Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kami yang bersalah.


__ADS_3

"Ma..." seru Shirleen.


"Ya." sahut Mama Mila.


"Aku ingin bicara."


"Ya, bicaralah, ada apa sayang?" tanya Mama Mila.


Jason tidak ikut masuk, dirinya tidak sanggup melihat wajah Mamanya, biarlah Shirleen yang akan menyelesaikan semuanya.


"Sebenarnya..." Shirleen meragu, namun dirinya harus tetap menceritakan.


"Ya, ada apa?" tanya heran Mama Mila.


"Papa tidak akan ke sini Ma..."


"Lho kenapa?"


"Papa tidak akan kesini karena sebenarnya Papa sudah pergi." ucap Shirleen pasti, dengan satu tarikan nafas dirinya mengatakan itu, meski tau akan menyakiti mertuanya itu, namun mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain dari pada mereka harus terus menghindar.


"Pergi! Kemana?" tanya Mama Mila lembut, percayalah dirinya mencoba bersikap biasa saja, meski dalam hatinya sudah gemetaran. Dirinya ingat, suaminya pernah mendiskusikan ini sebelumnya dengannya, bahwa jika Jason tidak akan memaafkan mereka kali ini, suaminya itu akan pergi.


"Aku tidak tau Ma, Papa mengabaikan aku saat bertanya kemana." jawab Shirleen.


"Lalu, dimana Jason?" tanya Mama Mila.


"Jason ada di luar Ma..." tubuh Shirleen gemetar, dadanya sesak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bisa panggil suamimu sayang?"


"Ii iya Ma!"


Shirleen beringset mundur, dirinya melangkah keluar untuk memanggil Jason.


"Sayangku..." panggil Mama Mila pada anaknya yang sudah berada di ambang pintu.


Jason diam saja, bayang-bayang Shirleen yang seolah menyalahkannya di mobil tadi masih terngiang.


Di hadapannya kini, ada seorang Ibu yang mungkin saja tengah kecewa terhadapnya.


"Duduk sini Nak..." pinta Mama Mila, menyuruh Jason untuk duduk di ranjang beranda di dekatnya.

__ADS_1


Jason menurut, meski jantungnya sulit di kondisikan, ya Tuhan, maafkan aku hari ini aku kembali menyakiti Mama, Jason membatin.


"Mama akan menceritakan, bagaimana saat kami begitu bahagia ketika kau lahir di dunia, kau yang pertama, cinta pertama kami." ujar Mama Mila, dirinya memegang lembut tangan putranya itu.


Waktu hujan turun


Rintik perlahan


Bintang pun menari


Awan menebal


Kutimang si buyung


Belaian sayang


Anakku seorang


Tidurlah tidur


"Mama masih ingat sekali saat Mama selalu menyanyikan itu untuk lagu pengantar tidurmu."


Jason mengangguk seolah terhipnotis, ia juga masih ingat itu, lagu itu adalah salah satu kenangan masa kecilnya.


Jason mengangguk lagi, sekilas bayang kenangan itu pun terpatri di ingatannya.


Lubuk hati yang paling dalamnya bergetar, bukankah dulunya mereka adalah keluarga yang bahagia.


"Kau selalu berlibur setiap akhir pekan, Papa, Mama, akan selalu menjagamu."


"Kau masih ingat saat Opamu meninggal?" tanya Mama Mila tiba-tiba membahas yang lain.


Jason lagi-lagi mengangguk teratur.


"Hari itu, Papamu menerima surat, dari orang yang tidak dikenal, alamatnya saja tidak tercantum, isinya berupa ancaman, perusahaan kita, Adrian Group saat itu sedang menjadi incaran."


Jason mengangguk lagi, dirinya mengetahui ini, karena dirinya juga sudah menyelidiki, namun untuk pasal Papanya menerima ancaman, dirinya tidak mengetahui sama sekali.


"Papamu merahasiakan ini darimu, supaya keluarga kita tidak ada dendam, karena sejujurnya Papamu tau siapa yang mengirimkan surat itu." jelas Mama Mila.


"Tapi ternyata ketakutan kami membuat kami salah langkah, Papamu menjadi orang yang ambisi, dia menginginkanmu menjadi penerusnya, bukan karena keegoisannya, percayalah itu semua seakan terpaksa ia lakukan."

__ADS_1


"Karena ketakutannya dia menjadikanmu bak robot yang harus menapaki jalan yang sama sekali bukan untuk jalan seusiamu."


"Dia tidak tidur beberapa hari sebelum dirinya memutuskan itu."


"Bahkan di malam-malam dirinya ingin berhenti, sejujurnya dia tidak sanggup melihatmu menderita begitu, dan Mama juga setuju, tapi kadang juga dia teringat akan sebuah ancaman itu, dan itu membuatnya kembali ke rencananya akan dirimu."


"Saat dirinya melihatmu belajar giat, saat dirinya melihatmu seperti menikmati pembelajaran itu, hatinya sedikit lega, Papamu pernah mengatakan pada Mama bahwa dia bangga padamu, dia berharap keputusannya tepat, karena dilihatnya kamu juga seperti menginginkannya."


"Mulai hari itu Mama juga bersalah, Mama mulai mendukung niat Papamu, meski Mama tau kamu belum saatnya menanggung beban itu."


"Kau masih ingat saat Mama memintamu untuk istirahat, jangan terlalu dipaksakan, tapi kau selalu bilang kau akan menjadi orang hebat, yang kaya yang berkuasa dan kau akan berkuasa suatu hari nanti."


"Mama dan Papa pikir, itu semua memang benar kemauanmu sayang, itu sebabnya Mama tidak mencegah apa yang kau lakukan."


"Pernah satu kali, Papamu pulang dengan bersimbah darah, dirinya sudah berpikir jauh, dia hanya memikirkanmu, kau ingat saat Papa dibawa ke rumah sakit waktu itu?" tanya Mama Mila.


Jason mengenang jauh ke belakang, ah iya dirinya ingat, saat itu Papanya katanya berada di rumah sakit dan tidak pulang hampir satu bulan.


"Itu karena Papamu menjadi korban penusukan dan penganiayaan, hal itu semakin membuatnya membulatkan tekad untuk mendidikmu belajar bisnis lebih cepat, karena dirinya pernah hampir berada di ujung nyawa, dia berharap saat dirinya pergi meninggalkan dunia ini kau sudah siap menggantikannya, dia sangat berharap untuk itu Nak."


Jason tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, mengapa, mengapa dirinya tidak mengetahui hal semacam ini, apakah ini sebuah karangan cerita belaka, tidak Mamanya pasti hanya beralasan saja supaya kebenciannya mereda.


"Dia tidak mengatakan itu karena pesan terakhir dari Opamu, apapun yang terjadi jangan pernah membalas dendam, Papamu tau, jiwamu sama seperti jiwa Opamu, menyala dan berkobar, jangan pernah berurusan dengannya jika masih mau hidup tenang." jelas Mama Mila.


"Tidak, jangan katakan itu, Mama bicara apa, aku tidak akan percaya." Jason semakin meragu, bibirnya menolak mendengar pengakuan Mamanya, namun hatinya sudah sangat terobrak-abrik, haruskah dirinya percaya?


"Nak, apa selama ini Mama pernah membohongimu, Mama tidak mau menanamkan sifat tercela pada anak Mama, sedari kamu kecil sampai kamu sudah menikah, Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk berbohong."


"By, coba buka matamu dan hatimu, aku yakin di sini masih ada cinta yang sangat besar, apalagi setelah tau kenyataannya seperti itu, ku mohon By, Mama tidak mungkin berbohong, sudah kukatakan, setiap orang tua pasti punya alasan untuk setiap tindakan pada anaknya." Shirleen juga mencoba menyakinkan, ia memeluk tubuh Jason yang sedikit berguncang.


"Aku tidak tau harus percaya pada siapa?" yah Jason tidak tau harus percaya pada siapa, pada pengakuan Mamanya yang baru saja terbuka, atau pada mata dan hatinya yang telah banyak berkorban dan menjadi saksi untuk hidup menyedihkannya dulu.


"By, aku mohon By..." lirih Shirleen.


"Maafkan kami Nak, kami bersalah, sangat bersalah padamu, kami yang tidak bisa memahaminya, memahami putra kami, kami tidak tau apa yang sebenarnya putra kami inginkan, kami hanya melihat sekilas tanpa mau tau bagaimana detilnya, maafkan kami Nak..."


"Kami yang bersalah..."


*


*

__ADS_1


*


Like, koment, dan Vote !!!


__ADS_2