
"Bagaimana Dok ?" tanya Jason dengan begitu antusias, yah saat ini pasangan suami istri itu sedang berada di rumah sakit menanyakan lebih lanjut perihal dugaan Ipah tadi.
Tak jauh dari mereka, ada Ipah yang sedang menggendong Jacob juga Misca yang duduk anteng, percayalah saat ini Ipah sungguh tegang bukan main, ia berdoa semoga saja Nona mudanya itu memang benar sedang hamil, bukan hanya karena ia yang turut berbahagia, tapi lebih ke karena jika Nona Mudanya tidak hamil bagaimana ia mempertanggungjawabkan kata-katanya tadi.
"Untuk ke dua kalinya aku harus mengatakan ini, selamat Tuan Muda, istrimu memang sedang hamil." ucap Dokter Eri, ia turut berbahagia sekaligus sedikit bersedih, di usianya yang tak muda lagi dia belum bisa mencetak Eri junior satu pun sementara Jason, sepupunya itu memang menang banyak, sudah mengambil start lebih dulu dan kini bahkan telah mencetak beberapa, oh astagah bolehkah ia iri hati.
Jason tidak bisa menahan kebahagiaannya, ia langsung saja memeluk Shirleen dengan haru, akhirnya dia bisa melawan pemikirannya.
Selama ini Jason sedikit banyaknya memang diliputi rasa takut, mengingat penantian orang tuanya untuk mendapatkan seorang anak haruslah menunggu selama sepuluh tahun, maka saat Shirleen belum juga hamil, rasa berkecil hati baginya tidak bisa ia hindari meski tiada satupun orang yang tau kegelisahan hatinya, ia sungguh bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Namun sekarang lihatlah, ia telah berhasil melawan ketakutan, kini istrinya itu benar-benar tengah hamil.
"By, kamu hamil, anak kita By !" Shirleen terdiam, benarkah ia hamil, mengapa beberapa minggu ini ia sama sekali tidak ada menunjukkan gejala kehamilan, seperti muntah atau semacam apa, mengidam misalnya.
"Ii ya By..." gagap Shirleen, apa benar dirinya hamil.
"Tapi Dok, kenapa saya yang hamil tapi suami saya yang ngidam ?" tanya Shirleen, ia rasa itu cukup aneh, saat hamil Misca ia menanggung segala kehebatan morning sickness sendiri, mengidam rujak buah uni, ingin bermain di taman seperti anak TK, kenapa ini flat saja, tidak ada sama sekali yang ia rasakan.
"Sindrom Couvade atau biasanya disebut dengan istilah kehamilan simpatik, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri."
"Itu biasa terjadi, tidak perlu cemas nanti juga akan mereda dengan sendirinya, jika sudah tau begini maka komunikasi yang baik antara suami dan istri itu sangat diperlukan, Nona Shirleen harus lebih mengerti mungkin keanehan yang terjadi ataupun perubahan suasana hati bisa saja terjadi, begitupun dengan Tuan Muda, Nona Shirleen juga bisa merasakan ngidam sewaktu-waktu dan sama perubahan emosi juga." jelas Dokter Eri.
"Heemm, kalau boleh kami tau, sudah berapa bulan Dok ?" tanya Shirleen.
"Usia kandungannya tiga belas minggu, dan..." Dokter Eri menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Dan apa ?" tanya Jason cepat.
"Aku rasa ada dua plasenta, sekali lagi selamat istrimu kemungkinan tengah mengandung bayi kembar saat ini, lebih tepatnya kembar fraternal." ucap Dokter Eri, ia rasa dugaan dan penglihatannya tadi tidak salah, memang ada dua plasenta yang terlihat di layar monitor tadi.
"Kau gila, jangan bercanda !" ucap Jason, ia benar-benar tidak percaya, ia bukan hanya berhasil melawan ketakutannya, ini justru diluar batas pemikirannya, ini gila kalau memang benar, entahlah apa sebegitu unggul bibitnya ini sehingga berhasil mencetak dua sekaligus.
"Aku tidak gila dan apa aku terlihat seperti sedang bercanda, kurasa tampangku ini cukup serius, begini saja nanti satu bulan dimulai dari hari ini, aku jadwalkan kalian periksa lagi untuk melihat perkembangannya." ucap dokter Eri.
"Nona selamat yaaa !" ucap Ipah memberikan selamat pada Shirleen.
"Tuan selamat yaaa, tuh bener kan apa kata saya." ucap Ipah, menekankan kembali jasanya, ah dia sudah berani karena ia tau Tuan Mudanya itu pasti senang bukan kepalang saat ini.
"Ya ya, aku berhutang budi padamu, kau mau minta apa nanti pasti akan aku kabulkan asal jangan yang aneh-aneh, dan yah jangan menikah dulu untuk tahun ini, dengar kau harus bekerja lebih ekstra untuk mengurus istri dan anak-anakku." ucap Jason pada Ipah, saking senangnya ia bahkan bisa bicara sangat santai bagaikan teman dengan Ipah, ah ia sungguh bersyukur saat ini.
"Baik Tuan Muda, pasti, saya akan bekerja lebih giat lagi." ucap Ipah penuh semangat.
"Iya, kembar fraternal, memiliki dua plasenta, dan kemungkinan jenis kelaminnya juga berbeda, sekali lagi selamat Nona." ucap dokter Eri dengan senyum sumringahnya.
"Kau bilang apa tadi, maksudmu anakku sepasang laki-laki dan perempuan ?" tanya Jason, ya Tuhan kejutan apa lagi ini pikirnya.
"Iya, apa Nona Shirleen memiliki keturunan kembar ?" tanya Dokter Eri pada Shirleen.
"Iya, Mamaku kembar tidak identik, pamanku yang di Turki adalah kembarannya." jawab Shirleen.
"Yah kasusnya memang sering seperti itu, ini lumrah saja." ucap Dokter Eri.
__ADS_1
"Aku akan mengurus kenaikan jabatanmu, kali ini aku sungguh berterimakasih padamu." ucap Jason, ah ia sangat senang, entah bagaimana ia akan merayakan berita besar ini.
"Tidak usah sampai segitunya Tuan Muda, ini memang sudah di tugasku, lagi pula aku cukup senang dengan jabatanku saat ini." ucap Dokter Eri.
"Ya ya terserah kau saja." ucap Jason, ia memeluk Shirleen lagi, ah rasanya ia ingin seperti ini saja.
"Ini obatnya saya resepkan, nanti tunggu sebentar perawat saya akan menebusnya, untuk Nona Shirleen perbanyak minum air putih makan makanan bergizi, seimbang dan cukup, hindari junk food, hindari asap rokok yaaa, soalnya plasentanya ada dua jadi membutuhkan lebih banyak asupan dan lebih banyak juga perhatian." jelas dokter Eri.
"Tidak boleh stres, begitupun suaminya, jaga selalu keharmonisan." kalau untuk kata yang terakhir ia memberikan sedikit kerlingan mata untuk sepupunya itu.
"Iya Dok." ucap Shirleen.
"Sekali lagi selamat ya untuk kalian berdua." ucap Dokter Eri lagi.
Setelah menunggu sembari berbincang-bincang seputar kehamilan kembar fraternal tak lama perawat pun datang memberikan obat yang telah diresepkan untuk Shirleen, Jason langsung menerimanya, kemudian keduanya berpamitan pada dokter Eri.
Di Mobil, Shirleen segera menyusui Jacob, karena dari tadi bayinya itu sudah bangun, beruntung Jacob bukan bayi yang pemilih jadi saat di gendong Ipah ia tidak terlalu rewel.
"By, aku lupa nanya sama sepupu kamu itu, ini kan Jacob masih asi ke aku, boleh nggak aku ngasih asi buat Jacob dengan kondisi aku yang lagi hamil muda gini, atau coba deh nanti kita cari di google aja ?" ucap Shirleen saat Jacob sudah mengasi padanya.
"Nanti aku telpon dia, atau nggak suruh dia main ke rumah aja." ucap Jason, ia mulai menghidupkan mobilnya, ia ingin segera bermanja dengan istrinya, puas ia sungguh puas atas pencapaiannya.
Ah, Jason Junior, coming soon !!!
Bersambung...
__ADS_1
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...