
“Jangan hukum mereka, kau gila?” tentang Shirleen. Bagaimana bisa semua orang yang berada di situ harus di hukum saat dirinya mengatakan ketakutan karena drama bayang-bayang hitam.
“Hukum saja kami Nona!” ucap beberapa orang dengan serempak.
“Astagah, sebenarnya ini kenapa, minta hukuman kayak minta sembako, pengen banget gitu!” heran Shirleen.
Tidak tau saja dirinya, mereka lebih baik dihukum di hadapan Shirleen dari pada Tuan Muda mereka.
“Sudahlah By, mereka yang minta!”
“Enggak!”
Jason berlalu, pemuda itu mendaratkan bokongnya pada sebuah sofa.
“Mereka yang membersihkan rumah kita, saat kau membuka pintu keluar di sana, di situ ada jalan yang terhubung langsung ke rumah kita.” jelas Jason. Tangannya menunjuk sebuah pintu di halaman belakang rumah itu.
“Mereka juga yang mengganti semua bahan makanan di kulkas, menata perabotan, sudahlah jangan tanya lagi!”
Shirleen melongo tidak percaya, apa iya ada manusia segampang Jason dan sayangnya itu adalah suaminya.
“Tidak masuk akal, mengapa saat aku bangun dini hari aku tidak pernah melihat mereka bekerja, bahkan suaranya saja pun tidak ada?” tanya Shirleen. Meski dirinya sulit untuk menerka apa yang terjadi, namun jujur saja ia penasaran.
“Jelaskan Man!” titah Jason, menyuruh pemuda berpakaian serba hitam yang bernama Arman itu menjelaskannya.
“Kami hanya bayangan persis seperti apa yang Nona Shirleen pikirkan, kami tidak harus menampakkan diri dan membuat kegaduhan untuk menyelesaikan semua pekerjaan kami.” jawab Arman.
“Tapi tidak harus sampai begitu juga kan?”
“Sayangnya harus begitu, sudahlah By, yang terpenting kan kamu sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, dan juga kau tidak perlu terlalu lelah bekerja.
“Haisshhh, terserah kau saja lah Tuan Penguasa.” sahut Shirleen bercanda.
“Mau liat gimana tempatnya?” tanya Jason.
“Apa?”
“Kita akan pulang ke rumah lewat jalan itu.” ajak Jason.
Shirleen tersenyum, sungguh tidak percaya dan kini dirinya diminta untuk membuktikan betapa berkuasanya sang suami.
Lain halnya di suatu tempat.
“Makin laris aja kutengok jualanmu Thar!” ucap Bu Ros, menggoda duda pemilik kedai dekat rumahnya sudah menjadi hal rutin baginya di setiap hari.
“Alhamdulillah Bu! Mau pesan apa?” tanya Athar ramah.
__ADS_1
“Mau pesen mantu aku, kayak kau, yang manis, gurih, legit, aahh pasti enak yang macam kau ini, bungkus aja lah buat jadi mantu di rumahku!” ucap Bu Ros.
“Yang seperti saya banyak Bu...”
“Nggak mau aku lho, naksir lah aku sama kau, cocok kali sama anakku!”
“Hehehe!” Athar terkekeh pelan, lalu dirinya kembali melanjutkan pekerjaan. Biarkan saja Bu Ros menungguinya, toh Athar sudah terbiasa akan hal itu.
“Thar, nggak pengen kau nikah lagi?” tanya Bu Ros masih belum puas.
“Nanti kalau udah waktunya Bu, sekarang aku belum mikirin itu!” jawab Athar, tangannya dengan lincah menghias donat, ada pesanan untuk ulang tahun anak tetangganya hari ini.
“Tinggal sendiri, nggak kesepian kamu?”
“Hehe, udah terbiasa Bu!”
“Mas Athar!” panggil seseorang yang baru saja sampai di kedainya.
“Eh!” Athar menghentikan kegiatannya, dilihatnya Lisa sudah berdiri tidak jauh dari Bu Ros. “Lisa, kok ke sini?” tanyanya.
“Emm, memangnya nggak boleh ya aku berkunjung ke sini?” tanya Lisa hati-hati.
“Dari mana kamu tau aku tinggal di sini?” tanya Athar berbasa-basi.
“Aku tau dari Maid anaknya Kak Shirleen, aku belum ngucapin terima kasih sama Mas Athar, hari itu Mas Athar langsung pulang gitu aja!” ungkap Lisa, “Makasih ya Mas udah mau nolongin aku!”
“Thar, aku udah hampir setengah jam di sini nggak ada pun kau tawari minum?” protes Bu Ros. Dia sedikit kesal akan kehadiran Lisa yang dianggapnya saingan untuk anaknya.
“Bu Ros mau minum apa? Maaf lupa bawarin, biasanya juga Ibu ngambil sendiri!” sahut Athar.
“Kamu siapanya Athar?” tanya Bu Ros, menatap tajam Lisa, membuat Lisa menjadi sedikit salah tingkah.
“Dia temanku Bu!” jawab Athar. Melihat Lisa yang nampak serba salah, Athar berniat untuk membantu. Bukankah Bu Ros sepertinya tidak senang.
“Sudah lama kau kenal dia?” tanya Bu Ros lagi pada Lisa. Bagai orang tua yang menanyai tamu anaknya, begitulah! Sayang sekali di sini Lisa lah pihak perempuannya, apa nggak kebalik tuh.
“Baru beberapa minggu ini Bu!” jawab Lisa jujur.
“Ada main kau sama si Athar?” Bu Ros sepertinya ingin menegaskan bahwa Athar sudah diklaim adalah miliknya.
“Eh, enggak Bu, kami maksudku aku sama Mas Athar hanya teman, dan aku ke sini cuma mau ngucapin terima kasih karena hari itu Mas Athar pernah nolongin aku!” jelas Lisa.
“Alah, lagunya mau ngucapin terimakasih, modus mau nyamperin si Athar kan!” sewot Bu Ros yang menurut Lisa sangat mengena.
“Bu, Lisa ini teman aku, aku senang berteman dengannya.” Tukas Athar, supaya Bu Ros tidak lagi memperpanjang pertanyaannya.
__ADS_1
“Kau suka sama dia?” tanya Bu Ros.
Athar bingung harus menjawab apa, sementara Lisa, wanita itu memang menunggu jawaban Athar, secara tidak langsung dirinya akan segera mengetahui bagaimana perasaan Athar padanya.
Athar memandang Lisa lekat, sebenarnya Lisa cantik, sangat cantik malah meski masih cantikkan Shirleen mantan istrinya, hidup Lisa begitu menyedihkan, Athar sudah mencari tahu tentang Lisa, betapa wanita itu berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya itu bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak orang yang seperti itu, bertahan kemudian bangkit dan menerima segala keburukan dalam hidupnya, masa lalu yang kelam tidak semudah itu untuk dilupakan.
Athar tau, Lisa sedang berusaha mati-matian untuk menggapai hidup yang lebih baik. Athar sedikit banyaknya kagum akan kerja keras Lisa.
Seolah menganggap hidupnya dan Lisa yang hampir sama.
“Iya Bu!” jawab Athar, kata itu sebenarnya dikatakan olehnya begitu saja. Athar terpesona akan hidup Lisa, sehingga tanpa sadar dirinya megatakan itu.
“Apa Mas?”
“Hah! Yang benar aja kau?”
Ucap Lisa dan Bu Ros serempak. Lisa tidak percaya akan jawaban Athar, sementara Bu Ros harus menelan kecewa.
“Ku tanya sekali lagi, kau suka sama dia Thar?” tanya Bu Ros tegas. Kalau saja Athar menjawab ‘iya' sekali lagi, hilang sudah harapan Bu Ros untuk menjadikan Arhar sebagai mantunya. Mengingat wajar saja, Lisa begitu cantik, siapa yang tidak tertarik padanya.
“Eh, apa Bu?”
“Ku tanya, tadi kau bilang kau suka sama ini cewek, benar gitu?”
“Maksudnya?” bingung Athar.
“Isshh, cemana pula kau ini, kau suka sama dia kah?”
Lisa hanya diam, tidak berani berbicara sepatah kata pun untuk saat ini, dan sangat berharap Athar benar-benar dari hati mengatakan menyukainya tadi.
“Kalau iya gimana?” tanya Athar, dirinya kini sudah bisa mengontrol perasaannya.
Sudah terlanjur mengatakan menyukai, mana mungkin menarik kembali, apa lagi itu di hadapan Bu Ros, jika ia menarik lagi ucapannya maka Lisa pasti akan menanggung malu.
Jikapun nanti semuanya sudah terjadi, Athar berencana menjelaskan pada Lisa secara pribadi, supaya meminimalisir menyinggung perasaan wanita itu.
“Kau bilang kau belum ada niat menikah!” sahut Bu Ros.
“Suka itu bukan berarti kami harus menikah kan Bu!” jawab Athar lagi.
“Ya sudah, kesal aku sama kau Thar, nggak jadi pun mantuku kalau kau udah suka sama dia!” Bu Ros balik kanan lalu bubar pulang ke rumahnya dengan membawa perasaan kesal yang teramat pada Athar.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1