
"Kami mau bertemu dengan Pak Jason!" ucap Afik pada resepsionis.
"Dengan siapa?"
"Afik, sama Angga, bilang aja gitu, udeh dia tau pasti!"
Resepsionis tersebut lalu menghubungi Mery, namun Mery di seberang sana mengatakan kalau Jason tidak berada di kantor saat ini.
"Mohon maaf Pak, tapi Pak Jasonnya sedang ke luar!" ucap resepsionis.
"Kemana?" tanya Angga.
"Maaf saya kurang tau, sekretarisnya tidak bilang!"
"Yaahh," keluh Angga. "Coba lo telpon Fik!" suruh Angga.
Afik segera menelpon sobatnya itu, di panggilan kedua Jason baru mengangkat panggilannya.
"Ngapain aja sih baru di angkat? Lo dimana?"
^^^"Gue di cafe!"^^^
"Cafe mana?"
^^^"Jash!"^^^
"Ngapain?"
^^^"Ya serah gue lah ngapain, orang cafe-cafe gue*!"^^^
"*Eh buset nih anak, kita susul yak!"
^^^"Gue bentaran balik!"^^^
"Yah!"
"Junedi, ada kak Ilen nggak di sana?"
^^^"Ada, jangan macem-macem yah lo pada!"^^^
"Gak macem-macem, maunya semacam aja, makan gratis dong, ya nggak Ga!"
"Iya, udah lama banget nih nggak jadi pisau cukur!"
"Sa ae lo buntut panci!"
"Haha ya dong!"
^^^"Sini aja, nanti gue bilang sama bini gue!"^^^
"Oke, kemon dah!"
Resepsionis tersebut tampak melongo, dirinya bergidik ngeri, pasalnya rumor beredar bahwa CEO ARAD Group tersebut tidak suka di sentuh hidupnya, nah dua bocah dihadapannya ini malah seenaknya bicara tidak sopan, mana minta makan lagi.
"Permisi Mbak, kita pergi ya!" pamit Angga.
Resepsionis tersebut hanya bisa mengangguk patuh.
__ADS_1
Duo A kemudian langsung saja bergegas mengendarai motor mereka masing-masing menuju cafe Jash, mengisi perut sampai kenyang di sana.
Jason sudah akan kembali ke kantor, dirinya memberi pesan pada istrinya bahwa mungkin sebentar lagi Angga dan Afik akan segera sampai ke cafenya.
"Nanti suruh ngiklan dia, lumayan kan folowersnya si Angga sama Afik bisalah bantu kamu!" ucap Jason.
"Tapi apa Angga sama Afiknya mau?" tanya Shirleen.
"Urusan makan apa sih yang nggak mau, nggak usah di bayar, bayarnya makan gratis aja bilang gitu!" lanjut Jason lagi.
"By, gak boleh gitu, nanti aku bayar deh."
"Udah nggak usah, nggak usah kalau sama mereka."
"By..."
"Terserah kamu deh!" pasrah Jason.
Shirleen menuju dapur setelah suaminya berpamitan tadi, dirinya akan membuat kofta untuk diiklankan oleh Angga dan Afik nanti.
Setengah jam Shirleen berkutat di dapur kini kofta daging sapi buatannya sudah tersaji rapi di piring, dengan hiasan ala-ala master chef yang entah KW berapa.
"Nona, ada temen-temennya Tuan Muda di kursi pojok sana!" ucap Ipah memberitahukan kalau Angga dan Afik sudah datang.
"Ya sudah, kamu kemasi ini, dan Jacob biar sama aku, aku akan menemui mereka dulu!" ujar Shirleen.
"Baik Nona!"
"Kakak di mana?" tanya Shirleen.
"Itulah, sama temen-temennya Tuan Muda, kursi paling pojok Nona!"
Gegas Shirleen menemui Angga dan Afik sambil menggendong Jacob.
"Hai Uncle Angga, Uncle Afik, udah lama nih nunggunya?" tanya Shirleen mewakili Jacob.
"Yeee bayi ganteng gue ini, sini Kak, udah lama nggak liat makin chubby aja nih pipi," ujar Angga, dirinya mengambil Jacob dari gendongan Shirleen, "Kamu dikasih makan apa sih bang sama Pak Junedi, balon gas kah?" manja Angga pada Jacob.
"Balon gas? Abang kan makan bubur tiap hari dikasih Bunda!" protes Misca.
"Tapi pipinya bisa gembul gini kenapa coba? Kakak tau nggak, Bang Afik nih yah kurus kek gini karna suka nelen sapu di sekolahnya, sesuai kan?" tanya Angga sama Misca.
Tak!
Afik menyentil kening Angga, kurang ajar banget si Angga pikirnya.
"Jangan didengerin ya Misca sayang, lagian elu buntut panci anak masih dalam masa pertumbuhan dan keingintahuan ada-ada aja lo ngomongnya, gak baik lo ngajarin nggak bener!" protes Afik.
"Buntut panci?" heran Misca.
"Nah gak baik lo bilang gitu!" sindir Angga balik pada Afik.
"Dari tadi Bang Angga sama Bang Afik kalau ngomong gak pernah bener Bunda, harusnya Bang Angga sama Bang Afik belajar banyak sama Papa, Papa nggak pernah ngomong gitu kan sama kita?" skak Misca langsung mengena di hati Afik dan Angga.
"Junedi anak lo..." keluh Afik.
"Papa emang selalu wajar kalau ngomong sama kamu, sama Bunda, tapi kalau ngomong sama orang lain bahkan lebih nggak normal dari kita, bisanya cuma hemmm doang, yang tau artinya cuma Pak Aspri." keluh Angga.
__ADS_1
"Papa nggak gitu kok!" bela Misca.
"Iya bela aja terus..."
"Udah Angga, Afik, gak malu apa debat sama anak kecil, lagian kan aku udah sering bilang kalau ngomong depan Misca jangan suka nyeleneh, udah tau Misca orangnya suka protes." ucap Shirleen melerai.
"Ya abisnya kebiasaan Kak, udah dari sononya!" ucap Afik.
"Harus dididik dari sekarang ini Ga anak yang satunya, biar bisa bikin pusing Bapaknya ntar..."
"Heh, kalian ini, siniin anak aku, masih kecil juga udah dikasih masukan yang nggak-nggak." Shirleen hendak mengambil Jacob dari gendongan Angga.
"Hehehe becanda kak!"
"Bang, nanti kalau ulang tahun tiup lilin ya jangan tiup ban, kasian pipi kamu udah tumpah kek gini!" manja Afik pada Jacob, duo A seakan tidak perduli kemarahan Shirleen.
"Kan kalau ulang tahun emang tiup lilin Bang!" protes Misca lagi..
"Ya kali aja Abang mau tiup ban!" ucap Angga.
"Itu kan besar banget, gak bisalah, Abang kan masih kecil!" protes Misca lagi.
"Oh jadi kalau udah besar bisa yah?" tanya Angga.
Shirleen hanya bisa menggeleng melihat kelakuan kedua teman Jason itu, untung satunya udah minggat pikirnya lega.
"Iya bisa mungkin, gak tau juga sih!" jawab Misca.
"Ya udah, nanti kalau bang Afik ulang tahun kita suruh tiup ban aja jangan tiup lilin!" usul Angga.
"Lah kok gue sih buntut panci?" protes Afik.
"Nah bisa itu bang Angga, Kakak juga penasaran kalau tiup ban gimana?" setuju Misca.
"Nah benar, kali ini kita pren Kak!" ujar Angga sembari tangannya bertos ria dengan Misca.
Shirleen menyunggingkan senyumnya, selalu saja ada tingkah konyol dari Angga dan Afik yang selalu menghibur.
Terimakasih Ga, terimakasih Fik, mungkin karena tingkah kalian inilah dulunya suamiku bisa bertahan akan kerasnya tuntutan hidup, mungkin dia bisa tertawa karena celotehan kalian meski hatinya sedang rapuh, mungkin dia bisa tersenyum karena tingkah konyol kalian meski matanya ingin menangis, aku tau, itu sebabnya suamiku tidak bisa kehilangan kalian.
Persahabatan kalian begitu dekat layaknya nadi, terimakasih sudah menjaga suamiku agar tetap waras, kalian adalah salah satu kekuatan terbesar dalam hidupnya.
"Kak, pesen dong!" ucap Afik.
"Ah iya, sampai lupa kan aku!"
"Aku ada menu baru di sini, nanti mau nggak kalian ngiklaninnya, berdua gitu bisa nggak?" tanya Shirleen.
"Hah?"
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote !!!