Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Satu datang dan satu pergi.


__ADS_3

Jason mengantar Dareen ke rumah sakit milik keluarganya, ia memerintahkan pada dokter Eri untuk mengurus semuanya di bagian administrasi bahwa Dareen tidak perlu membayar apapun.


"Lo sukses banget keknya, aaah iya tadi lo bilang lo udah punya istri, berarti pernikahan lo masih di rahasiain dong" tanya Dareen saat mereka tengah berbincang, tidak jauh dari mereka di ruangan yang sama Fahira sedang di tangani petugas rumah sakit.


"Eemm, sebenarnya gue gak lama lagi sih mau umumin pernikahan gue, sekalian acara resepsinya, cuma masih mau runding dulu sama istri kapan waktunya" jawab Jason.


"Ooohh, waah gila gila, lo udah punya anak juga malah"


"Ya, sama juga kayak lo kan" ucap Jason, bukannya ia dan Dareen sama, sama-sama menikah muda, sama sama sudah punya anak, bedanya ia menjadi ayah sambung, sementara Dareen, Jason belum mengetahui bagaimana bisa Dareen menikah muda dan apa alasannya.


Begitupun Dareen, yang berpikiran sama seperti Jason, ia tidak percaya nasibnya akan sama seperti Jason, menikah muda dan saat ini pun sama masih memakai seragam putih abu-abu, sayangnya mungkin Jason menikah karena cinta hingga bisa memiliki anak, sementara ia, ia harus menikahi janda dan menjadi ayah sambung. Padahal Dareen tidak mengetahui kebenarannya.


Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing, Jason yang memang tidak suka mengurusi urusan orang lain enggan menanyakan detilnya apa yang telah terjadi, sementara Dareen ia takut akan dosa jika berani saja bersuudzon tentang hidup orang lain.


Lagipun baginya menceritakan kehidupan rumah tangganya itu tidak lah benar dalam islam, jadi biarlah Jason mengatahui kalau Fahira benarlah anaknya.


"Iya sih, eh main dong kerumah gue, ajak istri dan anak lo, bokap pasti gak percaya bisa ketemu lo lagi" ucap Dareen.


"Iya nanti, tulis WA lo, nanti gue kabarin"


Dareen pun mengambil ponsel Jason, dan menuliskan nomor kontak WAnya.


"Gue harus pulang, denger kalau udah selesai langsung balik ajah nggak usah bayar, gue udah urus semuanya" ucap Jason, ia menepuk pundak sahabatnya itu untuk kemudian berlalu pergi, istrinya sudah menunggu di rumah, dan lagi ia juga sudah tidak sabar akan ada kejutan apa yang Shirleen berikan padanya.


"Oh oke, makasih bro"


Dareen mendekati Sri yang masih mengurusi Fahira setelah tadi sudah di tangani pihak rumah sakit.


"Gimana keadaannya" tanya Dareen, Fahira sedang tertidur setelah tadi di berikan obat oleh dokter.


"Masih panas Mas, kata Dokter lebih baik Fahira di tahan dulu untuk melihat perkembangannya, kamu kabari Ibu yaaa atau kamu mau pulang dulu Mas ?" jelas Sri. Ia tidak menyangka kalau demam Fahira yang dikiranya demam biasa akan membuat anaknya itu sampai dirawat di rumah sakit seperti ini.


"Sebentar lagi aja, sore nanti gue pulang sekalian bawain lo baju ganti dan makanan, gue keluar dulu yaaa, mau kasih tau Ibu"


"Iya Mas"

__ADS_1


"Sri..." Ucap Dareen lagi ia menghentikan langkahnya di depan pintu.


"Ya Mas"


"Lo mau makan apa ?" tanya Dareen, melihat Sri yang begitu mengkhawatirkan Fahira, ia menyangka Sri pasti belum makan sedari tadi.


"Apa ajah Mas, terima kasih yaaa"


"Iya, Asalamualaikum..."


"Waalaikum salam"


Jason baru saja sampai di rumahnya, dan melihat rumahnya tampak sepi, ia tersenyum samar ia menyangka itu semua pasti ulah istrinya.


Ia menuju kamarnya dan Shirleen, kali saja Shirleen ingin berolahraga siang-siang begini pikirnya.


Namun ternyata sang istri tidak ada di kamarnya, dan ketika dia keluar kamar untuk mencari keberadaan Shirleen,


"SURPRISEEE..."


"Anjim, ngapin dirumah gue ?" tanya Jason kesal.


"Lo kecewa yaaa, pasti kecewa kan" ucap Angga.


"Eh Junedi lo udah berharap banget yaaa dapat kejutan dari istri lo, hahaha" kali ini Afik, ia memang sudah membayangkan bagaimana kesalnya Jason jika sebenarnya kejutan itu bukan dari Shirleen melainkan dari mereka bertiga.


Besok Yudha sudah berangkat ke Jerman, ia akan mengurus segala keperluan dan tempat tinggalnya di sana, ia memilih untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, setelah nanti kembali lagi saat perpisahan itupun mungkin hanya sebentar.


Namun hanya Angga dan Afik yang mengetahui, maka dari itu mereka membuat kejutan dan sedikit party, mengingat Jason yang sudah berkeluarga dan tidak mungkin bisa di ajak bebas bersenang-senang seperti dulu, mereka memutuskan untuk mengadakan acara perpisahan itu di rumah Jason.


Pun Shirleen sudah setuju, ia malah senang saja bisa bergabung dengan acara anak muda.


"Gue bakal berangkat ke LN besok" ujar Yudha tiba-tiba sembari menatap Jason yang sepertinya sedang menahan kesal.


Ekspresi Jason berubah menjadi terkejut, mengapa besok, mengapa secepat itu.

__ADS_1


"Oohh" singkat Jason diluar dugaan para sahabatnya, ia tidak bisa mengatakan apapun mendengar akan berpisahnya seorang sahabat, ia bukan orang yang bisa melakukan apapun untuk mencegah atau mungkin sambil panik menanyakan mengapa harus secepat itu, tidak dia bukan sahabat seperti itu meski ia ingin sekali bertanya, tapi baginya jika Yudha sudah maunya begitu mengapa ia bisa tidak setuju.


Pendidikan memang yang terpenting.


"Kok oohh sih, lo sebenarnya temen kita bukan sih ?" protes Angga, meski omongannya sudah biasa di tanggapi seperti itu oleh Jason, namun ia tidak berharap Jason akan menanggapi dengan sebiasa dan secuek itu menyangkut berpisahnya Yudha.


"Tau lo, nggak ada rasa apa gitu, dasar kanebo kering" timpal Afik.


Jason dengan santai melangkahkan kaki meninggalkan ketiganya. "Ayo, kalian punya kejutan apa ?" ucapnya kemudian bertanya, yang tanpa berdosa telah membuat kedua sahabatnya itu naik darah.


"Males gue Junedi, tau gitu gue party di rumah Yudha aja tadi, lo kelihatannya gak ada sedih-sedihnya bakal di tinggalin temen" ucap Afik, ia memilih duduk di kursi tamu yang berada di depan kamar Jason. Ia ngambek.


"Heh" desah Jason pelan. "Memangnya gue harus apa ?" tanya Jason.


"Udah Men, ngapain sih ribut cuma ditinggalin gue, Fik, Ga, tiap orang itu punya cara sendiri buat ngungkapin perasaannya, gitupun Junedi" ucap Yudha menengahi.


"Ayo kita party, besok gue udah pergi kalian yakin nggak mau buat kenangan sama gue" lanjutnya lagi.


Ke empat personil 4 Perjaka itu kemudian menuju taman belakang tempat di mana Shirleen berada, ia sudah menyiapkan segalanya bersama Ipah, ada juga Mama Wina ikut membantu karena di hubungi Yudha tadi.


Jason tidak menyangka kejutan untuknya adalah seperti ini, satu orang terdekat datang, satu orang lainnya akan pergi jauh.


Yudha, sebuah nama yang sudah memiliki tempat di hatinya, bagaimana mungkin ia bisa merasa tidak kehilangan, bagaimana bisa ia baik-baik saja saat mendengar keputusan Yudha, meski sejauh apapun jarak mungkin tidak akan bisa membuat persahabatan mereka memudar, namun kenyataannya tetap akan lain rasanya, semua tidak akan sama lagi.


Nanti menunggu yang pulang sudah akan mereka jalani, Jason mulai mengerti apa ini yang ketiga sahabatnya rasakan saat ia tidak masuk setengah bulan lamanya, ia ingat tidak ada satupun hari Afik lewat menghubunginya, Angga dan Yudha mengirim pesan padanya, meramaikan grup chat mereka yang isinya somplak semua, meski hanya ia baca namun ia merasa selalu ada diantara ketiganya.


Mereka yang selalu peduli, meski kadang ia juga sadar kalau ia sudah keterlaluan, mengapa harus pergi jika bisa terus disini, tapi ia tidak bisa mencegah semuanya, ia akan mendukung segala yang menurut sahabatnya itu yang terbaik.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2