Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Ini salahku!


__ADS_3

"Ada apa dengan bayiku?" tanya Jason panik.


"Bayi laki-lakimu sempat tidak menangis saat dilahirkan, adanya sumbatan berupa lendir cairan ketuban yang menghalangi saluran pernapasannya, beruntung dia masih bisa diselamatkan." Dokter Eri membuat tegang sekaligus lega orang-orang yang mendengar penjelasannya.


"Bayi perempuannya?" tanya Mama Mila.


"Dia sehat, sangat sehat. Namun bayi laki-lakimu harus menjalani perawatan intensif terlebih dahulu, kami harus mengecek kondisi tubuhnya, berdoa saja supaya tidak terjadi apa-apa." ucap Dokter Eri.


"Bagaimana dengan istriku?" tanya Jason, dirinya sungguh mengkhawatirkan ibu dari anak-anaknya itu.


"Nona Shirleen masih belum sadar, mungkin sebentar lagi. Kondisinya cukup baik, pendarahannya juga sudah berhenti, sebentar lagi istrimu juga akan dipindahkan ke ruang perawatan, kami akan memeriksanya lagi nanti."


"Terimakasih!" ucap Jason.


Ini adalah ungkapan terimakasih ke dua kalinya yang didengar dokter Eri, yang terucap untuknya dari mulut Jason.


"Sudah tugasku, selamat bertambah anggota keluarga baru." Dokter Eri menyalami sepupunya itu.


Jason tersenyum tulus.


Tubuhnya berbalik, memeluk Mama Mila, tangis haru kembali terdebgar, begitupun Roy yang ikut merasakan kebahagiaan Tuan Mudanya.


Mereka juga anak-anakku, Nona Shirleen pernah mengatakan kalau kami boleh menyebut si kembar itu anak-anak kami juga kan.


Kehilangan calon bayi yang sempat mendiami rahim istrinya, membuat Roy sedikit sesak.


Aku harus bahagia, Shakira pasti bahagia mendengar kabar ini.


Roy segera menghubungi Shakira, mengabarkan berita bahagia Tuan Mudanya, benar saja Shakira tampak senang mendengarnya.


Jason masih memeluk kedua orang tuanya, bayang-bayang anaknya yang tidak akan mau dilahirkan karena dirinya adalah papa yang buruk, akhirnya berhasil dirinya patahkan, Jason sudah meminta maaf dengan tulus pada kedua orang tuanya, yah meski itu terjadi di detik-detik terakhir, namun Jason sangat bahagia, lega, dan terharu menjadi satu.


Karena baginya, dirinya tidak terlambat, anaknya bisa lahir dengan selamat, dan terlebih istrinya yang sangat kuat itu bisa melalui semuanya.


Melihat Shirleen pendarahan saja, jantung Jason sudah seakan mau berhenti detik itu juga.

__ADS_1


Tepat jam enam pagi, sepasang bayi kembar itu lahir untuk melihat dunia, Jason bergegas menuju ruang rawat bayinya, di sana sudah ada bayi mungil perempuan dengan berat 2,5 kg seolah sedang tersenyum padanya.


Jason menangis, lebih dari saat Shirleen melahirkan Jacob, bukan dirinya ingin pilih kasih, namun perjuangan Shirleen melahirkan kedua bayinya lebih-lebih dari pada saat Shirleen melahirkan Jacob.


Tak lupa, bayi yang ternyata sudah dibersihkan itu dirinya Adzankan, dengan penuh kasih Jason mengecup singkat pipi merah bayinya.


"Mirip sekali denganku, akhirnya kita bertemu, Papa akan berusaha menjadi Papa yang baik untuk kalian, yah untuk kalian semua." Jason juga teringat akan Jacob dan Misca yang saat ini pasti sedang menunggu mereka di rumah.


"Nak..." seru Mama Mila.


"Ya!"


Mama Mila mendekat, yang sedang di gendong Jason saat ini adalah benar-benar cucunya, "Dia cantik sekali!" Mama Mila begitu gemas dengan bayi mungil dengan warna kulit kemerahan itu, bulu matanya yang lentik mirip sekali dengan Jason.


"Matanya, mata Shirleen Ma!" ucap Jason, bayi perempuan itu memiliki bola mata berwarna coklat yang juga dimiliki Shirleen.


"Oya, tapi semua di wajahnya mirip kamu, cuma mata aja yang warisan Shirleen." Mama Mila setuju dengan pendapat putranya.


"Papa mana Ma?"


"Oh, ya sudah aku titip gadisku ini." ucap Jason. Lalu pemuda itu mengecup singkat pipi bayinya sebelum keluar ruangan menemui Dokter Eri.


Di ruangan dokter Eri.


Jason saling melempar pandang dengan Pak Adrian, raut kesedihan nampak sekali terlihat dari wajah keduanya.


Baru saja Jason merasakan kebahagiaan luar biasa, namun Tuhan seolah ingin mengujinya lagi dan lagi.


"Septum defek. Bayi yang lahir dengan septum defek memiliki lubang di dinding yang memisahkan atrium atau ventrikel jantung."


"Lubang tersebut menyebabkan darah mengalir ke arah atau tempat yang salah. Untungnya kasus septum defek yang terjadi pada bayimu dapat tertangani tanpa operasi karena lubang akan bisa menutup dengan sendirinya."


"Namun, kita juga tidak boleh lengah, kondisi ini biasanya sering kali tidak terdeteksi, apa lagi untuk bayi yang baru lahir seperti bayimu."


"Kita lihat nanti bagaimana pertumbuhannya, dan usahakan selalu kontrol rutin untuk mengetahui perkembangan jantungnya." jelas dokter Eri.

__ADS_1


Tidak begitu berbahaya, namun tidak juga bisa dianggap sepele, begitulah sebanyak yang bisa Jason simpulkan.


Yang namanya penyakit, apa lagi berhubungan dengan jantung, siapa yang bisa menjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja? Begitupun Jason, mendengar bayinya mengalami itu, dadanya sesak, cobaan demi cobaan selalu menghampiri hidupnya.


Dia kaya, berpunya, segalanya ada padanya, namun takdir adalah takdir, yang tidak bisa dirinya ubah, mungkin sudah garis takdirinya sejak lahir akan memenuhi cobaan yang bertubi-tubi ini di sepanjang hidupnya, sekali lagi Jason mencoba untuk kuat meski hatinya sangat rapuh. Demi kedua anaknya yang baru saja di lahirkan, demi Shirleen yang sudah berjuang antara hidup dan mati melahirkan bayi-bayinya, dia harus bisa lebih kuat dari segalanya.


"Yang sabar Nak!" ucap Pak Adrian, pria paruh baya itu memeluk putranya, setitik air mata yang sedari tadi sudah menggenang di pelupuk akhirnya luruh juga.


"Aku tidak akan hidup normal jika kau memaksaku keluar dari sini sementara kau belum menepati janjimu. Ini hukuman bagi kami."


"Ini salahku!" ucap Jason lirih.


"Tidak Tuan Muda, kondisi ini siapa yang bisa mengetahui, anak adalah titipan yang harus kita jaga, apapun kondisinya jangan terlalu menyalahkan diri sendiri." ucap Dokter Eri juga ikut menenangkan.


"Ini semua salahku, aku yang tidak menepati janjiku padanya, anakku!" Jason masih meratapi nasib anaknya. "Maafin Papa Nak!" lirihnya lagi.


"Tidak Nak, bukan salahmu, ini semua takdir." Pak Adrian mengusap lembut punggung putranya, saat ini Jason sangat membutuhkan sandaran dan dukungan.


"Aku tidak akan hidup normal jika kau memaksaku keluar dari sini sementara kau belum menepati janjimu. Ini hukuman bagi kami."


"Aku tidak akan hidup normal jika kau memaksaku keluar dari sini sementara kau belum menepati janjimu. Ini hukuman bagi kami."


"Maafkan Papa Nak, Papa yang bersalah, maafin Papa."


Laki-laki tidak boleh menangis, namun rasanya entah di titik apa yang sedang Jason hadapi saat ini, sebisa mungkin dirinya mencoba untuk kuat, maka sebisa itulah air matanya jatuh.


Rasa bersalah itu, akan selalu menjadi mimpi buruk bagi Jason.


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2