Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Zalin.


__ADS_3

"Gue nggak nyangka pengaruhnya bakalan segede ini!" ujar Afik, dirinya sangat tidak percaya kala hari ini sudah puluhan orang meminta foto bareng dirinya karena iklan yang tayang di YouTube milik akun Shirleen Damla J itu.


Wajah dirinya dan Angga menjadi idola baru bagi netizen.


Secepat itu, dan sangat berpengaruh.


"Gila ya pengaruh Junedi, padahal itu akunnya Kak Shirleen lho!" timpal Angga.


"Kabarnya cafe Jash malah diserang, banyak banget orang yang datang cuma mau beli apa yang di iklan."


"Serius lo?" tanya Angga.


"Iya, gue ngerasa berguna sih seenggaknya!" ucap Afik.


Selama ini Angga dan Afik memang hanya orang biasa, tidak terlalu mengurusi sosial media, mereka hanya menggunakan sosial media sesuai kebutuhan normalnya saja, meski begitu followers mereka juga tidak diragukan meski kemarinnya mereka belum terkenal.


"Ke rumah Junedi yok!" ajak Afik.


"Ide bagus tuh, kasih apa yah buat si gembul?" tanya Angga.


Athar memberhentikan motornya tepat di depan rumah Jason, dirinya ingin mengunjungi Misca hari ini.


Serangkaian proses sudah dirinya ikuti, tidak ada penjaga karena di rumah Jason semua sistem sudah di atur sedemikian rupa, jadi untuk masuk ke rumah itu harus berhadapan dengan robot-robot pintar yang Athar saja tidak sanggup memikirkan bagaimana cara kerjanya.


Ting tong!


Tidak ada sahutan, cukup lama Athar berdiri diambang pintu.


Akhirnya pria itu memilih duduk di kursi sembari menunggu, mungkinkah Shirleen dan Misca tidak di rumah pikirnya.


Hampir satu jam Athar menunggu, namun tidak juga ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu, jadi dirinya memutuskan untuk pergi, dan akan ke sini lagi saat sudah sempat.


Mungkin Misca ke rumah Omanya, biarkan saja masih ada lain waktu.


Athar mengendarai motornya menuju supermarket, kebetulan persediaan stok bahan untuk jualannya sudah menipis, jadi dirinya ingin berbelanja.


Selepas kepergian Athar, datang lagi dua anak manusia hendak bertamu ke rumah Jason, mengikuti serangkaian proses yang ada sama seperti yang dilakukan Athar, mereka akhirnya bisa lolos dan masuk ke halaman rumah Jason.


Memencet bel di pintu utama, namun tidak juga adanya tanda-tanda kehidupan.


"Seharusnya kita telpon Junedi dulu kalau mau kesini, udah ngadepin itu robot, eh taunya sampe sini Junedinya nggak ada." kesal Angga.


Afik segera menelpon Jason, menanyakan ada di mana sahabatnya itu.

__ADS_1


Sayang sekali keduanya harus menerima kekecewaan kala Jason mengatakan bahwa dirinya tidak bisa di temui untuk saat ini, ada suatu hal dan Jason juga berpesan untuk jangan mengatakan apapun tentangnya jika ada orang yang bertanya perihal dirinya dan Shirleen.


"Junedi kenapa sih?" tanya Angga.


"Tau!"


"Dia nggak bisa ditemui, katanya sih ada hal serius, lo denger kan tadi." papar Afik.


"Iya gue denger, nggak boleh bahas apapun tentang Junedi."


"Jadi kemana nih? Pengangguran kek kita ini keknya kurang kerjaan banget."


Memang benar, selain kegiatan kuliah, Angga dan Afik memang tidak punya kesibukan lain.


Angga pernah ingin bekerja di perusahaan Papanya, namun sang Papa mengatakam jika untuk sekarang dirinya diharuskan untuk belajar yang benar, nanti jika sudah menjadi sarjana barulah dirinya diberikan kepercayaan untuk mengelola satu perusahaan, karena sekarang Diran kakaknya masih bisa diandalkan.


Sementara Afik, pemuda itu memiliki Ayah yang berprofesi sebagai Pilot, serta Bunda yang mengurusi toko perhiasan peninggalan Neneknya, hidup Afik sudah bergelimang harta sedari dilahirkan, dirinya hanya cukup menikmati hidup.


Dulu dirinya pun juga bercita-cita menjadi seorang pilot seperti Ayahnya, namun karena suatu kejadian, dirinya enggan melanjutkan cita-citanya itu.


"Cafe Kak Ilen yok!" ajak Angga kemudian.


"Ya udah ayok!" setuju Afik.


Dua puluh lima menit berlalu, kini Angga dan Afik sudah sampai di cafe Jash, mereka segera menempati tempat biasa mereka mangkal apa lagi kalau bukan di pojokan.


Bercanda riang, hingga Angga menghentikan candaannya karena melihat wanita yang dikenalnya.


"Fik, lo liat deh, itu bukannya si Lisa?" tanya Angga, dirinya menajamkan penglihatan supaya lebih jelas, kali saja dirinya salah orang.


"Lah iya, kayaknya sih!" timpal Afik.


"Masih berani unjuk muka yah ternyata tuh cewek." Angga menatap remeh wanita yang pernah mengajak Jason kenalan itu.


Yang pernah viral karena vidio asusila, setelah itu Lisa hilang entah kemana, mereka netizen julid termasuk Angga dan Afik menyimpulkan bahwa Lisa pasti malu dan menutup diri.


Namun kini Lisa tampak bersikap biasa saja, bahkan wanita itu begitu murah senyum sebanyak yang Angga dan Afik lihat.


Langkah kaki Lisa mendekat, sebagai waiters dirinya tidak pernah memilih-milih siapa yang akan dirinya layani, kemarin saja dia habis di bully oleh teman sekolahnya dulu, namun Lisa sudah menyiapkan hatinya untuk semua itu. Bullyan bukan lagi hal yang akan membuatnya down, dirinya merasa harus bangkit dan melawan semua yang akan merusak mentalnya, dia tidak mau hidup dalam kesia-siaan hanya karena tidak bisa lepas dari keterpurukan.


"Selamat siang, mau pesan apa?" tanya Lisa ramah sembari siap mencatat apa yang akan di pesan Angga dan Afik. Lisa masih mengenali siapa kedua pemuda di hadapannya ini, karena semenjak dulu pernah memutuskan untuk mengidolakan Jason, Lisa sangat tau siapa saja yang dekat dengan idolanya itu.


"Lo Lisa kan?" tanya Afik, sudah tau Lisa namun entah mengapa karena ketidakpercayaannya dirinya kembali menanyakan.

__ADS_1


"Iya, saya Lisa, silahkan dipesan menunya!" ucap Lisa, dirinya mencoba untuk tidak mengakrabkan diri namun tetap masih dalam mode ramah tamah.


Afik memicingkan matanya, tampaknya wanita yang sudah tidak lagi gadis di hadapannya ini tidak berniat untuk menanggapinya.


"Masih punya keberanian juga lo ya!" ucap Angga.


Sementara Lisa tidak menjawab, dirinya masih menunggu dan siap mencatat apa yang akan di pesan Angga dan Afik.


"Hemmm, sayang banget cerita hidup lo harus tragis kek kemaren, setelah sekian lama menghilang taunya bisa ngeliat lo di sini." Afik tersenyum smirk.


"Ada apa Lisa?" tanya Zalin, dirinya melihat Lisa tampak mulai salah tingkah, ternyata ada dua orang pemuda yang mengganggunya, Zalin tidak bisa membiarkan itu, Lisa sudah berusaha untuk menghilangkan traumanya, tidak mudah bagi Lisa untuk bisa bersosialisasi layaknya orang normal, jadi tidak akan ia biarkan ada yang mengganggu Lisa.


Lisa menoleh ke arah Zalin, "Tidak apa, mereka hanya bertanya tentang menu baru, aku harus menjelaskannya, tapi sayangnya aku sedikit lupa!" jawab Lisa berbohong.


"Ya sudah biar aku saja yang layani, kau pergilah ke meja nomor sepuluh, tadi aku baru saja mau ke situ." ucap Zalin, lebih baik begitu, sekaligus memberikan kedua pemuda ini pelajaran pikirnya.


Mereka pikir gue nggak tau kalau mereka baru aja mengungkit masa lalu Lisa.


Kita liat, apa mulut busuk mereka ini masih berani bicara rendahan begitu?


Zalin menganggap remeh Angga dan Afik.


Namun lain halnya dengan Afik, pemuda itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, ada sesuatu yang dimiliki wanita di hadapannya ini, entah apa? Namun rasanya Afik tidak asing dengan wajah yang kini menatap tidak suka ke arahnya itu.


Deg deg deg deg...


Bersambung...


Hai readers, salam kenal yah aku Pee selaku Author dari Terjebak Cinta Berondong ini.


Di sini Author mau promo novel baru, semoga saja kalian berkenan untuk mampir dan baca juga.


Jagoan Author kali ini adalah "Yaren dan Ayaz" dikemas dalam Novel yang berjudul Seranjang dengan Bajingan.


Silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya dengan Like, koment, dan Vote, Author tunggu kehadiran kalian yaaahh, salam sayang Pee 🥰🥰



*


*


*

__ADS_1


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2