
"By, sini deh aku mau ngomong ?"pinta Jason pada istrinya itu supaya bisa duduk disampingnya.
"Ada apa By ?"
"Heeemm, begini aku ingin menanyakan sesuatu denganmu" ungkap Jason.
"Yaaa"
"Kau yakin tidak mau menjelaskan apa yang waktu itu kau bicarakan dengan temanmu ?" tanya Jason. Ia menyeringai, senang sekali rasanya memggoda istrinya itu.
"By..." Wajah Shirleen pias menahan malu, ia tidak bisa lagi berkata apapun, pada akhirnya Jason pasti akan mengetahui semuanya.
"Katakan" goda Jason.
Shirleen diam saja, ia masih betah tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"By, dengarkan aku, aku menerimamu apa adanya, saat aku memutuskan untuk menikahimu kau bahkan sudah dalam keadaan tidak perawan karena tentu saja Misca sudah lahir dari rahimmu dan terlebih kau habis melahirkan Jacob, aku sadar dan sangat menyadari itu, lalu untuk apa kau ingin membahagiakan aku dengan cara seperti itu ?" tanya Jason.
Bukannya malah mengerti Shirleen bahkan menjadi semakin malu karena perkataan Jason yang kelewat vulgar.
"By..." ucap Jason, kini ia menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi istrinya.
"Kau adalah satu-satunya, aku tidak perlu merasakan bagaimana rasanya malam pertama dengan sensasi seperti itu, kau tidak akan bisa merubah keadaan, cukup layani aku dengan service terbaikmu, sudah aku tidak perduli mau bagaimanapun kondisimu" ucap Jason lagi.
"Kalau aku akan menyesal karena keadaanmu yang seperti itu, aku tidak akan melilihmu dari sekian banyak wanita" Jason mengecup singkat bibir ranum istrinya yang ternyata sudah bergetar menahan isak tangis.
"Maafin aku By" ucap Shirleen lirih.
Jason merengkuh istrinya itu kedalam pelukannya, sungguh ia sangat bahagia menikahi Shirleen walaupun status Shirleen yang sudah janda saat itu, ia tidak akan pernah rugi, karena ini perihal cinta dan rasa nyaman dihati, bukan hanya soal ranjang belaka.
Pelan bahu itu berguncang jua, Shirleen tidak sanggup menahan tangis bahagianya, betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Jason yang tak pernah hanya memikirkan perasaan sendiri, Jason selalu memikirkannya dan keluarga kecilnya juga.
"Jadilah diri sendiri, apapun keadaanmu aku menerimamu apa adanya, ingat itu" ucap Jason sambil mengelus punggung istrinya.
Shirleen tersenyum haru sembari masih dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Terimakasih Tuhan, terimakasih telah memberikanku jawaban saat aku mulai ragu.
Yudha masih belum juga keluar dari kamarnya, hari ini sekolah diliburkan sehingga ia enggan kekuar kamar apa lagi ia mengetahui kalau Weni juga belum pulang dari rumahnya.
Yudha masih terbayang-bayang tubuh polos Weni yang sempat ia lihat dadakan kemarin, dan setiap kali mengingat itu entah sejak kapan ada desiran aneh yang direaksikan tubuhnya.
Yudha menggelengkan kepalanya pelan, otaknya sudah terkontaminasi virus kemesuman, tiba-tiba ia terkenang Sarah mantannya dulu dan tanpa sadar ia membandingkan Weni dengan mantannya itu.
Yudha juga mulai menyadari hal aneh pada dirinya, karena setiap kali ia berbicara dengan Weni ia bisa banyak bicara tidak seperti pada gadis lain.
Wajah Weni yang menyebalkan baginya membuat kekesalannya selalu memuncak jika dihadapkan dengan Weni.
Dan tanpa sadar lagi ia mulai tersenyum memikirkan betapa cerobohnya Weni.
Tapi tidak ini masih terlalu dini baginya, mana mungkin ia bisa menyukai Weni secepat itu, lagi pun selama ini pertemuannya dan weni selalu menciptakan kesan buruk bagi keduanya.
"Heeeh" Yudha menghebuskan nafasnya kasar, entah pikirannya mungkin sudah gila karena sudah memikirkan wanita itu terus menerus.
"Den Yudha, dipanggil Mama den, katanya ditunggu di dapur, makan siang" ucap pembantu di rumahnya.
Yudha melihat dimeja makan sudah dipenuhi dengan beragam makanan, ada acara apa ini pikirnya tumben sekali mamanya masak sebanyak ini.
"Yudha ayo sini nak, kita makan uhhh udah laper banget ini mama setelah masak-masak bareng Weni" ucap Dokter Wina, dari tadi ia dan Weni masak berbagai makanan, mama Wina seakan menemukan teman yang klop bersama Weni, karena ternyata Weni juga doyan memasak sepertinya.
"Sebanyak ini Ma, siapa yang bakal ngabisin ?" tanya Yudha, sungguh ini adalah sebuah pemborosan.
"Sebenarnya tadi tuh mama cuma mau masak satu atau dua menu, tapi karena keasikan akhirnya jadi deh banyak gini, hehe" tukas Mama Wina sambil nyengir.
"Ma, ini tuh satu dua tiga empat... Astagah Ma ini dua belas menu, Mama nggak kira-kira yaaa" protes Yudha.
"Yaah mau gimana lagi, udah dibikin juga, ayo kita makan-makan, kamu harus cobain masakan Weni enak lho ternyata"
Yudha mulai mengambil piringnya dan mengambil menu makan siangnya, benar kata mamanya, masakan kali ini beda, ini enak dan malah ia tidak percaya ternyata wanita ceroboh seperti Weni bisa memasak seenak ini.
"Kenapa ? kok ekspresinya gitu amat ?" tanya Weni yang melihat Yudha seperti kebingungan.
__ADS_1
"Masakan lo asin" dusta Yudha
Weni tertunduk, Mama Wina kembali merasai apa yang dimakan Yudha, ia bingung karena masakannya enak dan pas di lidah apanya yang asin coba.
"Nggak asin kok, enak malah" ucap Mama Wina.
"Tapi masih bisa dimakan lah, apa mungkin karena gue laper kali" ucap Yudha lagi, ia enggan mengakui kepiawaian Weni dalam hal memasak.
"Heh ngaco kamu, bilang aja doyan karena enak, pake ngeles segala" ucap Mama Wina sambil menatap tajam kearah anak bujangnya.
"Aku kan jujur" ucap Yudha dengan angkuhnya, ia masih enggan mengakui, pokoknya ia sebisa mungkin membatasi diri untuk menganggap Weni adalah orang yang menyenangkan, dan menurutnya segala kelebihan Weni bukan apa-apa baginya.
"Yudha..." Bentak Mama Wina. Ia tidak terima karena ia dan Weni sendiri yang memasak itu semua. Sedikit banyaknya ia juga merasa tidak dihargai.
"Sudah Tante, mungkin masakan kita tidak sesuai di lidah Yudha, jadi bukan selerahnya" bela Weni, ia tidak boleh sakit hati, pemuda dihadapannya ini memang menyebalkan, lantas kenapa harus sakit hati, sungguh hal wajar jika Yudha bersikap demikian padanya.
"Nah tuh tau, udah ah aku udah selesai, aku mau balik ke kamar, ini aja aku nggak habis makannya" ucap Yudha lagi, padahal di piringnya tinggal sedikit lagi sisa makanan yang katanya tidak habis itu.
Sungguh menggemaskan, Weni geram sekali rasanya ingin sekali ia mengatai dan mencaci Yudha saat itu juga, tapi ia masih tau adat bertamu ke rumah orang dengan baik.
Tarik nafas buang, tarik nafas buang, sabar Weni tuh anak emang ngeselin, nggak guna ngeladenin manusia sejenis itu.
Sementara Yudha, ia merutuki mulutnya yang sudah lepas kontrol, ia sadar ucapannya menyakiti hati Weni, tapi karena benteng yang harus ia bangun untuk membuatnya tidak boleh sampai menyukai Weni, maka ia jadinya mengatakan hal seburuk itu.
"Apa gue udah keterlaluan ya tadi ?" gumamnya pelan sembari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Aahh ini demi gue juga, jangan sampai gue jatuh cinta sama dia, dia bukan tipe gue, tipe gue tuh kayak Sarah bukan yang ceroboh kayak tuh cewek, kenapa juga mama harus kenal dan akrab sama dia" monolog Yudha, ternyata ia belum juga membuka hati.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1