Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Skizofrenia


__ADS_3

Shirleen sedang menata masakannya di meja makan, Jason masih sibuk mengamati maha karya kekasihnya yang sempat ia abadikan tadi.


Seru banget kayaknya yang dilihat, sampe senyum senyum kayak orang gila.


Shirleen mengamati Jason yang masih saja sibuk dengan ponselnya, padahal ia sudah berada didepan kekasihnya dan siap untuk makan siang. Tapi Jason malah tak bergeming dan asyik sendiri.


"Kamu liat apa sih By..." Akhirnya sesuatu yang mengganjal dipikirannya ia ungkapkan juga.


"Heemm, adalah kamu gak boleh liat" jawab Jason.


"Iihh apaan sih kok bisa sampe buat kamu senyum senyum kek orang gila gitu ?"


Jason tidak menanggapi, ia meletakkan ponselnya dan memilih untuk menikmati makan siangnya saja.


...##########...


PLAAKKK...


Sebuah tamparan yang amat keras mendarat dipipi Athar, Kini keempat kakak perempuannya sedang berkumpul dirumah sakit setelah mendapat kabar mengejutkan menyangkut ibunya.


"Kamu gila yaaa, hanya demi mantan istri kamu itu kamu sampe buat ibu kayak gini" ujar Riska si sulung.


"Kamu mau bikin ibu mati hah" yang lainnya kini menimpali.


"Sudah kami katakan, wanita itu pembawa sial, sejak dulu kami semua tidak ada yang menyukainya, tapi kamu malah ngeyel tetap jadiin wanita itu istri kamu"


"Liat sekarang, liat apa yang kamu lakuin, orangnya udah pergi dari hidup kamu, tapi sialnya masih juga imbas di keluarga kita"


"Kamu benar-benar Athar, kalau sampai terjadi sesuatu dengan kesehatan Ibu, aku gak bakal maafin kamu"

__ADS_1


Keempat Kakak Athar itu pun menatap sengit Athar, mereka menganggap Atharlah penyebab segala yang terjadi, pun dengan Shirleen, mereka menjadi semakin membenci Shirleen karena Shirleen adalah alasan pertengkaran yang membuat ibu mereka seperti itu.


Dokter baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan Ibunya, Athar langsung mendekat untuk menanyakan kondisi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Bagaimana keadaan Ibu saya dok ?" tanya Athar.


"Bisa kita bicara ?" jawab dokter tersebut, terlihat sekali begitu berat yang akan ia sampaikan, namun itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang dokter, menjelaskan kondisi pasien tanpa ada yang ditutupi.


Kini Athar dan Riska si sulung di keluarganya sedang mempersiapkan diri untuk mendengar apa yang akan dijelaskan dokter.


"Ibu anda mengalami stroke, pembuluh darah diotaknya pecah disebabkan oleh tekanan darah tinggi, sebagian tubuhnya tidak bisa bekerja dengan baik mulai saat ini, dan juga saya berat mengatakan ini, namun bagaimanapun saya juga tidak bisa menutupi kondisi yang terjadi"


"Maksud Dokter ?" Riska nampak tidak bisa terima apa yang telah terjadi pada ibunya itu.


"Maaf, Ibu kalian saat ini juga mengalami Skizofrenia, itu..."


"Skizofrenia, gangguan mental akibat fungsi otak yang terganggu" jelas dokter.


"Skizofrenia, gangguan mental ?" Air mata Riska luruh begitu saja, apa lagi ini batinnya, tidak cukupkah stroke yang dialami ibunya itu, kenapa gangguan mental juga harus terjadi pada ibunya.


"Skizofrenia juga diartikan sebagai sekelompok gangguan berat pada otak di mana orang akan menafsirkan realitas dengan abnormal, tidak seperti orang pada umumnya. Orang yang mengalami hal ini akan mengalami beberapa hal seperti halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran dan perilaku. Mayoritas dari penderitanya mengalami rasa takut yang luar biasa. Skizofrenia bisa dikatakan sebagai sebuah kondisi yang kronis. Sebab, penderitanya tidak dapat dilepaskan dari namanya pengobatan. Mereka harus mendapatkan perawatan seumur hidup mereka"


"Perawatan seumur hidup Dok ?" Riska masih tidak percaya, sementara Athar menunduk dalam tangis, ialah penyebabnya.


"Apa bisa disembuhkan Dok ?" tanya Riska lagi.


Dokter pun menggeleng pelan, "kemungkinannya sedikit, maaf, lebih tepatnya hanya bisa menjaga kondisi kejiawaannya dengan ya seperti itu tadi beliau tetap harus mendapatkan perawatan seumur hidupnya" jawab Dokter.


"Jika nanti Ibu kalian sudah sadar, kalian harus mengerti mungkin ia akan berhalusinasi dan merasa seperti ketakutan, saya tidak bisa mendengar apa yang ia katakan dengan jelas karena kondisi mulutnya yang maaf tidak lagi pada umumnya, jadi saya tidak tahu halusinasi apa yang membuat mentalnya terganggu"

__ADS_1


"Tapi kami dari pihak rumah sakit, akan melakukan yang terbaik untuk kesehatan Ibu kalian"


Riska dan Athar keluar dari ruangan Dokter, mereka berdua langsung diberondong pertanyaan dari ketiga saudara lainnya.


"Ini semua salah kamu, aku gak akan pernah maafin kamu, pergi kamu, pergi..." Tiba-tiba Riska berteriak sambil mengguncang hebat tubuh Athar.


Athar hanya bisa meminta maaf dan ampun bersimpuh dibawah kaki kakak sulungnya itu, ia juga tidak ingin melihat ibunya menderita seperti itu, sungguh tidak ada niat sedikitpun dirinya akan mencelakai ibunya.


"Maafin aku kak, aku gak ada sedikitpun niat untuk buat celaka ibu" Athar masih terus bersimpuh dikaki Riska, air matanya pun sudah tidak bisa ia bendung.


"Apa yang terjadi kak Riska ?" Tanya Nana.


"Ibu mengalami stroke berat dan gangguan mental Na, dan itu semua gara gara dia" dengan penuh kemarahan dan isak tangis Riska menunjuk menyalahkan Athar.


Riska kembali memukul tubuh Athar, rasanya itu pun belum sebanding dengan apa yang diderita ibunya. Pun juga dengan ketiga kakak Athar lainnya, mereka kini juga membenci adik bungsu mereka itu.


Hingga aksi mereka berlima mengundang banyak perhatian pengunjung rumah sakit, dan pada akhirnya satpam harus ikut melerai pertengkaran sebuah keluarga itu.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, dan vote yaaa


Happy reading*** !!!

__ADS_1


__ADS_2