
Pagi menjelang, dengan langkah gontai Riska berjalan menuju kamar mandi, pertengkaran hebat subuh tadi dengan suaminya membuatnya tidak lagi semangat menjalani hidup.
Mengapa semua ini harus terjadi padanya, hancur sudah biduk rumah tangga yang nampak begitu harmonis ia bangun.
"Bajingan..."
Ia menatap wajahnya di cermin, apa hebatnya Riana dibandingkan dirinya.
Meluapkan segala emosi, ia mengepalkan tangannya, menangis sendirian di kamar mandi, sungguh dimana ia tinggalkan keangkuhannya tadi ? Saat ini hanya ada riska yang rapuh.
"Dimana kakakku ?" Athar yang baru saja tiba di kediaman kakak sulungnya itu menanyakan keberadaan orang yang dicarinya pada sang ipar.
"Buat apa kau menemuinya ?" jawab Rendi suami kakaknya diluar dugaan.
"Aku, aku hanya ingin melihatnya, dan menanyakan kenapa ia baru pulang, kemana saja dia ?" ucap Athar, ia bingung kenapa pula harus ada alasan untuk menemui saudara kandungnya itu, bukankah sudah biasa ia seperti ini.
"Berhenti mengurusi rumah tangga kami, kau tidak perlu lagi menemuinya, pergi dari sini !" Bagai busur panah yang tepat mengenai jantungnya, ucapan Mas Rendi begitu mengena, apa apaan ini, kenapa bisa begitu ? Berhenti mengurusi rumah tangga kakaknya, sejak kapan ia urus dengan rumah tangga orang lain, biduk rumah tangganya saja berantakan. Dan lagi. tidak perlu menemui kakaknya lagi, kenapa ? Walau sempat kesal dengan saudaranya itu, namun mereka tetaplah adik beradik, yang tidak mungkin bisa menutup mata dan menulikan telinga jika sesuatu hal buruk telah terjadi. Hilang entah kemana tiada kabar, dan mendapatkan informasi kakaknya pulang subuh, sudah jelas mana mungkin ia bisa tidak perduli.
"Apa maksud Mas, urus dengan rumah tangga Mas ? Aku tidak pernah mengurusi rumah tangga kalian ?" Athar menghela nafasnya kasar "Dimana kakakku ?" kini ia terdengar menegaskan nada bicaranya.
"Sebaiknya kau pergi, sebelum aku bertindak kasar !" lantang Rendi, yang sebenarnya adalah ia begitu takut Athar mengetahui betapa busuknya ia.
"Aku akan pergi tapi setelah bertemu dengan Kak Riska" Athar mengedarkan pandangannya "Kak Riska, Kak Riska kakak dimana ?" Athar berteriak keras memanggil saudara tertuanya itu.
Riska yang samar-samar mendengar panggilan dari adik bungsunya itu, semakin mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Ia benci keadaan ini, Ia benci laki-laki, penghianat, kata-kata cinta itu hanyalah kebohongan belaka, suaminya, adiknya, sama saja mudah saja terbuai dengan ******.
Ia keluar dari kamar mandi untuk menemui adiknya itu, darahnya berdesir hebat, mendidih, ia begitu jijik melihat keduanya.
Plaakkk...
Tamparan itu mendarat dipipi Athar, sekuat tenaga hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Kak apa apaan ini ?" Athar yang tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Pergi, jangan menemuiku lagi, kau bukan lagi adikku" Dengan lantang Riska berkata, sungguh dikhianati oleh orang yang ia cinta sudah berhasil membuat mindsetnya berubah dalam sekejap.
Jika dulu ia begitu menyetujui hubungan adik bungsunya dengan Riana dan mendukung adiknya berkhianat pada keluarga kecilnya dengan Shirleen, kini ia begitu jijik melihat seorang suami yang sudah berani berselingkuh seperti adiknya ini. Benar saja, pengkhianatan yang terjadi pada hidupnya membuat ia lupa ia pernah mendukung penuh tindakan adiknya itu.
Apalagi, kedua laki-laki didekatnya ini berkhianat dengan wanita yang sama yaitu Riana.
Geram, ia sungguh geram melihat wajah kedua laki-laki itu, matanya melotot syarat akan amukan.
"Kak apa salahku ?" Athar semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada keluarga kakaknya.
"Heh" Riska tersenyum miring.
Apa salahmu, dasar laki-laki yang tidak pernah menghargai wanita. Masih berani bertanya apa salahnya.
"Kak, aku kesini hanya ingin bertanya, kakak dari mana saja, aku khawatir" ucap Athar, ia mencoba bersikap tenang walau kemarahan terpancar jelas dimata kakaknya itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, pergi dari rumahku" sentak Riska.
"Kak, kenapa begini, aku tidak mengerti apa salahku kak ?" Keadaan ini sungguh membuat Athar bingung, kakaknya tiba-tiba membencinya, kenapa, apa karena ibu lagi.
"Apa sesuatu terjadi pada ibu ?" tanya Athar, ia ingin segera meluruskan masalah ini, ada apa dengan kakaknya.
Mendengar biang masalah terucap dari mulut adiknya, Riska semakin diluar kendali. Ia terduduk lemas dilantai, ia juga benci akan ibunya.
"Pergi..." dengan diiringi isak tangis, ia kembali mengusir adik bungsunya itu.
"Pergi..." sekali lagi, masih dengan tangis.
Athar begitu heran, sebegitu beratnya kah masalah rumah tangga yang tengah kakaknya hadapi, hingga kakaknya nampak begitu menyedihkan seperti ini.
Ya sudah ia akan pergi, biarkan kakaknya menyelesaikan masalah keluarganya sendiri, mungkin pasangan itu butuh waktu untuk bicara dan ia tiba-tiba datang mengganggu, sehingga membuat keduanya marah padanya, yah yah mungkin begitu, ia datang disaat yang tidak tepat, lain kali saja ia akan bertanya kemana kakaknya menghilang kemarin, jangan sekarang.
Athar bernego dengan pikirannya, melihat drama keluarga dihadapannya membuat ia mengalah, ia berbalik pergi dengan sejuta tanda tanya.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, dan vote
Happy reading !!!