
"Lalu apa saat ini kamu sudah bisa memutuskan antara cinta dan karirmu?" tanya Mama Wina.
Weni menegang, dirinya baru akan mencari solusi untuk sesuatu yang masih mengganjal dipikirannya itu, bukan sudah menemukan solusinya.
"Kau tidak menjawab, berarti kau masih ada keraguan kan!"
"Ma..."
"Mama berat sekali mengatakan ini, tapi bolehkah Mama bercerita padamu!"
"Ma, aku bukannya tidak mau menikah, aku hanya belum siap!" ucap Weni.
"Iya Mama mengerti, untuk itulah Mama memberikan kamu pilihan, jika kamu merasa tidak sanggup maka lebih baik tinggalkan Yudha, anakku terlalu mencintaimu, dia mempertaruhkan kesehatannya hanya untuk bisa lebih cepat menyelesaikan kuliahnya, tidak ada waktu untuknya sekedar berjalan-jalan mengelilingi kota Berlin, menikmati indahnya Grunewald (Taman Kota yang sangat hijau dan asri di Berlin), mengapa dia bisa melakukan semua itu, padahal aku memberinya kebebasan untuk dirinya menggapai cita-cita sembari menikmati waktunya, masa-masa kuliahnya di sana, untuk menjalankan amanah Papanya yang ingin dirinya menjadi lulusan terbaik di universitas tempatnya dulu menimba ilmu serta hanya untukmu, dia bisa melakukan itu."
"Mama bicara ini, bukan karena Mama membanggakan anak Mama, atau karena Yudha mengadu lalu Mama akan melakukan semua untuk kebahagiaan putranya, bukan... Mama hanya ingin membebaskan dirimu dan Yudha dari hubungan yang menyakiti ini, bukan hanya Yudha, bukan hanya kamu, namun Ma juga tersakiti melihat kalian harus terpisah seperti ini, Nak... Tidak bisakah kalian hidup bersama, menjadi seorang istri dari Yudha Razki Pratama, menjaganya untuk kami?" tanya Mama Wina.
"Ma..."
"Kalau tidak bisa, maka tinggalkan saja anakku, kau berhak bahagia, dan anakku pun sama!"
"Ma..."
"Haaahh," Mama Mila menghela nafasnya berat. "Menikahlah dengan Yudha, Mama ingin melihat kalian menikah..."
Semburat kesedihan kini menghiasi wajah Mama Wina, Weni sungguh merasa tidak nyaman, wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu menyodorkan sebuah amplop bersamaan dengan cincin yang tadi pernah diperlihatkan pada Weni.
"Kalau bisa jaga Yudha baik-baik untuk kami!" ucap Mama Wina lembut, mengambil tas dan kemudian berlalu pergi tanpa perduli apa yang akan keluar dari mulut Weni sebagai jawaban.
Mata Weni membulat kala melihat apa isi dari amplop yang tadi diberikan calon mertuanya, air matanya luruh, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana Yudha akan menghadapi cobaan dalam hidupnya nanti.
Flashback off.
Pelan Weni membuka isi dari kotak yang diberikan Yudha untuknya lewat Mama Wina tadi siang.
Dear Calon Istriku...
Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you...
Selamat ulang tahun sayangku...
Hemm, sudah tiga puluh tahun yaaa, semoga tahun ini kau bisa mencapai semua yang ingin kau gapai, semoga selalu dilimpahkan kesehatan untukmu, hidup yang indah, karir yang cemerlang, semoga kita tetap selalu bersama dalam suka maupun duka...
Apapun yang kau inginkan selama itu baik, aku akan selalu mengaminkan!
Sayangku...
__ADS_1
Kau yang terbaik, hari ini spesial untukmu, tapi di baris ini, bolehkah aku ikut mendoakanku juga?
Sayangku, jika kita memang ditakdirkan berjodoh nanti, aku harap kita bisa saling meyakinkan untuk selalu bersama sampai akhir hayat, rasanya aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak akan pernah siap untuk itu!
Tunggu aku... Akan kugenggam tanganmu erat, dan mengatakan bahwa aku mencintaimu berjuta-juta kali, hanya untukmu! Hingga aku yakin kau tidak akan pernah sanggup melepaskan genggaman itu!
^^^Love....^^^
^^^Calon suamimu!^^^
Weni membuka kotak berbentuk hati itu dan menemukan sebuah surat yang baru saja dirinya baca, romantisnya...
Nampaknya Yudha benar-benar mempersiapkan ini untuknya, Weni terharu.
Terdapat sebuah flashdisk diantara guntingan kertas yang memenuhi kotak itu, Weni yang tidak sabar untuk melihat apa isi dari flashdisk tersebut langsung saja mengambil laptopnya dan mengecek apa isi flashdisknya.
"Untukmu Gweni Kirana, aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."
Suara Yudha terdengar dari vidio yang terputar, Weni menyunggingkan senyumnya, hari ini dirinya bersedih dan sekaligus juga berbahagia.
Yudha begitu memanjakannya. Dengan kata-kata cinta yang sejujurnya memang baru baginya itu.
Kasihku berjanji
Slalu menemani
Saat kau bersedih
Saat kau menangis
A... segenap cinta yang ada untukmu
Selama nafasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini
Kasihku berjanji
Slalu menemani
Saat kau bersedih
__ADS_1
Saat kau menangis
A... segenap cinta yang ada
A... percayalah
A... satu cintaku untukmu
Selama nafasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini
Sampai akhir hidup ini
Ternyata sebuah lagu dari Judika dengan judul -Sampai Akhir- Yudha nyanyikan spesial untuk Weni dengan petikan gitar mengiringi untuk menyempurnakan penampilannya.
"Selamat ulang tahun sayang, calon istriku, jangan nakal ya di sana, selalu ingat ada aku yang mencintaimu di sini!"
"Hiks hiks!" air mata Weni mengalir begitu saja tanpa permisi, dirinya tidak kuat, Yudha malam ini telah berhasil mengibrak-abrik hatinya.
Benar apa yang dikatakan calon mertuanya, Yudha sangat mencintainya, lalu apa kabar dirinya yang masih saja memikirkan karir, sementara Yudha di sana mati-matian berjuang untuk segera menikahinya, tidak bisakah dirinya mendukung, tidak bisakah dirinya memudahkan jalan dan niat baik Yudha dengan cara menerima ajakan menikahnya saja, tidak bisakah dirinya sedikit berkorban, mengapa rasanya dirinya begitu egois setelah apa yang Yudha lakukan untuknya.
"Hiks hiks, benar... Aku hanya memikirkan diriku sendiri!" keluh Weni pada dirinya sendiri, bagaimana bisa aku mengabaikan keluhan Yudha selama ini, dia hanya mencintaiku makanya dia ingin segera menghalalkanku, dan aku seharusnya menerima niat baiknya bukannya malah mencari alasan.
Weni semakin yakin dengan keputusannya, melihat surat yang diberikan Mama Wina siang tadi juga membuat hatinya sakit teriris.
Mama Wina terkena kanker rahim, bahkan sudah di tahap stadium akhir, dan calon mertuanya itu sudah di vonis bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Meski keajaiban itu ada, meski kita tidak bisa berputus asa, meski orang bilang, daun saja tidak akan gugur tanpa seizin-Nya, namun melihat kenyataannya seperti itu, Weni tidak akan sanggup, apa lagi Yudha.
Entah berapa lama lagi Mama Wina akan hidup untuk menunggu dirinya dan Yudha bersanding di pelaminan, tidak... Weni tidak akan membiarkan Mama Wina menunggu selama itu, menunggu selama tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, Weni tidak akan seegois itu.
Weni bangkit dari duduknya, gegas dirinya menemui orang tuanya di kamar, tidak perduli akan jarum jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23:25, tidak ada keputusan yang diambil dalam keadaan terdesak, tidak... Ini adalah murni keinginannya.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!
__ADS_1