Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Yudha yang aneh.


__ADS_3

"Yud, lo ngapain sih dari tadi bengong mulu, udah kita bakalan tetep bareng-bareng kok, jarak nggak bakalan bisa misahin kita" ucap Angga, ia merasa Yudha melamun karena akan meninggalkan mereka semua, padahal nyatanya bukan.


Yudha masih saja mengecap manisnya rasa buah yang ia dapat dari lipstik Weni, bibir itu begitu memberikan sensasi berbeda untuknya yang sudah lama menjomblo ini.


"Ngapain lo ngecap-ngecap gitu, aneh tau nggak lo" sambung Afik, semenjak dari toilet tadi Yudha sudah melamun dan semangkin bertingkah aneh.


Namun yang di tanya malah tidak menghiraukan, seolah masih betah memikirkan sebuah kecupan singkat yang tidak terduga tadi.


Ia dan Weni, rasanya juga tidak buruk, tapi wanita itu galak sekali nampaknya sulit untuk di dekati, namun karena sebuah kecupan singkat tidak di sengaja tadi, serta Weni yang mengatakan kalau dirinya adalah ciuman pertama wanita itu, anehnya Yudha semakin yakin untuk mencoba dekat dengan Weni.


Sayang sekali besok dirinya sudah harus terbang ke negara lain, meninggalkan semuanya dan Weni juga.


"Temen kamu nggak jadi datang By" tanya Jason, saat Shirleen membawakan makanan untuk mereka berkumpul santai.


Ia sedang memanggang daging berkawan dengan Afik, tapi hanya Afik yang terlihat bekerja, yah selalu saja seperti itu.


"Jadi kok By, nih ini aja dia yang nganterin, tapi dia ada urusan katanya di butik makannya cepet-cepet balik" ucap Shirleen sembari menunjuk nampan berisi kue yang sudah ia potong-potong.


"Oohh, pasti malu kali sama temen-temen aku, temen kamu itu kan emang suka gitu" ucap Jason.


"Kak Ilen, temennya cantik nggak ? Kenalin dong" sambung Afik, kalau temannya cantik seperti Shirleen ia juga mau meski umurnya lebih tua.


"Boleh, emangnya kamu mau sama yang lebih tua" tanya Shirleen.


"Ya kalau cantik kayak kak Ilen sih oke aja, yang tua malah pasti udah berpengalaman" ucap Afik lagi yang sepertinya malah mengundang kemarahan Jason.


"Plak"


Jason menampar pipi Afik langsung, ia tidak terima istrinya di katakan begitu oleh Afik, bukannya itu sama saja Afik menginginkan yang seperti miliknya, ia tidak menyukai itu.


"Paan sih Junedi, iye iye gue tau punya lo, lo pikir gue apaan, gue cuma bilang kalau yang cantiknya kayak bini lo gue mau, tapi bukan berarti gue mau sama bini lo, heran deh gue jadi orang emosian banget, mana asal nabok pula" kesal Afik, ia tidak menyangka Jason seposesif ini.


Dasar bucin akut.

__ADS_1


"Woy, ini nih tolong urusin ngapain ini si cebong dari tadi bengong mulu, gue takut kesambet, kali aja kan rumah segede gini banyak hantunya" ucap Angga menunjuk Yudha, memberi isyarat pada Jason untuk membantu menyadarkan Yudha.


"Heh Junedi lo nggak melihara apa-apa kan dirumah lo"


"Lah iya lho Ga, aku pernah lihat bayangan hitam berapa kali di rumah ini" ucap Shirleen, ia nampaknya sudah bisa mulai akrab dengan para sahabat suaminya, semenjak Angga kemarin ke rumahnya untuk meminta persetujuan akan mengadakan acara di rumahnya.


"Masa sih Kak, berapa kali ?" Kepo Angga yang memang suka dengan cerita horor, padahal malamnya pasti minta temankan tidur sama sang adik.


"Dua kali, malah aku cari-cari tapi nggak ada" tambah Shirleen.


"Beneran kak ? Hiiihh kok gue jadi merinding yaaa" memang, seketika bulu kuduk Angga memang merinding, padahal ini siang bolong dan banyak manusia berada di dekatnya.


"Duh si cebong, dia ngelamun lagi dari tadi senyum sendiri, woy Yud jangan kesurupan dong" ucap Angga, dengan langkah pasti ia kemudian menampar pipi Yudha.


"Plaaakkk"


"Paan sih ogeb, lo gila yaaa ?" bentak Yudha yang tiba-tiba dihadiahi tamparan oleh Angga.


"Abis lo dari tadi diem diem bae senyum senyum sendiri kek orang gila, gue panggil-panggil gak nyaut, gue kira lo kesurupan" jelas Angga.


"Anak Mama, ngapain sih ini kalian pada betantem" tanya Mama Wina yang tiba-tiba datang setelah tadi ia sempat menerima telepon, entah mungkin dari staff di kliniknya.


"Ini lho Ma, si Yudha dari tadi bengong mulu, aku kan jadi takut, makannya aku tampar aja mukanya biar sadar" jujur Angga tanpa merasa bersalah.


Jason, Afik, dan Angga memang memanggil Mama Wina dengan sebutan Mama mengikuti Yudha, meski tidak begitu dekat dan jarang bertemu namun karena Mama Wina adalah orang yang supel jadi mereka bisa mudah akrab saat sudah bertemu.


"Lho kenapa sayang, kamu ngelamunin apaan sih ?" tanya Mama Wina.


"Gak papa kok Ma, eh iya yuk kita makan-makan, nanti malam aku harus packing, mari kita rayakan hari ini dengan sebaik-baiknya" ajak Yudha pada semuanya.


"Hilih, tadi aja diajak ngomong aja gak nyahut, itu si Angga sampai gak mau bantuin gue, nah kek gini udah semangat aja gayanya" gerutu Afik, ia lelah karena dari tadi ia terus saja bekerja memanggang daging, mengapa ia harus bembabu disini pikirnya dasar para laknat.


Hari sudah sore saat Dareen pulang kerumah untuk mengambil baju ganti Sri.

__ADS_1


Ibunya yang mencemaskan Fahira langsung saja menanyainya dengan sejumlah pertanyaan.


"Masih demam Bu, badannya masih panas tadi terakhir aku tinggal, nggak tau deh itu gimana, udah bungkusin makanannya buat nanti malam, ibu sama bapak kalau mau kesana nanti kamarnya di ruang VIP nomor 12" ujarnya, sembari mengemasi dirinya sendiri.


"Iya nanti Ibu sama Bapak pasti kesana, kalian telpon saja kalau ada perlu apa-apa, ah iya kenapa di ruang VIP nak, lagipun kenapa harus di rumah sakit elit itu, bukannya tadi kamu bilang mau ke rumah sakit umum" tanya Bu Halima pada anaknya.


"Ceritanya panjang Bu, nanti saja aku ceritakan"


"Oh ya sudah, bilang sama Sri jangan lupa makan, jangan sampai dia juga ikutan sakit"


"Iya Bu"


"Daaah aku mau berangkat ini, Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam, Iya hati-hati jangan ngebut lagi, lah iya kamu kan tadi pulangnya naik taxi, motormu kemana Dareen ?" tanya Bu Halima yang baru sadar bahwa Dareen pulang tidak dengan motornya.


"Di bengkel Bu, rusak" singkat Dareen.


Nanti sajalah ia ceritakan apa yang telah terjadi, ia sudah di buru waktu saat ini pikirnya.


"Lho rusak, baru juga tiga bulan beli motornya udah rusak, apanya yang rusak Dareen ?" sudah menjadi lumrahnya sifat seorang Ibu jika selalu saja urus dengan anaknya, begitupun Bu Halima, selama bukan menyangkut rumah tangga Dareen karena ia menganggap masalah rumah tangga adalah hal yang di luar jangkauannya, namun untuk hal lain ia selalu saja kepo dengan apapun yang terjadi pada anaknya itu.


"Aduh Bu, nanti aja deh ceritanya, Sri cuma sendirian di rumah sakit, nanti kalau ada butuh apa-apa siapa yang urus, dia pasti nggak tau apa-apa, apa lagi di rumah sakit elit kayak gitu"


Ia kemudian memakai motor sportnya untuk ke rumah sakit.


"Ati ati Dareen, jangan ngebut-ngebut"


"Iyaaaa"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2