
Mama Mila terduduk lemas di depan pintu ruangan pribadi Jason, bagaimana mungkin dirinya tanpa sengaja menyakiti hati Jason lagi, mengapa dirinya tidak pernah membuat putranya bahagia, mengapa hanya ada kesengsaraan yang nampak dijalani Jason selama hidupnya, mengapa dirinya yang begitu berharap akan kehadiran seorang Jason malah menghancurkan hidup anak itu.
"Bagaimana bisa?" lirihnya sembari menghapus air mata yang terus saja jatuh berderai.
"Hiks hiks, sayang, Jason, maafin Mama, Mama salah."
Namun pintu tidak kunjung juga dibuka, entah apa yang dilakukan Jason di dalam, Mama Mila tidak tau namun satu hal Jason begitu karena dirinya.
"Nyonya besar..." panggil Roy.
Mama Mila mendongak, ia menatap Roy penuh pengharapan.
"Tuan Muda meminta Nyonya besar untuk pulang, Tuan Muda tidak mau diganggu." ucap Roy mengatakan isi dari pesan Bosnya yang bau saja masuk ke ponselnya.
"Tidak Roy, bagaimana bisa aku meninggalkannya?" tanya Mama Mila, entahlah apa yang saat ini tengah dirinya rasakan, bahkan dirinya sudah melupakan niat awalnya mendatangi putra tunggalnya itu.
"Maafkan saya Nona!" ucap Roy, lalu Roy membawa Mama Mila dengan paksa, dirinya tau Tuan Mudanya tidak akan keluar jika Nyonya besarnya itu tidak juga pergi dari situ, Bosnya itu sungguh keras kepala.
"Lepas, lepaskan aku, aku ini Mamanya!" protes Mama Mila.
"Maafkan saya Nyonya!" ucap Roy sekali lagi, sayang sekali dirinya kembali harus menanggalkan belas kasih.
"Saya Mamanya, Jason, kita harus bicara sayang!" ucap Mama Mila.
Mery meringis sedikit ngilu kala melihat Nyonya Besar keluarga Adrian tersebut diseret paksa oleh Roy, beruntung di lantai tertinggi gedung pencakar langit ARAD Group ini tidak banyak orang yang berkunjung, karena tidak sembarangan orang bisa masuk, kalau tidak maka itu bisa menghancurkan image keluarga Adrian.
Mery berniat untuk membantu, dirinya memapah tangan Mama Mila mengambil alih dari Roy, "Biar aku saja Roy!" ucapnya kemudian membawa Mama Mila ke dalam Lift.
Roy mengangguk, dirinya percaya Mery bisa diandalkan.
"Anakku..." gumam Mama Mila.
"Nyonya, mari saya antar!" ucap Mery.
"Anakku..." gumam Mama Mila terus-terusan di sepanjang mereka menuruni Lift khusus CEO ARAD Group tersebut.
"Anakku..."
__ADS_1
Sepertinya telah terjadi sesuatu, kasihan sekali Nyonya besar.
Mery, mengusap pelan bahu Mama Mila, sepanjang dirinya mengenal Ratu di keluarga Adrian itu, Mama Mila adalah orang yang baik dan selalu peduli sesama, entahlah kadang masalah orang kaya memang sulit dimengerti.
Jason keluar dari kamar pribadinya, matanya masih menatap garang, dirinya masih terbawa suasana.
Roy sudah berdiri di samping sofa, dirinya menunggu perintah dari Tuan Mudanya.
"Dia sudah benar-benar pergi?" tanya Jason.
"Iya Tuan Muda!" jawab Roy.
"Hubungi Tuan Maxim, dan katakan padanya kita menyetujui kerjasama ini." perintah Jason.
"Baik Tuan Muda!"
Tidak ada ucapan lagi yang keluar dari mulut Tuan Mudanya, padahal Roy masih menunggu.
"Saya akan mengatur pertemuan bisnis ini segera, jadwalnya kemungkinan sekitar jam tiga sore, saya akan memastikan dulu dan akan mengabari hasilnya setengah jam lagi." ucap Roy mulai mengoceh, itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Hemmm."
"Siapkan dokumennya dan taruh di meja, aku akan membaca detilnya!" ucap Jason.
"Baik Tuan Muda!"
"Kau boleh pergi!"
"Baik Tuan Muda!"
Roy berbalik badan, dirinya akan mempersiapkan segalanya, mulai bekerja ekstra meski dirinya sudah tau akhirnya.
Roy harap keputusan yang diambil Tuan Mudanya itu tepat kali ini, meski ada yang harus tersakiti. Roy tidak bisa berbuat apapun, dirinya akan mendukung segala keputusan Tuan Mudanya.
Dirinya cukup tau, bagaimana Tuan Mudanya bertahan dalam kegelapan, bagaimana Tuan Mudanya begitu sendirian, terpuruk ke dalam jurang kebencian, memupuk dendam yang ditanamnya bukan hanya dalam hitungan singkat, dirinya mengetahui itu sebagai salah satu orang terdekat dengan Tuan Mudanya itu, meski mendendam bukanlah perbuatan yang baik, namun kita sebagai penonton bisa apa, kita tidak pernah merasakan apa yang telah dialami korban selama ini, jadi Roy tidak bisa mencegah semua itu terjadi.
Kita hanya bisa berencana, namun Tuhanlah yang menentukan, semoga ada jalan terbaik untuk kehidupan keluarga Adrian, Roy berharap banyak untuk itu.
__ADS_1
Jason mengendurkan sedikit dasinya, sesak di dada begitu menyakitkan, baru saja dirinya menyakiti hati seorang yang telah melahirkannya.
"Aku durhaka kan?" menyedihkan sekali, saat melihat wajah Mamanya, Jason selalu menganggap dirinya adalah anak yang buruk, jujur saja karena dirinya tidak bisa membenci Mamanya.
"Tidak, mereka yang telah membunuh kepedulianku." gumamnya lagi, berperang dengan batinnya sendiri.
Lalu dirinya kembali fokus bekerja, sebentar lagi sebuah perang akan dimulai, dirinya tau setelah ini mungkin Papanya juga akan menyambanginya di Kantor, atau mungkin akan mengirim Mamanya lagi.
"Dasar pecundang, kalau dia yang datang padahal aku tidak perlu menyakiti Mama!"
Umpat Jason, sudut bibirnya miring sedikit, ah Adrian Cakrawala, sebentar lagi kau akan berada di genggaman.
Hari ini Shirleen memutuskan untuk mengunjungi cafe, setelah kejadian dirinya melabrak Jason waktu itu dirinya belum pernah kembali berkunjung, dirinya akan mengumumkan siapa saja yang diterima bekerja di Cafenya, kemarin Shirleen sengaja mewawancarai Lisa di bagian terakhir, namun bekum sempat ia menyudahi kabar buruk telah mengobrak-abrik hatinya.
Ia berkemas, Jacob, Misca dan juga Ipah selalu mendampinginya, beruntung sekali dirinya memiliki Ipah sebagai Maidnya, wanita itu serba bisa dan juga cekatan dalam bekerja.
Dua puluh menit berlalu, Shirleen dan rombongannya sudah sampai di Cafe, semua karyawan seperti biasa selalu menyambutnya dengan senang hati.
"Rin, tolong ikut aku ke ruangan." ucap Shirleen pada salah satu karyawannya yang bernama Ririn.
"Baik Bu!" jawab Ririn.
Ipah mengasuh Jacob dan Misca bersamaan, ia tidak keberatan, meski terlihat kerepotan, saat kita bekerja dengan tulus banyak alasan untuk kita berkata mau, dan begitu pun sebaliknya saat kita bekerja dengan terpaksa, maka banyak juga alasan untuk kita malas melakukannya.
"Aku sudah menulis daftar siapa saja yang akan bekerja, tolong kau hubungi segera, nanti kalau bisa siapa saja yang diterima harus datang ke cafe sore ini sekitar jam tiga, kita akan mengatur ulang posisi, kau mengerti." ujar Shirleen.
"Baik Bu, saya mengerti." ucap Ririn.
"Ya sudah, ini pakai telpon kantor, kau bisa menghubungi mereka semua, aku akan mencoba resepku di Dapur." ucap Shirleen.
"Baik Bu." lalu Ririn melaksanakan tugasnya.
Shirleen beralih menuju dapur, tadi pagi dirinya kepikiran untuk mencoba membuat ide makanan yang ada diotaknya, semoga saja berhasil karena dirinya sudah lama tidak membuat jajanan itu, dulu terakhir kali saat dirinya membuat menu itu saat ia masih gadis, dirinya yang suka memasak selalu membuat hidangan negara asal Mamanya itu jika sedang rindu, yah kali ini Shirleen akan membuat kofta, jika dirinya berhasil membuat kofta yang enak, maka Shirleen bisa menjadikan jajanan asal Turki itu untuk menu baru di Cafenya.
*
*
__ADS_1
*
Like, vote, dan koment !