Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Ada yang menggendut.


__ADS_3

Athar tengah berbelanja barang dan bahan yang telah habis untuk kedainya, namun saat ia hendak mengambil margarin tangannya tidak sengaja memegang bungkusan yang sama dengan seorang wanita.


"Maaf Mas"


"Maaf"


Ucap keduanya bersamaan, seorang wanita yang jauh lebih muda darinya, ia rasanya pernah melihat wanita itu, tapi ia sungguh lupa dimana.


"Untukmu saja, saya bisa ambil yang lain" ucap Athar.


"Ahh tidak tidak Mas, untuk Mas saja, yang merek ini tinggal satu ini aja, kelihatannya Mas lebih butuh mungkin untuk persediaan" ucap wanita itu karena ia melihat keranjang belanja Athar penuh dengan bahan-bahan untuk memasak.


"Justru karena saya butuh makannya untuk kamu saja, saya bisa beli merek lain soalnya saya butuhnya banyak" ucap Athar, yah tidak mungkin kan ia beli merek berlainan.


"Sudahlah ambil saja, ini pasar, saya juga bisa kok beli di tempat lain kalau cuma maunya merek itu" lanjutnya lagi.


"Eemm ya udah deh, makasih Mas"


"Ya sama sama"


Athar kembali melanjutkan belanjanya, sembari mengingat ingat dimana kiranya ia pernah melihat wanita tadi.


Hari ujian pertama di lewati Jason dan kawanannya dengan baik, walau tidak masuk sekolah selama kiranya setengah bulan, namun otak Jason tidak perlu di ragukan lagi jika hanya sekedar menghadapi ujian nasional.


"Son cafe yuk, udah lama nih nggak ngumpul" ajak Angga, memang benar semenjak Jason menikah mereka tidak pernah lagi nongkrong bareng.


"Oke tapi cafe gue yah, soalnya gue juga mau ninjau"


"Kuy lah bebeh" ucap Angga dan Afik hampir berbarengan.


keempatnya kini menuju cafe Jason, setelah penat karena berkonsentrasi mengisi ujian saatnya merefresh otak untuk persiapan diri besok bertempur lagi.

__ADS_1


"Yud, gimana nih misi lo ?" tanya Afik, ia penasaran akan rencana yang mereka sarankan untuk Yudha waktu di acara kikahan Jacob, apakah Yudha sudah menemukan orangnya atau belum.


"Misi ?"


"Iya Misi mencari cinta ?" ucap Angga lebay.


"Gak tau gue, gue takut nyakitin cewek kalau pacaran cuma niat buat ngilangin trauma gue, gue rasa nggak bisa kalau konsepnya kek gitu" ucap Yudha.


"Nah gue setuju" ucap Jason, dari awal ia memang sudah melayangkan penolakan, hanya kalah suara saja karena duo laknat di hadapannya ini lebih unggul satu suara darinya, ya iyalah orang yang voting cuma mereka bertiga.


"Nggak ada yang minta pendapat lo Junedi" sangkal Angga.


"Saran gue coba lo buka hati, deket sama siapa ajah kira-kira yang bikin lo nyaman, kayak gue yang coba deketin Shirleen dulunya, gue kasih tau lo Shirleen itu sebelum nerima gue dalam hidupnya, dia bahkan trauma karena pernikahannya yang gagal, ia terancam gak bakalan buka hati, tapi karena lama kelamaan dia nyaman bareng gue yah akhirnya dia luluh, nah itu juga bisa berlaku buat lo, jangan mikirin buru-buru pacaran yang penting nyaman aja dulu" ucap Jason memberi saran yang sangat bijak, ia tidak perduli dengan sanggahan Angga tentang penolakannya.


Angga, Afik, dan Yudha dibuat melongo, bukan karena saran yang Jason jelaskan, namun karena hal langka bagi mereka seorang Jason Ares Adrian bisa bicara panjang lebar serta bijak seperti itu, apa kata keramat "Hemmm" sudah dihilangkan dari dunia perdinginan batin mereka bertiga serentak.


"Paan sih lo betiga" ucap Jason karena ketiga sahabatnya itu malah seolah menatapnya penuh pertanyaan.


"Lo beneran Jason kan ?"


Angga dan Afik mengekspresikan ketidak percayaan mereka, Yudha hanya menyimak walau ia juga rada bingung melihat perubahan Jason, dan baru juga ia sadari setelah penjelasan Jason tadi, jika melihat kebelakang sebenarnya semenjak Jason menikah sahabatnya itu sudah agak mendingan dalam respon antar sesama.


"Aduuuhh" ringis Angga dan Afik bersamaan lagi, Jason menoyor kepala keduanya, serba salah juga dirinya yang biasanya terkenal dingin tiba-tiba bisa sok bijak seperti tadi, Jason saja heran kenapa ia bisa seperti itu, biasanya ia tidak tertarik untuk peduli sesama.


"Gue kan cuma heran, kali aja lo setan" ucap Afik.


"Nah lanjut nih, gimana Yud lo setuju nggak ?" tanya Jason


"Gue nggak tau" singkat Yudha, ia beneran tidak tau, kalaupun ia harus melakukan itu semisal berdekatan sengan wanita, bahkan selama ini ia tidak pernah berinteraksi dengan wanita selain mamanya dan Weni, ah iya Weni bagaimana ia bisa melupakan wanita itu.


Satu nama itu tiba-tiba terlintas di otaknya, kala dengan semua wanita ia bisa bersikap dingin lalu kenapa dengan Weni ia bisa banyak bicara bahkan dengan lancar mengoceh.

__ADS_1


Apa dia coba dengan Weni saja, pacaran tiga bulan seperti saran Angga dan Afik, atau mengikuti saran Jason mencoba dekat saja dan biarkan rasa nyaman hadir antaranya dan Weni dengan sendirinya.


Ahhh konyol, gimana bisa cewek yang ceroboh kayak Weni bisa bikin gue nyaman.


"Yud, Yudha lo lagi mikirin apaan sih, jadi gimana, masa nggak tau ?" tanya Angga.


"Ya gue nggak tau" singkat Yudha lagi.


"Aahh parah lo, trauma sampe kiamat aja lo sono"


Shirleen sedang mengelola cafenya, hari ini ia kembali pada rutinitasnya.


Ia sedang mengecek segala kebutuhan di cafenya, rencananya ia akan menambahkan satu ruangan untuk bermain anak-anak, karena tema cafenya adalah cafe keluarga jadi itu akan sangat memudahkan pengunjung yang membawa serta anak mereka nantinya.


Ia mulai merancang design dan segala pengeluaran yang dibutuhkan, lumayan banyak dan ia akan menggunakan uang tabungannya kali ini, sudah tujuh tahun lamanya uang itu bersemayam di rekeningnya, dan sekaranglah saatnya ia menggunakannya.


Namun alangkah terkejutnya ia saat ia mengecek saldo direkeningnya, bagaimana bisa uangnya bertambah banyak seperti ini, bukan hanya dua kali lipat, bahkan saldonya benar-benar menggendut, ia mengucek matanya tidak percaya kalau hanya bunga bank kiranya pasti tidak akan sampai sebanyak ini, pasti ada yang mentransfer ke rekeningnya, mungkin juga kali aja ada orang yang salah transfer, yah ia akan mengecek temuannya ini di BANK.


Tanpa basa basi lagi, Shirleen menitipkan Jacob pada salah satu karyawan yang sebelumnya sudah ia tunjuk untuk mengasuh Jacob saat jika ia ada urusan sebentar, BANK tidak jauh letaknya dari cafe, sebentar saja ia sudah sampai.


Ia mengantri sebentar, sebagai warga negara yang baik yang membudidayakan antri ia sama sekali tidak keberatan, lagi pula antriannya tidak terlalu panjang.


Sampailah gilirannya, ia berkonsultasi dan mencoba mengecek saldo rekeningnya sekali lagi, benar saja saldonya memang benar segitu seperti apa yang tertulis di aplikasi Banknya tadi.


Lalu ia meminta print rekening koran atas rekeningnya, dengan menyertakan alasan serta syarat dan ketentuan yang berlaku, akhirnya pihak Bank menyetujui permintaannya.


Kini ia bisa melihat alasan mengapa saldo rekeningnya menggendut tidak terhingga, matanya membulat tidak percaya dengan apa yang ia saksikan, dalang dibalik semuanya memang pantas bisa mentransfer uang dengan jumlah tidak wajar tersebut.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2