Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Erni berulah lagi.


__ADS_3

"Kamu... Dasar perebut kebahagiaan orang, selalu aja nggak bisa biarin orang bahagia, kamu udah puas ngehancurin hidup aku hah?" ucap Erni saat ia menjumpai Shirleen di cafe.


Erni memang sudah menunggu saat ini tiba, ia selalu memantau kehadiran Shirleen beberapa hari ini, dan baru hari ini ia bisa bertemu secara langsung dengan Shirleen.


"Plak..." dengan keras Ipah langsung saja menampar wajah Erni, meski ia tidak tau duduk permasalahan antara majikan dan wanita dihadapannya ini namun yang jelas disini ia hanya tau Tuan Mudanya tidak akan menyukai ini.


"Kurang ajar, siapa kau beraninya ikut campur?" geram Erni.


"Saya Ipah, saya orang yang tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Nona Shirleen." ucap Ipah.


"Oh, anjing penjaga rupanya, hei dengar, baru jadi anjing aja jangan belagu." sindir Erni pada Ipah, ia begitu geram dan sakit hati atas perlakuan suami Shirleen yang melibatkan rumah tangganya hanya karena tidak suka ia sempat mengganggu Shirleen, haruskah sampai sebegitunya, sungguh benar jika ada yang mengatakan Jason adalah orang gila.


"Aku nggak ada urusan sama kamu, minggir, aku hanya mau merobek mulut majikanmu itu karena sifat tukang ngadunya, hey lihatlah betapa menjijikannya dia, dari luar terlihat begitu polos, namun di hati siapa yang tau, dengar Shirleen sang ratu, entah apa yang kau adukan dengan suamimu hingga ia bisa dengan tega menghancurkan hidupku, kalian menghancurkan rumah tanggaku." ucap Erni penuh kebencian.


"Akan ku robek mulutnya yang tidak tau malu ini." ucap Ipah tak kalah garang.


"Sudahlah Pah, biarkan saja." ucap Shirleen, karena baginya percuma meladeni Erni, orang yang sedang marah tidak akan bisa menerima nasihat dengan baik maupun perlawanan, yang mereka tau hanya mereka harus puas hati dengan cara mengatai atau mungkin melampiaskan seluruh kemarahannya, selama itu hanya dimulut saja Shirleen masih bisa terima.


"Heh, kenapa bersikap sangat baik hah, jangan sok menjadi malaikat dengan tidak meladeniku wanita munafik, padahal mulutmu itu begitu busuk." ucap Erni lagi, seolah mendapatkan kekuatan karena Shirleen tidak membalasnya.


"Erni, bisakah kita bicara baik-baik di dalam, aku akan terima kemarahanmu tapi jangan seperti ini." ucap Shirleen, beberapa pengunjung cafenya sudah ada yang mendekat untuk melihat apa yang terjadi padanya dan Erni.


"Kenapa? Heh kau takut citramu memburuk karena semua orang tau sifat aslimu?" tanya Erni, hah ia cukup puas sejauh ini.


"Kau hanya akan mendapatkan malu telah berani berkata buruk pada Nona Shirleen." ucap Ipah.

__ADS_1


"Hei anjing penjaga, mungkin kau juga banyak sesalnya selama bekerja dengan Shirleen, tapi kau bisa apa kan, kita semua memang begitu selalu mengalah dengan yang berkuasa, akui saja kalau kau sangat menderita selama ini menjadi kacung, jangan berpura-pura, saat kau melakukan kesalahan dia majikanmu ini pasti akan langsung saja berubah menjadi malaikat pencabut nyawa." oceh Erni, ah ia sungguh benci melihat wajah Shirleen.


"Jaga bicaramu Nona." ucap Ipah tegas.


"Aku! Kau menyuruhku apa? Jaga bicara." Erni menarik tangan Shirleen, padahal ia tau kalau Shirleen sedang memegang kereta bayi.


"Lepaskan tangan anda Nona!" suruh Ipah.


"Shuttt, diam kau anjing, aku ingin bicara padanya, kau tidak usah ikut campur." tegas Erni.


"Biarkan aku menyelesaikan ini, kau awasi Jacob dan Misca." ucap Shirleen pada Ipah.


"Tapi Nona." cegah Ipah.


"Sudahlah Pah, aku tidak apa."


"Kau tau, ini, suamiku menceraikan aku hanya karena suamimu itu, aku yakin suamimu itu yang sudah mengirimkan perempuan dengan umur lebih muda dariku untuk mengelabui otak suamiku, sehingga aku dicampakkan, sehingga aku tidak menarik lagi baginya." ucap Erni, ia menghadiahkan surat gugatan cerai suaminya pada Shirleen.


Semenjak ia di talak oleh suaminya, ia yang selama ini hanya mengandalkan bisnis rumah subsidi tidak bisa melakukan apa-apa, ia juga hanya sales kalau tanpa suaminya.


"Kau menyalahkan orang lain, padahal itu adalah masalahmu." ucap Shirleen, ia masih tenang, menghadapi orang seperti Erni sudah biasa baginya.


"Secara tidak langsung kau menyimpulkan bahwa semua yang terjadi adalah salahku? Begitu maksudmu?" tuding Erni menggebu.


"Erni, ketahuilah suamiku tidak sekejam yang orang lain pikirkan, ini adalah masalah rumah tanggamu, mengapa kau melibatkan orang lain, apa kau ada bukti saat kau dengan beraninya menuduh suamiku, kalau benar ada mana buktinya, jangan sembarangan menuduh karena aku bisa menuntutmu dengan tuduhan pencemaran nama baik." tegas Shirleen lagi.

__ADS_1


"Kau mengancamku?" tanya Erni tidak percaya.


"Aku tidak mengancam karena begitulah prosedurnya." jawab Shirleen.


"Kau pikir dengan kau punya segalanya kau bisa memenjarakan aku?" ucap Erni.


"Erni, sebenarnya aku tidak mau berdebat dengan masalah yang kau hadapi, aku ingin hidup aman tanpa adanya masalah, aku tidak mengancammu atau pun menakutimu, atau pula menyatakan bahwa kami punya kekuasaan dan bisa melakukan apa saja, tapi ketahuilah tanpa adanya kekuasaan pun jika kau menuduh orang lain tanpa bukti itu bisa dipidanakan."


"Ya ya, kenapa tidak kau lakukan, aku memang sudah menunggu saat itu tiba." ujar Erni menantang.


Shirleen menghela nafas berat, wanita dihadapannya ini hanya menuduh dan berkeluh kesah saja, tidak ada bukti sama sekali, ia sebenarnya juga ada perasaan bahwa mungkin suaminya terlibat, namun tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa adanya bukti kuat, ia tetap akan membela sang suami.


"Erni aku masih menghargaimu, hidup damai lebih baik mengapa harus berselisih."


"Wah hebat, hebat sekali dirimu, dulu kau juga menarik simpati orang-orang di sekolah, tanpa mereka tau bahwa hatimu yang sebenarnya begitu busuk, dasar munafik." ujar Erni lagi, membuka masa lalunya.


"Erni kalau saat itu kau merasa tersaingi aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengalahkanmu, aku berteman dengan siapa saja tanpa pilih-pilih, mereka senang denganku dan aku juga senang bisa berteman dengan mereka semua." ucap Shirleen, ia sangat menyesali karena ternyata Erni belum berubah masih selalu saja iri hati.


"Kadang kita tidak bisa memaksakan seseorang menyukai kita, tapi kalau ada yang suka berteman denganku, aku pasti akan menghargainya, bukan maksudku untuk menyaingimu, kau salah jika menganggap kita adalah saingan."


"Munafik, sekarang pun sama, kau selalu saja mendapat kebahagiaan sementara aku, aku harus menanggung derita, dan dari dulu hingga kini semua itu karenamu, aku yakin kau tidak terima karena aku pernah merendahkanmu hari itu sehingga kau mengadukan segala perbuatanku pada suami iblismu itu, lalu dia mengacaukan rumah tanggaku dengan mengirimkan jal*ng untuk suamiku, tidak usah sok polos, semua jni gara-gara kau Ilen." ungkap Erni, ia begitu emosi karena Shirleen bukannya membalas malah menasihatinya.


"Erni, kau sadar apa yang kau katakan?"


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2