan saja, mungkin beginilah nasib orang yang hanya menumpang sepertinya.


"Nggak ada, ngapain lo deketin gue" bentak Dareen.


"Maaf Tuan Dareen, kalau Tuan Dareen tidak memerlukan bantuan, tapi bolehkah saya yang meminta bantuan tuan ?" tanya Sri hati-hati.


"Bantuan ? dari gue ?" heran Dareen, untuk apa Sri meminta bantuan darinya, punya nyali juga Sri ini pikirnya.


"Iya tuan, sekali ini saja, saya benar-benar butuh bantuan tuan" ucap Sri mengiba, membuat Dareen tidak tega dan akhirnya luluh juga.


"Bantuan apa emangnya ? Dan apa untungnya buat gue jika mau bantuin lo ?" tanya licik Dareen.


"Eemm itu terserah tuan saja, mau menyuruh saya bekerja atau apapun saya akan menuruti" ucap Sri, ia benar-benar butuh bantuan Dareen saat ini.


"Beneran ? Kalau gue mau minta sesuatu dari lo, bakal lo kasih nggak ?" tanya Dareen menyeringai.


Sri bergidik ngeri, namun mau bagaimana lagi, hanya dengan bantuan Dareen mungkin ia bisa menghubungi keluarganya lagi.


"Iya tuan, jika saya mampu pasti saya kasih apapun untuk tuan sebagai imbalannya" Pasrah Sri.


"Yaudah, apaan ?" tanya Dareen lagi.


"Maksud Tuan ?"


"Iya apaan yang musti gue bantu emangnya ?" ujar Dareen, ia juga sudah tidak sabaran ingin mendengar bantuan apa yang akan Sri minta darinya.


"Eeemm Tuan, bolehlah saya..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2