Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jason yang ingkar.


__ADS_3

"Ini pasti foto lama, dia sudah berjanji" lirih Shirleen.


Tuan Fred mengangguk, karena memang itu foto lama.


"Lihatlah semuanya dulu maka kau akan mengerti" ucapnya kemudian.


Benar saja selain foto Jason dan Shakira. disana ada juga foto Jason bersama orang lain yang entah sedang melakukan apa, sepertinya sedang diskusi, atau juga sepertinya sedang mengerjakan sesuatu, entahlah bagi Shirleen saat ini ia sudah ganjal.


"Aku akan menerimanya, aku sudah berjanji seumur hidup akan menerimanya, aku sudah berjanji akan selalu disampingnya apapun yang terjadi" ucap Shirleen, bahu itu sudah berguncang, ia letih menahan sebak didadanya.


Foto Jason dan Shakira sedang merayakan keberhasilan, ia sadar foto itu menunjukkan bahwa kedua partner kerja itu sedang merampok, seperti yang Jason katakan siapa Shakira sebelumnya.


Dan foto lainnya, ia tidak tau, ia tidak mengenal kedua orang dalam foto lainnya.


"Yang ini Shakira, entah kau pernah melihatnya atau tidak aku tidak tau, dia adalah hacker andalan suamimu, dia bekerja dengan suamimu sudah cukup lama, kalau tidak salah kurang lebih tiga tahun, dan dia adalah salah satu penyumbang terbesar pundi-pundi rupiah suamimu" Tuan Fred mulai menjelaskan kehidupan Jason.


Shirleen diam, ia masih menyimak, ia juga sudah tau siapa Shakira, namun mendengar lagi kenyataan ini membuatnya kembali berpikiran buruk tentang suaminya.


"Kau bisa berpikir apa saja tentang suamimu, silahkan karena aku juga tidak bisa membenarkan kalau ada yang mengatakan Jason orang baik" ucap Tuan Fred.


"Yang itu Darwin Kuntara, kau sudah melihat namanya tadi sebelumnya dan inilah orangnya, mereka terlibat bisnis gelap"


Shirleen mengangguk, meski ia belum mengetahui siapa Darwin Kuntara.


"Dia adalah anak buah suamimu, sudahlah aku tidak bisa menjelaskan detilnya padamu siapa Ben Arian dan Darwin Kuntara" ujar Tuan Fred lagi, hati wanita terlalu lembut, ia tidak yakin Shirleen akan kuat jika dijelaskan seputar tentang dunia hitam suaminya, persenjataan ilegal serta jual beli organ manusia sangat tidak baik untuk pendengaran ibu dua anak dihadapannya ini.


"Aku sudah tau, lalu apa yang ingin Tuan jelaskan mengenai foto-foto ini ?" tanya Shirleen.


Padahal yang dia tau hanyalah sebongkah kecil dari betapa brengsek suaminya, namun Tuan Fred membiarkan.


"Aku ingin kau bisa membuat Jason benar-benar berubah, kau tau suamimu itu tidak benar-benar berhenti dari dunianya, dia hanya menyerahkan kepemimpinan pada Darwin, namun ia masih menikmati empat puluh persen dari penghasilannya dalam satu kali transaksi" jelas Tuan Fred.


Tidak, sayangnya tetes air mata lolos begitu saja saat itu, Shirleen tidak bisa menahannya untuk tidak jatuh berderai.


Saat mereka sudah berjanji mengapa Jason malah mengingkari.


"Ini kuserahkan padamu, baik buruknya silahkan kau pilah, aku yakin kau wanita kuat, tidak akan mudah menyerah begitu saja"


"Dia sangat membutuhkanmu, saat ini dia hanya sedang salah jalan, dan sebagai istri sudah tugasmu untuk memperbaikinya"

__ADS_1


"Aku tidak yakin bisa" ucap Shirleen.


"Bicarakan ini baik-baik padanya, aku yakin kau tau apa yang harus kau lakukan"


Tuan Fred kemudian pergi, satu langkahnya sudah selesai, jika Shirleen bisa mengerti tentu rencananya akan berjalan dengan mulus.


Shirleen masih duduk tidak bergeming di tempatnya, ia meremas foto Jason kuat.


Bukankah sangat keterlaluan mengatakan sudah berhenti namun kenyataannya tidak. Entah terbuat dari apa hati suaminya itu, caranya melawan kedua orang tuanya, caranya memimpin perusahaan, dan caranya yang tidak mau berhenti begitu saja dari dunia hitam ini sudah sangat menandakan bahwa Jason memang sangat keras hati.


"Haahhh" Shirleen menghembuskan nafas kasar, kini ia harus melakukan sesuatu, karena Jason sudah menjadi suaminya dan benar sudah tugasnya memperbaiki segala yang salah.


Ia membereskan semua temuannya, dan kembali ia masukkan pada sebuah amplop besar tadi. Ia akan menyimpan semua itu diruangannya.


Ia melihat Jacob yang sudah terbangun dari tidurnya, namun sama sekali tidak menangis.


Entah bagaimana nasib anak-anaknya jika mengetahui sisi buruk dari papanya. Tidak ini belum terlambat, segalanya masih bisa diperbaiki.


Rendi tengah mengumpulkan keberaniannya, hari ini ia akan melakulan tes untuk mengetahui Fahira adalah anaknya atau bukan, yah benar kata Athar tidak ada salahnya mencoba jika Fahira benar anaknya mungkin ia akan menyesal membiarkan anaknya itu pergi, namun jika bukan yah semoga saja bukan.


"Hasilnya akan keluar setelah beberapa hari, nanti pihak rumah sakit akan menghubungi Pak Rendi" ucap Dokter yang bertugas.


Rendi ingin meninjau bisnisnya di tanah kelahirannya kota Palembang untuk beberapa hari, namun sebelum itu ia akan menemui Tiara dulu, syukur-syukur ia bisa membawa Tiara ke Palembang untuk bertemu nenek dan kakeknya, namun ia rasa itu tidak mungkin. Riska tidak akan membiarkan Tiara dibawa semudah itu olehnya.


Sekitar dua puluh lima menit berlalu kini ia sudah sampai di rumah mertuanya, yah mertua karena ia memang belum resmi bercerai dengan Riska.


Ia tidak langsung menuju rumah, ia berjalan menemui Athar dulu di kedai untuk menanyakan apa saja yang terjadi pada anaknya setelah terakhir kali ia kesini.


"Mas Rendi..." ucap Athar, ia yang sedang menggoreng pisang spontan terkejut karena Rendi yang sudah berdiri didekatnya.


"Thar, ada yang ingin ku bicarakan padamu" ucap Rendi.


"Duduk dulu Mas, aku masih ada kerjaan sebentar" ujar Athar, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya, hari ini ia beruntung mendapatkan banyak orderan karena SMP yang berada di dekat rumahnya sedang ada acara, dan ia kebagian rezekinya.


Setelah semuanya selesai, ia menemui Rendi yang nampak sudah lama menungguinya.


"Ada apa Mas, maaf sudah membuat Mas menunggu lama, aku harus bikin pesanan dulu soalnya sebentar lagi harus diambil"


"Iya Thar, gak papa, lancar usahamu ya sepertinya"

__ADS_1


"Alhamdulillah Mas, berkat selalu bersyukur" ucap Athar.


"Semoga kau bisa sukses Thar"


"Amin Mas"


"Ah iya Thar, aku mau tanya sesuatu sama kamu"


"Iya Mas, mau tanya soal Ara ya"


"Iya Thar, gimana anakku itu, apa Mamanya memperlakukannya dengan buruk ?" tanya Rendi langsung saja, karena sebelumnya Tiara sempat mengeluh tentang Mamanya sebelum pulang hari itu.


"Mas..." ucap Athar ragu.


"Tidak usah ragu Thar, katakan saja, apa Riska ada di rumah ?" tanya Rendi lagi.


"Eemm, tadi sih Kak Riska sedang pergi nggak tau deh kemana, Tiara sedang sekolah" jawab Athar.


"Sebenarnya hari itu aku curiga sih Mas, karena Tiara tidak sekolah dengan alasan tidak enak badan, namun setelah aku kerumah untuk mengambil sesuatu aku malah lihat Tiara sedang ngepel lantai" jelas Athar kemudian, ia sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu, baginya jika salah tetaplah salah sekalipun yang salah itu saudara kandungnya sendiri.


"Terus ?" tanya Rendi.


"Ya aku tanya kenapa ngepel bukannya lantainya sudah bersih, tapi Tiara nggak mau ngaku"


"Kasihan sekali anakku, itu pasti ulah mamanya" gumam Rendi.


"Mas aku tidak tau sampai dimana masalah kalian, tapi akan lebih baik jika Mas bicarakan baik-baik dengan Kak Riska" ucap Athar.


"Aku sudah bicara baik-baik dengan kakakmu Thar, kamu juga tau sendiri bagaimana perjuanganku supaya rumah tanggaku tidak bercerai, namun kakakmu tetap saja pada pendiriannya, puncaknya saat di pengadilan Tiara malah memilih untuk tinggal bersamaku dari pada dia, mungkin itulah kenapa sekarang ia memperlakukan Tiara seperti itu" jelas Rendi.


"Mungkin saja Mas"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2