Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Saya malu padamu.


__ADS_3

"Sri !"


Sri mendongakkan wajahnya, dan memerhatikan sekeliling kala mendengar seperti ada yang memanggil namanya.


Dan ternyata si mantan majikan yang memangggilnya.


"Pak Athar !" sahutnya.


"Kamu disini, sama siapa ?" tanya Athar.


"Sama suami Pak !" jawab Sri, sambil memegang tangan suaminya, kemudian ia memperkenalkan Dareen pada Athar.


"Wah sudah menikah ternyata, kenapa tidak menggundang saya !" ucap Athar tanpa malunya, ini rasanya baru berapa bulan bagaimana bisa ia tidak tau.


Dulu ia cukup dekat dengan Sri, sebagai bentuk rasa terimakasihnya pada si pengasuh karena telah dengan baik memperlakukan Fahira yang ia kira anaknya.


Ia tau bagaimana kehidupan Sri, karena pernah beberapa kali berbincang santai, asal Sri dari mana dan kenapa bisa sampai di Jakarta ia mengetahuinya, tidak sekali pun Sri mengatakan bahwa ia memiliki pacar, lalu dilihatnya kini bahkan Sri sudah menikah, sungguh kejutan bukan.


"Ah, semuanya serba mendadak Pak." ujar Sri.


"Ya baiklah, kalau begitu selamat yaaa !" ucap Athar, ia ingin menyalami Sri, namun Dareen menghentikan aksinya, ia menjauhkan tangan Sri supaya tidak bisa bersalaman.


"Iya Pak !" ucap Sri, ia mengatupkan kedua tangannya sebagai salam.


Athar mengerti tapi sedikit heran, mengapa harus begitu.


"Istri saya tidak akan bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya jika itu sengaja." ucap Dareen menjelaskan.


"Ah iya, maafkan atas kelancangan saya." ucap Athar mengakui kesalahannya.


"Itu baju bayi, untuk siapa Sri ?" tanyanya lagi.


"Untuk, eemm untuk Fahira Pak." jawab Sri, meski ragu namun ia harus berkata jujur.


"Fahira ?" tanya Athar, ah anak itu, anak dari mantan istrinya namun sayang sekali bukan darah dagingnya hingga ia rasanya tidak bisa menerima Fahira dalam hidupnya. Namun Sri, baju itu untuk Fahira, apa Sri ingin mencukupi kebutuhan Fahira di Panti Asuhan maksudnya, Athar mencoba berpikir apa yang mungkin telah terjadi.

__ADS_1


"Iya Pak !" ucap Sri.


"Kamu mau ke Panti setelah ini ?" tanya Athar.


"Panti ?" tanya Dareen, kenapa Panti, apa maksudnya Panti, heran Dareen.


"Bukan Pak, sebenarnya saat kita menitipkan Fahira di Panti Asuhan waktu itu, saya sorenya langsung saja menjemput Fahira untuk dibawa tinggal bersama saya, jadi sampai saat ini Fahira tetap tinggal dengan saya." jelas Sri.


Athar tersentak, bagaimana bisa Sri punya pemikiran seperti itu, merawat Fahira setelah ia yang dengan tega menelantarkannya, membawa bayi itu ke Panti Asuhan.


"Sri..." Athar tidak mampu lagi bicara, apakah ia disini termasuk seseorang yang buruk, sementara Sri seseorang yang tidak punya hubungan apapun dengan Fahira bahkan dengan ikhlas merawatnya.


"Bapak tidak usah merasa bersalah, saya mengerti tidak mudah jadi Pak Athar, saya ikhlas kok merawat Fahira, dan aktanya pun sudah atas nama saya sebagai ibu kandungnya." ucap Sri, sungguh ia mengerti bagaimana rasanya menjadi Athar pada saat mengetahui segalanya tentang Fahira, karena Dareen pun sama, bahkan seseorang yang dengan pengetahuan agama cukup luas seperti suaminya itu tidak bisa dengan mudah bisa menerima Fahira, apa lagi hanya Athar yang cuma bisa mengandalkan kebaikan untuk bisa menerima Fahira, dan sayangnya Athar tidak cukup baik dengan alasan takut menyakiti Fahira di kemudian hari. Yah Sri juga mengerti lebih baik begitu dari pada ada yang tersakiti nantinya.


"Saya malu Sri padamu, sungguh saya malu." lirih Athar, ia membasuh wajahnya dengan tangan.


"Pak, tidak usah seperti itu, yang Bapak lakukan memang sudah baik, ingat alasan Bapak menitipkan Fahira waktu itu, Bapak ingat Bapak pernah bilang karena takut menyakiti Fahira kan, takut tidak bisa memperlakukan Fahira dengan baik di kemudian hari, waktu itu hati Bapak tengah diliputi oleh kebencian, sebagian orang memang akan melakukan hal serupa jika dihadapkan dengan posisi seperti Pak Athar." ucap Sri.


Athar mengingat kembali kejadian hari itu, hari yang membuat ia menitipkan Fahira, memang saat itu ia sungguh benci akan keadaan yang menimpanya, sudah jatuh tertimpa tangga mungkin begitulah pribahasa yang tepat menggambarkan hidupnya, sudah sangat menyakitkan mengetahui bahwa istri yang selama ini ia rawat malah berselingkuh dengan iparnya, tidak cukup sampai disitu Tuhan seakan ingin mengujinya lebih saat ia mencoba melakukan tes DNA dan berharap bahwa Fahira adalah anak kandungnya namun sungguh disayangkan harapan tidaklah sesuai kenyataan.


"Apa saya boleh mengunjunginya suatu waktu ?" tanya Athar penuh harap, ia ingin meminta maaf pada bayi mungil yang pernah menjadi anaknya waktu itu.


Sungguh meski benci pada Riana, namun tidak sedikitpun Athar membenci Fahira, baginya sang anak tidaklah berdosa untuk menanggung semua perbuatan Ibunya, ia hanya takut tidak bisa memperlakukan Fahira dengan baik karena selalu teringat akan apa yang telah Riana lakukan padanya, Shirleen pergi juga sedikit banyaknya karena Riana, dan Riana yang ia harapkan mencintainya malah dengan tega berkhianat.


Sri melirik suaminya meminta persetujuan, mau bagaimanapun Dareen sekarang punya hak atas Fahira, karena suaminya itu telah mengakui bahwa Fahira adalah anaknya meski bukan kandung, namun Dareen sudah menyatakan bahwa ialah Ayah dari Fahira.


"Silahkan Pak Athar, pintu rumah kami selalu terbuka untuk menyambut kedatangan Bapak." ucap Dareen mewakili Sri.


"Terimakasih, kalian sungguh baik." ucap Athar.


Di sebuah rumah mewah nan megah.


"Ileeeeennn, Aaaa astagah aku nggak nyangka banget tau !" pekik Weni kegirangan kala menjumpai sahabatnya itu.


Langsung saja memeluk erat seolah rindu yang menggebu, senang sekaligus sedih bercampur ia tumpahkan pada tubuh Shirleen sebagai penopangnya.

__ADS_1


Shirleen tau itu, ia kenal Weni, ia tidak mau lagi tertipu oleh wajah bahagia sahabatnya itu, sudah cukup yang dulu-dulu.


"Udah berapa bulan ?" tanya Weni antusias.


"Baru tiga belas minggu !" jawab Shirleen.


"Jelasin, jelasin gimananya, ih aku jadi pengen punya bayi juga !" ucap Weni, ah rasanya ia juga mau punya anak seperti Jacob, seperti si kembar yang sedang berada di perut Shirleen, sayang sekali ia belum menikah.


"Nikah dulu Wen syaratnya, pasti punya kok !" ucap Shirleen.


Weni menunduk, namun beberapa detik kemudian ia tersadar jika dirinya tidak boleh seperti itu, Shirleen sedang bahagia ia juga harus bahagia.


"Doain aja." ucapnya pelan.


"Pasti dong Aunty, semoga langgeng sampai ke pelaminan." ucap Shirleen


"Len cerita dong, cerita gimana kok bisa sih kalian dapat kembar, ada trik khususnya nggak ?" tanya Weni, entahlah ia tidak sadar sedang menanyakan apa.


"apaan nih mau bagi-bagi trik, nikah dulu sono, nanti kalau mau bahaya loh, sama siapa kamu praktiknya ?" ucap Shirleen.


"Wah iya juga ya, ih aku nanya apaan sih !" ucap Weni heran pada dirinya.


"Katanya sih ini kembar fraternal gak identik sama kayak Mama !" ujar Shirleen membeberkan lagi pernyataan baru.


"Yang bener, serius kamu ?" tanya Weni.


"Iya !"


"Astagah Ilen, rezeki banget sih, selamat ya sayangkuh !" ucap Weni, ah berita bahagia ini sungguh bisa meredam kesedihannya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2