
"Kak..."
"Athar..." ucap Riska terkejut, pecahan kaca yang awalnya ia todongkan kearahnya tadi nyatanya malah berbalik menembus perut Athar, saat Athar mencoba memeluknya tadi.
Pelan tubuh itu ambruk di pelukannya, Riska panik, ia tidak tau harus melakukan apa, ia sudah melukai Athar, semoga saja adiknya itu tidak mati.
Dirumah tidak ada mobil, satu-satunya jalan adalah menghubungi mas Rendi, benar dari pada ia memberitahukan pada para tetangga mengenai apa yang terjadi pada adiknya, mungkin lebih baik ia menghubungi Rendi.
Athar masih sadar, mata itu menyipit seolah menahan sakit, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan berakhir seperti ini.
Shirleen, di seumur hidupku percayalah, aku tetap mencintaimu, kita dipisahkan karena sebuah kesalahan, kau harus bahagia, jika aku mati nanti, ku harap tidak ada kesedihan di mata dan hatimu, dia terlalu baik, jangan membuat dia cemburu hanya karena kau ingin peduli denganku.
Untuk Ibu, aku sudah memaafkanmu, karena meski aku memakimu di sepanjang hidupku, itu tidak akan bisa mengembalikan Ilenku, jadi jika aku pergi, ibu tidak perlu merasa bersalah, aku ikhlas dengan semua yang pernah Ibu lakukan.
Untuk Misca, ayah sayang kamu nak, ayah selalu menyayangimu, maafkan ayah yang belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu, anak ayah tetap akan selalu menjadi anak ayah meski ayah tidak ada lagi di dunia ini, ayah percaya papamu akan membahagiakanmu dengan seluruh hidupnya, ayah tidak lagi khawatir jika ayah harus pergi saat ini.
Pelan mata itu tertutup, bersamaan dengan suara yang tidak bisa lagi ia dengar, Athar sudah tidak sadarkan diri.
"Athar..." teriak Riska.
Ia ingat, ada Fahri yang merawat ibunya, ia segera menuju kamar Fahri untuk meminta bantuan, namun sayang sekali Fahri ternyata tidak ada di rumahnya.
"Aarrggghh" ponselnya terus saja menghubungi Rendi, entah sudah panggilan ke berapa kalinya.
Kini ia mencoba menghubungi Delia, meski kakak beradik itu sedang tidak akur karena yang terjadi pada Tiara, namun Riska tidak tau harus minta tolong dengan siapa lagi.
Beruntung dalam satu kali panggilan Delia langsung saja menjawab telponnya.
"Del, halo Del"
^^^"Hemm"^^^
"Del, Athar Del, dia tertusuk, maksudku dia kena tusuk"
^^^"Apa ?"^^^
"Del kamu cepat kesini. bawa mobil. kita harus kerumah sakit, Athar tertusuk pecahan kaca"
^^^"Oi iya kak, iya"^^^
Delia diseberang sana ingin sekali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun ia terlau memikirkan adik bungsunnya itu, hingga tak lagi bisa berbicara banyak.
"Thar sadar, kakak mohon, kamu harus tetap sadar, Thar"
"Thar sadar, kamu kuat Thar"
Sayangnya Athar sudah tidak berdaya, sehingga mata itu enggan terbuka.
"Athaaaaarrrrrr" teriaknya.
Sementara di rumah Jason, Misca merengek meminta tidur bersama, alamak gagallah malam pengantin basi mereka malam ini.
__ADS_1
"Bunda, Misca takut" ucap Misca lirih.
"Takut kenapa sih, biasanya udah pinter tidur sendiri" ucap Shirleen heran.
"Gak tau Bun, Misca takut, Misca juga kangen ayah" ucap Misca.
"Misca, mungkin itu karena Misca tadi ketemu sama ayah, udah lama kan Misca gak bareng Ayah, makannya Misca terbawa ke perasaan" ucap Shirleen mecoba menenangkan.
"Bunda, elusin kepala kakak, mau tidur dipeluk Bunda juga" ucap gadis kecil itu manja.
"Papa jangan main hape mulu, ayo kita tidur" ucap Misca menegur Jason yang masih berkutat dengan gadgetnya menyelesaikan sedikit pekerjaan kantor.
"Jason pun menurut, ia kemudian bangkit untuk membersihkan dirinya sebelum tidur, lalu melihat Jacob sebentar, bayi tampan itu tampak lucu menggemaskan saat tidur.
"Good night Boy" ucapnya pada Jacob.
"Good night Princess" ucap Jason pada Misca.
Ia kemudian menyelimuti Shirleen dan Misca lalu ikut berbaring tidur bersama.
Tak lama Misca pun tertidur, Jason ingin mengulang romantisme ranjang tapi ah sudahlah mungkin ia harus libur dulu untuk malam ini.
Ia memilih memejamkan matanya, begitu pun Shirleen yang tampak sudah duluan terlelap.
Untuk memghilangkan penatnya dipajang tadi siang sampai malam, mengingat malam yang sudah selarut ini, tidur memang cukup. membantu.
"Sri..." ucap Dareen tiba-tiba, Fahira sudah lama tertidur, malam juga sudah semakin beranjak naik, hanya ia dan Sri saja yang masih betah berdiam diri tidak juga dilanda kantuk.
"Kalau gue mintanya malam ini, lo udah siap belum ?" tanya Dareen cepat, sepertinya ia malu.
"Siap" jawab Sri pasti ia memang sudah siap menyerahkan miliknya pada Dareen, ia ingin berbakti pada suami dan menjadi istri yang baik.
"Lo kok yakin banget" heran Dareen.
"Ya memangnya kenapa Mas, Mas Dareen kan suamiku, aku ini istri Mas Dareen, jadi kalau Mas Dareen mau mintanya malam ini, atau malam kapanpun aku selalu siap kok Mas" ucap sri, malu memang ada tapi demi rumah tangga menuju utuh ia harus menyampingkan malunya dulu.
"Heh, emangnya lo tau gue mau minta apaan" ledek Dareen.
"Emm, eemmm" ragu Sri.
"Heemm, asal bunyi aja lo"
"Memangnya Mas Dareen mau minta apa ? Biar aku ambilkan" Sri sudah akan bangkit dari berbaringnya, kali saja suaminya mau minta makan tengah malam begini.
"Udah udah, gue cuma becanda kali" cegah Dareen.
"Ih, ngeselin deh" keluh Sri.
"Sri, maafin gue yaaa" ucap Dareen lagi. Tak henti-hentinya ia meminta maaf pada istrinya itu.
"Mas, udah berapa kalinya Mas minta maaf sama aku, aku udah maafin semua kesalahan Mas dulu-dulu, benaran Mas" ucap Sri, ia yang justru merasa bersalah setiap kali Dareen meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Bolehkah ?" tanya Dareen sungguh-sungguh.
Namun karena Sri yang sudah malu karena pertanyaan Dareen tadi, Sri tidak mengindahkan karena ia tidak mau tertipu lagi.
"Boleh apa Mas ?" tanya Sri balik.
"Ya itu"
"Apa Mas ?" gencar Sri.
"Gue lapar Sri" spontan Dareen, ia memilih mengkiaskan maksud dan tujuannya.
Namun yang dihadapinya adalah Sri, sungguh polos dan mungkin juga tidak akan mengerti apa maksudnya.
"Mau makan apa Mas ?" tanya Sri.
"Kamu !" spontan Dareen.
"Aku ?"
"Iya gue lapar mau makan lo"
"Ya ada-ada aja deh Mas, makan nasi Mas biar kenyang, jangan makan aku"
Sepertinya Dareen harus berjuang lagi.
Sri memang susah diajak main tebak-tebakan, otaknya kadang suka tidak nyampe.
"Sini duduk yang benar" suruh Dareen, untuk Sri duduk disebelahnya.
Sri menurut saja, jantungnya berdegup kencang saat ia duduk di dekat suaminya.
"Apa lo cinta sama gue ?" Tanya Dareen serius.
"Emm" ucap Sri disertai anggukan.
"Benar ?" ulang Dareen.
"Iya Mas, boleh aku bertanya ?" tanya Sri.
"Ya silahkan"
"Apa Mas Dareen sudah memiliki perasaan cinta terhadapku ?" tanya Sri lagi.
Dareen terdiam, apa benar ia sudah memiliki perasaan cinta terhadap Sri, tapi kan selama ini.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!