
Pak Adrian mencengkram erat kemudi, entah apa yang harus dirinya lakukan, perusahaan asing yang sempat ia ajukan kerja sama belum menghubunginya sama sekali, entahlah ia sudah berpikir bahwa mungkin perusahaan putranyalah yang akan diterima pengajuan kerjasamanya.
"Aku akan kehilangan semuanya, tanpa ada yang merebutnya, semua ini karena kesalahanku."
Entah mengapa, meski dirinya menganggap Jason adalah lawannya, namun dirinya tidak bisa membenci, karena baginya segala yang Jason lakukan padanya saat ini adalah juga kesalahannya.
"Papa ikhlas Nak jika kamu bahagia!" gumam Pak Adrian, ia mengambil dompetnya di saku, dibukanya lalu terlihatlah foto seorang anak laki-laki yang mirip dengannya.
Foto Jason saat berulang tahun masih tersimpan rapi di dompetnya, Pak Adrian menghela nafasnya dalam, betapa berdosa dirinya, dia adalah Papa yang buruk.
"Aku sangat menyayangimu, aku hanya takut kau tidak bisa menghadapi dunia jika aku tiba-tiba tidak lagi ada, sedang semua paman-pamanmu seakan terang-terangan mengincar kekayaan Opamu, bagaimana bisa setelah apa yang terjadi dengan Opamu, bagaimana Papa masih bisa berpikir tenang, Papa menyayangimu Nak, kembalilah tersenyum seperti di foto ini, Papa rindu."
Tak terasa, air mata itu menetes dengan sendirinya, entahlah Paka Adrian merasa begitu rapuh saat melihat foto masa kecil putranya, dialah yang membawa putranya ke dalam jurang kehancuran, tanpa sengaja segala kehendaknya malah membuat hidup anaknya itu sudah jauh dari kata normal.
Pak Adrian akan kembali ke rumah, dirinya berniat untuk pulang dan beristirahat, harapannya sudah tidak ada, ia sudah pasrah dengan apapun yang terjadi.
Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya Pak Adrian kala mendapati sang istri sudah terduduk lemas di bawah kursi di kamar mereka dengan tangis yang terisak, segera dirinya menghampiri.
"Ada apa Ma, kenapa?" tanya Pak Adrian panik.
Setidaknya, meski keluarganya akan bangkrut karena perusahaannya diambang kehancuran, tapi jumlah tabungan mereka masih balance untuk membayar semua ganti rugi, hanya saja mereka akan menjalani kehidupan sederhana setelah ini, dengan perusahaan yang juga sederhana.
"Jason anakku..." gumam Mama Mila.
"Iya Ma, ada apa dengan Jason?"
"Anakku..." lirih Mama Mila.
"Anakku..."
"Anakku..."
"Anakku..."
Mama Mila terus bergumam, Pak Adrian menganggap istrinya itu bahkan mungkin sedang meracau.
__ADS_1
Pak Adrian ingin memapah tubuh istrinya bangkit, namun ternyata dirinya baru mengetahui bahwa tubuh sang istri sangat panas, istrinya itu sedang demam saat ini, dan benar saja gumaman itu tadi adalah racauan.
"Ma, Mama demam tinggi?" tanya Pak Adrian.
Tidak ada jawaban selain ratapan yang sama berulang kali keluar dari mulut istrinya, Anakku... Pak Adrian tidak tau entah apa yang terjadi pada sang istri.
"Anakku..."
"Ma, Mama sabar ya, kita pasti bisa melewati semua ini." ucap Pak Adrian.
"Surti..." teriaknya pada salah satu Maid yang bertugas.
Beberapa menit berlalu, muncullah Maid yang tadi dirinya panggil, "Ada apa Tuan?" tanya Surti.
"Tolong saya, tolong kamu bilang ke bawah untuk segera siapkan mobil, saya akan membawa Nyonya ke rumah sakit." ujar Pak Adrian.
"Nyonya!" spontan saja Surti langsung menoleh ke arah majikannya, "Astagah Nyona, kenapa Tuan, kenapa bisa begini?" panik Surti.
"Entahlah, saya datang sia sudah begini, ayo cepat..." suruh Pak Adrian lagi.
Para pekerja tidak ada yang menunjukkan ekspresi santai, semuanya panik mendengar kabar sari Surti, karena tidak biasanya Nyonya muda mereka itu sakit sampai dibawa ke rumah sakit.
Jason baru saja hendak menemui kolega bisnisnya dari perusahaan asing yang mengajukan kerja sama padanya.
Langkahnya terhenti kala selalu saja merasakan getaran di sakunya, ia sudah tau siapa yang menelpon karena ini sudah panggilan yang entah ke berapa kalinya.
"Terus saja menelpon, ternyata kau tidak bisa berbuat banyak ya selain mencoba bicara denganku dan berharap aku akan menghentikan semua ini?" gumam Jason, memiringkan sudut bibirnya, dirinya puas melihat Adrian sangat membutuhkannya, baginya ini belum seberapa, masih ada siksaan yang pedih setelah ini.
Jason mengabaikan panggilan itu, baginya tidak ada yang bisa menghenytikannya, apa lagi hanya seorang Adrian Cakrawala.
Jason menonaktifkan ponselnya kala melihat kolega bisnisnya itu sudah datang duluan nampaknya, dirinya akan menunjukkan keprofesionalannya.
"Good afternoon Sir!" sapa Jason.
"Yaaa, selamat sore juga, akhirnya kita bisa bertemu juga yaaa." sapa balik Tuan Gilbert, kolega bisnisnya dari negeri asing tersebut, dengan penyampaian yang sedikit lucu Jason dengar, karena berbahasa Indonesia namun logatnya masih kental dengan negara asalnya.
__ADS_1
"Iya, akhirnya!" ucap Jason sembari menyalami Tuan Gilbert. "Bagaimana kabar anda Tuan?"
"Kabar saya baik-baik saja, Indonesia enak sekali, banyak tempat wisata yang sangat aaa wonderful, saya sudah mengunjungi banyak tempat karena asisten kamu meminta perpanjangan waktu untuk memutuskan kerja sama kita." jawab Tuan Gilbert, yang sudah panjang kali lebar kali tinggi, yang sebenarnya adalah ia sangat takjub akan keindahan pesona Indonesia.
"Saya dengar your wife sedang sakit waktu itu, bagaimana kabarnya?" tanya Tuan Gilbert lagi.
"Kabarnya baik-baik saja, dia sudah keluar dari rumah sakit, terima kasih atas perhatiannya." ucap Jason.
Lalu setelahnya mereka mulai berbincang membahas kerja sama mereka, Jason nampak bisa menjelaskan dengan sangat baik, Tuan Gilbert tidak menyangka rekan bisnisnya kali ini adalah pengusaha yang sangat muda.
Dan sudah dipastikan akhir dari pertemuan mereka kali ini, pastilah sesuai dengan apa yang dikehendakinya Jason, kerja sama internasional itu benar-benar jatuh ke tangannya.
"Saya tidak menyangka kalau kamu adalah pengusaha yang sangat muda, berapa umurmu?" tanya Tuan Gilbert.
"Delapan belas tahun?" jawab Jason, semoga saja tidak ada permasalahan umur kali ini, semoga Tuan Gilbert bukan orang yang mengukur pengalaman dari rentang usia.
"Wow, that's amazing, being a young entrepreneur and already married, you just changed the direction of my thinking." Tuan Gilbert berdecak kagum akan apa yang baru saja dirinya ketahui tentang Jason Ares Adrian.
"Oh, thank you Sir!" Jason mengubah mimik wajahnya menjadi bagaikan sangat tersanjung.
"Kalau boleh, bolehkah saya mengundang kamu dan istri kamu untuk makan malam, you can set the date, then contact me." tawar Tuan Gilbert lagi.
"Yes Sir, later my personal assistant will take care of it!" jawab Jason.
"Oh, saya akan sangat bahagia, terimakasih yaaa Tuan Jason, oh no no, my Jason, you are my son now!" Tuan Gilbert bahkan tanpa ragu menganggap Jason sebagai anaknya.
"Hemm, terimakasih, saya sangat tersanjung!" ucap Jason dengan senyum manisnya.
*
*
*
Like, koment, and Vote !
__ADS_1