Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Maternity Shoot.


__ADS_3

Pada akhirnya, siapa yang berbuat masalah pasti akan mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya kelak, meski itu satu tahun, sepuluh tahun, ataupun di hari akhir nanti.


Pada akhirnya, orang yang ahli dalam melakukan kejahatan, akan bertemu dengan lawannya suatu hari nanti.


Mungkin bisa berbangga hati, bukan karena lawannya rendahan, tidak mampu untuk melawan, hanya saja kadang semua itu butuh proses.


Proses untuk mengiyakan membalas semua perbuatan, proses untuk merubah pola pikir, proses untuk benar-benar mengamati, bahwa apa yang kita lakukan adalah salah atau benar.


Mungkin Bayu bisa melawan Adrian, namun ternyata tidak dengan keturunannya.


Adrian terduduk lemas di kursi kebesarannya, menatap televisi yang baru saja menampilkan berita kematian sepupunya, dirinya hanya berharap semoga almarhum Papanya tenang, meski pada akhirnya mereka tetap membalas dendam.


Tidak munafik, Adrian juga bangga dengan putranya, berani bertindak mengambil langkah cepat, Jason benar-benar keturunan Tuan Abraham.


Sementara dua insan lainnya,


Yudha dan Weni sudah memutuskan untuk pindah ke Jerman, Yudha akan hidup dan membangun usaha di sana.


Weni tidak berani untuk menolak, meski dalam tiga tahun ke depan mungkin ia tidak akan bisa mengurus butik yang telah membesarkan namanya itu.


"Temani aku, kau mau?" tanya Yudha sekali lagi, menilik keraguan di wajah istrinya.


"Ya aku akan selalu menemanimu Mas, tapi aku mau jika Ilen sudah lahiran kita bisa kembali ke sini melihat bayi-bayinya." ucap Weni penuh harap.


"Yah, kita bisa diskusikan itu."


"Mas harus janji!" tekan Weni manja, dan Yudha sudah dipastikan tidak akan bisa membantah lagi.


"Ya ya ya baiklah!" ucap Yudha.


"Terimakasih, Mas terbaik!" ucap Weni sembari jarinya memberikan finger heart pada Yudha.


Yudha gemas dengan kelakuan istrinya itu, awas saja, pemuda itu akan memastikan Weni akan bertekuk lutut padanya saat malam pertama nanti.


Hari ini, bagai hari baru bagi Jason.


Tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi siapapun yang harus dirinya lawan.


Shirleen, wanita yang tengah mengandung bayi kembar itu sedang berpose di depan kamera, memamerkan perut buncitnya, Jason pun tidak ketinggalan, keduanya sedang melakukan pemotretan untuk maternity shoot dengan berbagai tema.


Kemesraan keduanya membuat para kru dan semua wanita yang ada di sana nampak iri, Jason sama sekali tidak canggung menunjukkan kemesraannya dan Shirleen, seolah menegaskan bahwa Shirleen adalah miliknya, sementara Shirleen dengan foto-foto ini berarti dirinya akan semakin dikenal publik. Dan dia harus selalu siap akan konsekuensinya.

__ADS_1


Meski iri menyelimuti hati, namun tidak satupun manusia yang menyaksikan kemesraan Jason dan istrinya di situ bisa protes, mereka seolah bungkam karena issue yang beredar, 'Siapapun yang berbuat masalah dengan Jason Ares Adrian, maka katakan selamat tinggal untuk hidup normal.'


Meski issue itu belum diketahui kebenarannya, namun mereka semua seakan mencari aman saja.


Kali ini di ruangan tertutup, Jason sudah memprivatkan ruangan untuk dirinya dan Shirleen pada sesi foto dengan tema terakhirnya kali ini.


"By, malu ih." protes Shirleen saat Jason tidak tanggung-tanggung ingin berfoto sambil ciuman ala Korea namun dengan versi yang hot jeletot, entahlah kata Jason sih hanya ingin dijadikan koleksi saja, tidak akan diupload di sosial media.


Terlalu berlebihan untuk pemuda berumur delapan belas tahun, yah namun mau bagaimana lagi Jason adalah suaminya.


"Ayolah By!" rengek Jason.


"Malu, kamu nggak malu apa aku dilihatin sama fotografernya." tolak Shirleen beralasan.


"Itu udah tugasnya." dengan gampang Jason mengatakan itu.


"Kerja yang bener, kalau sampai lo liat dia dengan nafsu gue bunuh lo!" ancam Jason pada fotografer yang bertugas.


Hanya bisa meneguk salivanya kelat, nasibnya sedang diujung tanduk, salah sedikit saja karier bahkan nyawanya dipertaruhkan.


"Iya Tuan."


Aku tidak akan tergoda, akan aku coba, tapi bagaimana caranya, orang aku tugasnya motoin kalian, gila kali aku nggak liat.


Satu hal yang fotografer itu tidak ketahui, Jason bisa membaca pikiran orang lain, dan saat ini hal itu sudah terjadi padanya.


"By, udah, lagian kamu juga yang nggak jelas, nggak mau aku di liat-liat laki-laki lain tapi nekat mau foto layak gini." protes Jason lagi.


"Ini salah Roy!" dalih Jason.


"Lah kok jadi nyalahin Roy?" tanya Shirleen heran.


"Iya, dia yang rekomendasiin tukang fotonya, katanya ngondek taunya normal, mau cari lagi aku males, ini cuma sebentar loh By, ayok!" manja Jason.


Dengan berat hati dan berat langkah, Shirleen akhirnya menyetujui.


Adegan ciuman panas itu akhirnya bisa diabadikan, cepat sekali dan untungnya tidak ada drama yang menghiasi.


Jason selalu saja bisa membuai Shirleen dengan ciuman, yang tadinya menolak kini malah dengan senang hati mengikuti permainan Jason.


Sementara sang fotografer sedang mati-matian menahan sesuatu, ingin mengumpat namun itu adalah sebuah larangan mengingat siapa yang sedang berurusan dengannya.

__ADS_1


Sekiranya ada sembilan foto panas keduanya yang bisa diabadikan, sang fotografer memperlihatkan hasil jepretannya, dan Jason nampak senang, meski Roy merekomendasikan orang yang salah, namun nyatanya fotografer itu tidak buruk juga, terbukti dari hasil jepretannya, Jason suka!


Sementara Shirleen, wanita itu lekas berganti pakaian, akhirnya selesai juga.


Jason dan Shirleen kemudian bergegas pulang, melanjutkan kegiatan hot tadi dengan situasi yang sebenarnya.


Sementara itu,


Dareen begitu takut kala melihat istrinya yang nampak kesakitan, bayangkan saja semenjak dari tadi pagi setidaknya Sri sudah belasan kali mengalami muntah-muntah.


Makanan sedikit apapun tidak boleh masuk ke mulutnya, Sri akan langsung memuntahkannya meski yang ia makan hanya secubit roti.


"Sayang..." panggil Dareen, ia tidak tega, Sri nampak pucat.


"Aku mau muntah Mas!" ucap Sri, dan "Hoeeekkk..." dengan tanpa mengurangi rasa bersalah, Sri sudah berhasil memuntahkan air yang dirinya minum baru saja pada baju Dareen.


"Sri..." meski kesal, percayalah Dareen sedang mencoba menahannya.


"Mas, maafkan aku!" lirih Sri, bukan hanya sifatnya yang lemah lembut, namun saat ini dirinya juga tidak punya tenaga untuk banyak bicara.


"Ii iya nggak papa! Kita ke rumah sakit ya Sri!" ajak Dareen.


"Mas, aku udah nggak kuat jalan! gantiin baju aku!" pinta Sri pelan.


Dareen menurut, dirinya mengambil air dan baju Sri dari lemari, merawat Sri yang sudah lemas tidak berdaya.


"Kita ke rumah sakit ya!" ajak Dareen lagi.


"Fahira?" tanya Sri.


"Gampang, nanti Fahira kita titip di rumah Ibu dulu, ayok aku bopong sampai mobil!" ucap Dareen.


Sri mengangguk, karena dirinya juga merasakan butuh pertolongan dari dokter, sudah tidak kuat, muntah-muntah ini terlaku menyiksa, entah salah makan apa dia, seingat Sri dirinya tidak pernah makan yang aneh-aneh.


Dareen menggendong Sri membawanya ke mobil, sementara Fahira di bawa oleh Shinta anak buahnya di toko.


Bersambung...


*


*

__ADS_1


*


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2