Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Rencana Yudha dan Weni.


__ADS_3

"Hah?"


Afik dan Angga tak percaya, bagaimana bisa Shirleen menawari mereka menjadi model iklan.


"Kenapa?" tanya Shirleen.


"Kak Ilen serius? Ya kali kak!" tanya Angga.


"Maunya sih nggak, tapi sayangnya serius!" jawab Shirleen.


"Gue sih mau aja, kapan emangnya?" tanya Afik.


"Ya sekarang!" jawab Shirleen.


"Eh buset, dadakan maksudnya, nggak bilang dulu kan gue bisa siap-siap!"


"Gue belum cukuran Ga!" keluh Afik, dirinya meraba kumis tipis yang menurutnya sedikit mengganggu penampilannya.


"Wah parah!"


"Ya udah gimana mau nggak?" tanya ulang Shirleen.


"Sebenarnya... Ya udah deh kalau Kak Ilen maksa!" jawab Angga.


"Dih siapa yang maksa!" protes Shirleen.


"Ya udah aku siapin dulu yah, tempatnya nanti aku bicarain dulu sama kameramennya!"


"Kalian makan aja dulu, nanti siap-siap!" ujar Shirleen.


"Kak pake kameramen beneran apa gimana maksudnya?" tanya Afik.


"Iya rencananya cuma kayak konten di YouTube aja sih, tapi biar lebih pas aja gitu!"


"Tenang aja nggak bakalan jadi artis kok!" terlihat tawa menghiasi bibir Shirleen belum juga dimulai Angga dan Afik sudah shock duluan.


"Semoga jadi artis gue!" pekik Afik girang.


"Kali aja kan!" setuju Angga.


Setelah itu Angga dan Afik makan mengisi perut keroncongan mereka, kemudian bersiap-siap untuk menjadi artis dadakan mempromosikan menu baru di cafe Jash milik Shirleen.


Jason menaiki lift khusus untuk sampai di lantainya, dirinya sudah tidak sabar melihat apa yang akan dia temukan lagi kali ini.


"Sudah selesai?" tanyanya pada Roy dan Shakira yang sedang berkutat dengan laptop di kamar ruangannya.


"Sudah Tuan Muda, tapi masih harus diprint!" ucap Shakira.


"Berikan padaku!" titah Jason.


Shakira memberikan laptop yang berisi hasil temuannya, Jason tersenyum smirk menandakan dirinya puas akan kinerja Shakira.


"Roy!" seru Jason.


"Ya Tuan Muda!"

__ADS_1


"Aku mau kau atur pertemuanku dengan si Tua Bangka itu, lebih cepat lebih baik!"


"Baik Tuan Muda!"


Jason melirik arlojinya, pukul setengah empat sore, tidak! Hari ini cukup sampai di sini, jangan terlalu terburu-buru, jangan sampai menimbulkan kecurigaan.


"Besok saja!" titah Jason lagi.


"Baik Tuan Muda."


"Aku minta salinannya, dan print ini!"


"Baik Tuan Muda!" ucap Shakira dan Roy bersamaan.


"Semua bukti sudah berada di tanganku, menarik sekali." gumam Jason pelan.


"Kalian pikir semua berjalan sesuai kehendak kalian, namun ternyata kalian tidak cukup pandai!"


Seringai tipis namun menakutkan menggetarkan hati Shakira yang diam-diam melirik Bosnya itu. Mengerikan!


"Kamu kenapa sayang?" bisik Roy.


"Tidak apa!" ucap cepat Shakira sembari bergidik ngeri.


Sementara di belahan benua lain,


Yudha sedang bersiap-siap untuk memulai kuliahnya, meski bayang Weni tiap pagi selalu mengganggunya, namun bayang Weni juga yang selalu menyemangatinya.


Seperti hari ini, dia sudah memutuskan untuk mempercepat kuliahnya dimulai hari ini, supaya dirinya bisa secepatnya pulang ke tanah air untuk semester ini.


"Sayangnya selalu saja ngelak saat gue ngajakin nikah!"


"Gue bakalan cari tau sebenarnya, apa yang dia kerjain, pekerjaan seperti apa yang nggak bisa Weni tinggalin itu?"


"Brukk!"


Karena terburu-buru Yudha tidak sadar dirinya malah menabrak seseorang.


"Sorry!" ucapnya.


"Tidak apa!" ucap seorang wanita itu.


Yudha mendongak, gadis yang baru saja ditabraknya itu ternyata berasal dari negara yang sama dengannya.


"Kamu dari Indonesia juga kan?" tanya wanita itu.


Yudha hanya mengangguk, dirinya enggan mengakrabkan diri.


"Aku Fenita, jangan sombong dong, kita sama-sama dari Indonesia!" Fenita mengulurkan tangannya mengajak Yudha berkenalan.


"Yudha!" sambut Yudha.


"Kamu di sini tinggal dimana?" tanya Fenita.


Sejak beberapa hari ini dirinya selalu memperhatikan Yudha, bahkan sebenarnya gadis itu sudah tau nama Yudha, dirinya ingin mendekati Yudha karena ingin menjalin pertemanan mumpung dirinya dan Yudha sama-sama berasal dari tanah air.

__ADS_1


"Maaf gue udah nikah!" jawab Yudha berbohong.


Dirinya selalu membentengi hatinya dari siapapun gadis yang ingin mengajaknya berkenalan, baginya yang setia itu tidak akan ada celah untuk gadis lain masuk di hatinya.


"Nikah? Yang benar saja?" tanya Fenita tidak percaya.


Yudha tidak menghiraukan, dirinya membenarkan jaketnya kemudian berlalu pergi, hari-hari bekerja keras sudah waktunya dimulai.


"Dia aneh! Apa benar dia sudah menikah?" gumam Fenita sembari menatap punggung Yudha yang semakin menjauh.


Gagal sudah rencananya yang ingin mendekati Yudha, yah meski dirinya sama sekali belum memiliki tujuan untuk menjalin hubungan lebih dari teman dengan Yudha, namun kalau Yudha sudah menikah itu berarti dirinya juga harus mengurungkan niatnya. Dia bukan calon pelakor pastinya.


"Tok tok tok!"


Yudha sudah mengadakan janji temu dengan dosen pembimbingnya, dia ingin berdiskusi tentang bagaimana dirinya bisa menyelesaikan kuliah lebih cepat.


Weni mematut wajahnya di depan cermin, hari ini dirinya sudah berumur tiga puluh tahun, dan tunangannya baru memasuki semester pertama kuliah.


Butuh waktu setidaknya tiga tahun lagi untuk Yudha menyelesaikan itu.


Weni menghela nafas, bahkan hari ini Yudha tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, entah mengapa dia bisa berpikiran seperti itu, terbesit rasa kesal saat Yudha tidak memperhatikannya, dia bagaikan anak kecil saja, bahkan semalam Weni sempat-sempatnya meneteskan air mata.


"Hari ini aku sudah tiga puluh tahun, tahun depan tiga puluh satu, tahun depan lagi tiga luluh dua, dan tahun depannya lagi tiga puluh tiga, iya kalau Yudha langsung nikahin aku, kalau dia kepincut cewek lain sebelum tiga tahun gimana?" keluh Weni menyayangkan umurnya.


"Apa yakin Yudha dan aku berjodoh?" tanyanya pada bayangannya sendiri di cermin.


"Enggak enggak, kami kan udah tunangan, masa iya setega itu dia ninggalin aku!"


"Tapi dia masih muda!"


Weni selalu saja begitu, selalu plin plan dengan jalan pikirannya sendiri, apa lagi menyangkut hubungannya dengan Yudha.


Sebenarnya Yudha sudah tiga kali mengajaknya menikah, namun dengan syarat dirinya harus ikut ke Jerman setelah menikah, dan alasan itulah sampai hari ini yang membuatnya masih meragu.


Dirinya punya karir yang sedang bersinar di sini, dan jika Weni harus menikah dan ikut dengan Yudha ke Jerman maka mimpi yang sudah dengan susah payah dirinya wujudkan entah akan bagaimana kelanjutannya.


"Apa aku diskusikan saja dengan Yudha, selama ini aku memang tidak pernah jujur tentang butik ini, tentang pekerjaanku yang sebenarnya, dia kira aku memang hanya karyawan biasa!"


"Yah kurasa lebih baik begitu, aku akan cari solusi dengannya sama-sama."


"Tidak ada yang salah kan, dia kan tunanganku!"


Weni bermonolong sendiri, dirinya mencintai Yudha dan juga sekaligus mencintai karirnya.


Yudha dan karirnya adalah sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja, jika di suruh memilih, itupun akan menjadi pilihan yang sulit nantinya.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2