Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Rencana Tuan Fred.


__ADS_3

Dengan lesu Jason menuruni anak tangga, ia ingin mengambil minuman dingin untuk membasahi tenggorokannya, berteriak juga butuh energi.


"Kenapa nyata sekali ?" gumamnya sekali lagi pada keanehan yang terjadi padanya.


Namun kala ia hendak kembali ke kamar, ia melihat tubuh Shirleen di pantulan kulkas mewahnya, ia diam sejenak memperhatikan dan tidak berani menoleh, ia takut hal semacam itu lagi-lagi hanya bayangan.


Pelan ia mendekat, meraba bayangan yang terpantul di kulkas berdesign kaca tersebut, tidak hilang, ia memejamkan matanya sebentar namun bayangan itu tetap masih ada meski ia sudah berkedip, ingin sekali ia menoleh ke belakang melihat keberadaan istrinya, namun jujur saja ia sudah takut kalau saja segalanya itu tidak akan nyata.


Jason merasa ia sungguh gila, otak geniusnya tidak bisa bekerja kala dipermainkan seperti ini.


Benar saja, setelah ia menoleh ke belakang tidak ada siapa-siapapun di dapur kecuali dirinya.


"Sial..." umpat Jason, segala yang terjadi sudah diluar kendalinya.


Ia tidak bisa berdiam diri saja, apa lagi ia sudah sangat yakin bahwa lawan mainnya kini adalah Tuan Fred, seseorang yang ia anggap master baginya.


Jason segera menyusun rencana supaya ia bisa bertemu dengan Tuan Fred, kali ini bukan ia yang akan mencari namun Tuan Fred lah yang akan menampakan diri dengan sendirinya. Setelah itu baru ia bisa menemukan dimana keberadaan istrinya.


Sementara di SMA Guna Bhakti.


Saat ini Yudha tengah disibukkan oleh mencari keberadaan Weni. Uang tiga juta sembilan ratus yang pernah Weni pinjamkan pada Mamanya sayangnya belum juga ia ganti. Kemarin saat mamanya menanyakan perihal itu ia juga baru tersadar bahwa keluarga mereka mempunyai hutang pada wanita itu.


Hari ini entah sudah keberapa kalinya Mamanya menanyakan apakah ia sudah mengetahui keberadaan Weni atau belum.


Sayang seribu sayang ia tidak mempunyai petunjuk apapun tentang wanita itu, setelah Weni pulang dari rumahnya bahkan ia berharap tidak bertemu lagi dengan wanita ceroboh itu.


"Harus cari dimana gue ?" gumamnya pelan. Namun pendengaran pemuda di sampingnya tampak begitu tajam sehingga masih bisa mendengar gumamannya.


"Nyari apaan sih Men ?" tanya Angga kepo.


"Haaahh" Yudha menghela nafasnya berat "Sekitar seminggu yang lalu, nyokap gue belanjaannya dibayarin sama cewek yang namanya Weni, soalnya waktu itu nyokap lupa bawa dompet, nah begonya gue lupa buat ganti dan gue sama sekali nggak tau keberadaan tuh cewek dimana ?" jelas Yudha.


"Waahh parah lo Men, hutang itu kalo nggak dibayar di dunia, di akhirat lo tetep bakal nyari-nyari dia sampe ketemu, hiiihh serem" ucap Angga, ia pernah mendengar salah satu kajian seperti itu saat ia sholat jumat, entahlah ia lupa kapan tapi katanya sih begitu.


"Lo cari deh buruan" lanjutnya lagi.


"Ini gue juga lagi nyari ogeb, lo pikir gue mau punya utang" kesal Yudha, kadang-kadang bicara dengan Angga memang selalu buang-buang tenaga.

__ADS_1


"Ya bagus itu, udah dapet petunjuk ?" tanya Angga lagi.


"Gak tau gue"


"Namanya siapa tadi ?"


"Weni"


"Yang lo tau dari dia ?" tanya Angga, ia sudah bagai detektif saja rasanya.


"Gak tau, nggak ada yang gue tau dari dia" jawab Yudha.


"Ya udah sih semoga aja tuh neng Weni ikhlas" cuek Angga.


"Eehh buntut panci, bukannya tadi lo sendiri yang bilang hutang tetep hutang dan harus dibayar, kalo nggak katanya bisa-bisa gue nyari dia sampe akhirat sono, lo gimana sih" Yudha tidak percaya akan solusi yang baru saja dilontarkan Angga. Gini-gini ia juga tau kali tentang hukum hutang piutang dalam islam.


"Ya udah sih santai aja kali, mungkin si neng Weninya orang kaya makannya dia bisa nggak peduli sama duitnya, emang berapaan sih ?" tanya Angga sedikit penasaran kira-kira berapa sih jumlah yang harus dibayarkan.


"Tiga juta sembilan" jawab Yudha singkat, ia masih dalam mode pusing memikirkan akan dimana ia bisa menemukan Weni.


Entah hadis atau semacam apa yang Angga keluarkan tadi, dan ternyata begitu cepat sahabat minim akhlaknya ini berubah pikiran pikir Yudha.


Dasar iman cetek, plin plan.


"Gue cabut dulu" pamit Yudha, ia melangkahkan kakinya menuju parkiran, pulang lalu tidur mungkin akan membuatnya menjadi lebih baik.


Kini ia sudah sampai di rumahnya, ia langsung ke atas menuju kamarnya, Mamanya belum pulang dari klinik jadi ia bisa aman dari pertanyaan seputar Weni yang masih juga belum ia temukan.


Yudha melangkah menuju kamar mandinya, ia ingin membersihkan diri lalu tidur untuk merefresh kerja otaknya yang telah ia paksa berpikir keras tadi.


Namun ia menemukan sesuatu di atas wastafelnya, sebuah nota pembelian gaun dengan logo butik ternama Angels W.


"Mungkinkah ini punya Weni ?" gumamnya.


Ia ingat, saat di meja makan mamanya pernah bertanya apa pekerjaan Weni, dan saat itu Weni mengatakan kalau ia memang bekerja di Butik.


Ia menyimpan nota tersebut, kertas itu bisa ia jadikan petunjuk untuk membayar hutangnya.

__ADS_1


Jason menuju rumah Tuan Fred, ia akan melakukan sesuatu, tidak peduli baginya ia harus berperang, karena Shirleen yang tidak bisa ia lihat saat ini entah bagaimana keadaannya, jangankan hanya berperang membunuh pun akan ia lakukan jika sampai terjadi sesuatu dengan Shirleen dan kedua anaknya.


Setelah selesai ia beralih ke markasnya dan Shakira. Ia sudah berjanji pada Shirleen kalau ia tidak akan melakukan tindak kriminal lagi, namun demi menyelamatkan Shirleen kali ini ia terpaksa melakukannya lagi.


Ia mulai melancarkan aksinya, sebentar lagi bisa ia pastikan tuan Fred akan keluar dengan sendiri dari sarangnya.


Tuan Fred tercengang kala mendapati sebagian sistemnya terserang virus dadakan, bahkan virus itu tidak bisa di hentikan penyebarannya, akunnya kini telah resmi di hack dan ia mengetahui siapa dalangnya, ia tidak menyangka Jason akan melakukan ini padanya meski ia sudah mewanti semuanya.


Puluhan triliunan rupiah lenyap tak tersisa, bahkan ada dua transaksi yang gagal karena sistem jaringan yang tiba-tiba terserang virus.


Ia sudah di rampok secara terang-terangan sekaligus membuang-buang uangnya karena transaksi yang gagal.


"Anak itu..." geramnya.


Ini adalah konsekuensi jika berani berhadapan dengan Jason Ares Adrian.


Licik dan tak kenal ampun begitulah hal yang melekat pada Jason yang sebenarnya sampai saat ini masih anak buahnya.


Sayangnya Tuan Fred telah menduga itu akan terjadi, jadi ia telah mempersiapkan semuanya.


"Permainan yang sebenarnya baru dimulai Jason" ucap Tuan Fred, ia tetap akan melawan sekalipun harus dengan menyakiti Jason.


"Bagaimana Tuan ?" tanya seseorang.


"Seperti yang telah direncanakan, dia sudah menyerangku saat ini" jawab tuan Fred.


"Apa Tuan yakin ini akan berhasil ?"


"Aku tidak yakin seratus persen, namun apa salahnya mencoba, kau tau aku sudah kehilangan banyak uang demi dirinya, kalau sudah begitu aku tidak bisa berhenti begitu saja"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2