Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Asupan Vitamin.


__ADS_3

"Lalu benar jika kalian berdua tidak pernah memiliki perasaan lebih, aku tidak yakin Shakira kan sangat cantik" ucap Shirleen, ia mulai lagi pada sesi tanya jawabnya yang ternyata belum selesai.


"Jadi kamu berharapnya apa, aku pernah punya perasaan padanya begitukah maumu ?" tanya balik Jason, ia kira dengan berpelukan dan saling menghapus air mata haru tadi maka dengan begitu berakhir juga acara tanya jawab istrinya. Namun ternyata tidak.


"Bukan begitu, tapi Shakira cantik, apa benar kau tidak pernah tertarik padanya"


"Heehh, aku tidak tau, tapi selama aku mengenalnya perasaanku padanya biasa saja, hanya seperti bos yang memerintah anak buah, dia juga seprofessional itu selama ini, mungkin sama denganku dia juga tidak tertarik padaku" jelas Jason, satu tangannya terlihat sudah berhasil menyusup dan bahkan meremas sesuatu yang pas digenggaman itu.


Sebenarnya Shirleen menikmati, tapi ia sengaja seolah tidak perduli dan terus bersikap biasa saja namun tidak juga melakukan penolakan.


Jason semakin gencar, ia mulai menciumi telinga dan leher jenjang istrinya, sembari memeluk Shirleen dari belakang dan tak lupa satu tangannya lagi masih terus meremas bukit-bukit kenikmatan.


Posisi yang menggugah gairah, kalau sudah begini Shirleen bisa apa, ia hanya bisa terbuai dan mengikuti apa yang Jason mau.


Membuka kancing piama istrinya pelan, kini Shirleen sudah setengah tel*nj*ng, sumber makanan Jacob itu berhasil membangkitkan naf*u Jason untuk segera melahapnya.


"Plup plup" Jason lagi-lagi meminta sumber makanan bayinya itu tanpa permisi, bahkan ia terlihat lebih rakus dari Jacob.


Asupan vitamin baginya itu tidak akan ia sia-siakan begitu saja.


"Uuhh" lenguh Shirleen, suara yang sebisa mungkin ia tahan akhirnya lolos tak terhidarkan, Jason selalu bisa membuatnya lupa diri.


Menyesap si kiri dan si kanan bergantian, ia bagai bayi yang tidak menyusu seharian.


"Aaahh By..."


Keduanya hanyut dalam kenikmatan, Aahh sayang sekali Jason harus menanggung kecewa lagi nanti.


Sementara dibagian lain, disebuah kamar seorang wanita sedang merutuki kebodohannya, kali ini ia benar-benar berharap supaya jangan dipertemukan dengan pemuda yang ia temui tadi siang, ia tidak akan bisa menunjukkan mukanya lagi, ia tidak akan sanggup menghadapi kemarahan itu lagi.


Flashback.

__ADS_1


"Sialan pake mogok lagi" ucap Weni kesal, rasanya hari ini adalah hari tersialnya bagaimana bisa mobilnya tiba-tiba mogok.


Dilihatnya kearah sekitar, jalanan itu tampak sepi, karena tadi ia menghindari macet untuk bisa lebih cepat sampai ke butiknya jadi ia memilih jalan pintas, namun bukannya malah mempersingkat waktu, ia bahkan sudah hampir satu jam menunggu disini.


Sudah tidak tau berapa pengendara yang ia coba mintai tolong, tapi tidak satupun yang berhenti untuk menolongnya ataupun sekedar melihat keadaan mobilnya, padahal paling tidak walau tidak bisa melakukan apapun setidaknya beri saja ia nomor orang bengkel, itu sudah cukup kok jika tangan mereka begitu berat untuk membantu.


Dizaman sekarang ternyata banyak sekali orang yang bersikap seolah-olah tidak akan pernah butuh bantuan orang lain.


Weni juga tak henti-hentinya mengumpat saat mendapati ponselnya kehabisan daya, dan lagi nampaknya penyakit suka lupa yang dideritanya juga semakin parah tak kala ia tidak menemukan charger ditasnya.


"Sial sial sial" geramnya sembari menghentak-hentakan kakinya.


Kini ia hanya bisa menunggu kendaraan yang lewat lagi, ia bahkan bernazar kalau orang yang ia hentikan kali ini bisa menolongnya maka ia akan memberikan satu permintaan untuk seseorang itu, tentunya jika ia bisa mewujudkannya pasti akan ia lakukan demi membalas budi.


"Stooppp" sebuah mobil mewah hitam ia hentikan lagi, bahkan ia menghadang mobil mewah itu dengan tubuhnya, ia tidak berpikir panjang baginya yang terpenting pengendaranya harus berhenti dulu, untuk mau menolongnya atau tidak itu urusan belakangan.


"Heh lo udah gila yaaa" ucap pengendara mobil mewah itu dari dalam. Ia tidak habis pikir apakah nyawa wanita dihadapannya ini cuma seharga nyawa seekor kucing.


Si pengendara itu membuka pintu mobilnya pelan, ia tampak tersenyum remeh karena melihat siapa yang ternyata menghentikan mobilnya tadi.


"Kenapa Mbak, kalau mau mati jangan ngelibatin mobil gue dong, tuh diujung sana bentar lagi ada jembatan, Mbak bisa lompat dari situ dijamin mati pokoknya" ucap Yudha yang tampak tidak menyukai Weni karena kejadian di klinik Ibunya tadi.


Yah pemuda yang ditabrak Weni diklinik tadi adalah Yudha, dan dokter tempat Weni berkonsultasi tadi adalah ibunya Yudha.


"Kamu..." ucap Weni dengan keterkejutannya, bukankah tadi ia berdoa supaya jangan dipertemukan lagi dengan pemuda ini, tapi kalau begini kejadiannya, sepertinya Tuhan salah mengoreksi doanya.


"Kenapa ? Mau modus lagi ?" berkawan dengan Angga dan Afik membuat mulut Yudha ternyata terlatih menjadi lemes.


"Kamu jangan sembarangan ngomong ya, tuh liat mobil saya mogok, kalau kamu gak mau bantuin yaudah silahkan jalan lagi" ucap Weni kesal, bisa-bisanya ia dikatain mau modus.


Ia kembali ke mobilnya, kembali menunggu pengendara yang lewat lagi untuk dimintai bala bantuan.

__ADS_1


Yudha masih belum beranjak dari tempatnya, dari mobil ia bisa melihat kalau wanita yang menabraknya tadi terlihat sangat kesal.


Agak lama ia memperhatikan Weni, entah sudah berapa kendaraan yang dicoba wanita itu hentikan terhitung sejak darinya tadi, namun tidak ada satupun yang berhenti, sepertinya memang benar, mobil wanita itu memang mogok, ia mulai merasa bersalah apakah ia sudah keterlaluan pikirnya.


Yudha turun dan melangkah kearah mobil Weni, ia memutuskan akan membantu sebisanya.


"Sini gue bantu" ujarnya.


"Saya kira kamu orang yang gak punya hati, Ooh masih punya ternyata" sindir Weni sembari menggeser tubuhnya supaya Yudha bisa mengecek mobilnya.


Yudha mulai memeriksa apa saja yang biasanya bermasalah, menurutnya mobil wanita itu baik-baik saja, tapi kenapa tidak bisa hidup pikirnya. Ia mulai curiga.


"Kenapa ? Gak bisa benerin ? Suruh orang bengkel aja deh, kamu ada kenal orang bengkel nggak ?" tanya Weni, sejujurnya ia malas jika harus berlama-lama dengan pemuda menyebalkan dihadapannya ini.


Yudha tidak menjawab, ia terus saja memeriksa kira-kira apa yang menyebabkan mobil itu sakit mendadak.


Yudha memang menyukai otomotif, jadi tidak heran jika ia banyak tau tentang mobil.


Kecurigaannya bertambah yakin saat segalanya sudah ia periksa, hanya tinggal satu bagian saja yang belum ia lihat, jika sampai kecurigaannya benar maka itu akan menimbulkan sebuah bencana nantinya.


Yudha memeriksa bagian terakhir, berharap kecurigaannya tidaklah benar, namun apa yang terjadi, hidungnya kempang kempis melihat sebuah kenyataan dihadapannya.


Ia lalu menatap tajam Weni, sungguh ia tidak menyangka betapa bodohnya wanita dihadapannya ini.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!


__ADS_2