
Pagi harinya dirumah keluarga Julian,
"Ma nanti temenin aku ke butik Weni yah, aku mau pesen baju pengantin" ucap Shirleen, saat mereka sudah selesai sarapan bersama.
Jason sedang bermanja dengan Misca, anak gadisnya itu bercerita apa saja tentang apa yang ia lakukan selama beberapa hari ini.
"Papa, sini deh kakak bisikin" ucap Misca, ia sudah menamai dirinya kakak semenjak kehadiran Jacob adik bayinya.
"Heemm ada apa ini, mau bisikin apa sih" Jason mendekati Misca, mendekatkan indra pendengarnya untuk siap mendengarkan bisikan Misca.
"Papa, boleh nggak Misca ketemu Ayah, Misca takut bilang sama Bunda, soalnya kata Bunda Ayah lagi kerja jadi tidak bisa di ganggu" ucapnya berbisik di telinga Jason.
"Ya mungkin Ayah memang lagi kerja" ucap Jason, ia sejujurnya juga malas untuk mempertemukan Misca dengan Athar, ia terlalu serakah karena telah menganggap dirinyalah satu-satunya Papa untuk Misca.
"Tapi Pa, Misca kangen sama Ayah" lirih Misca., anak gadisnya itu tampak tertunduk lesu, Jason yang melihatnya jadi tidak tega, ia mengingat lagi hidupnya yang miskin kasih sayang seorang ayah, maka dari itu ia selalu berjanji dalam hatinya bahwa Misca tidak akan pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah seperti dirinya.
"Hemm baiklah, panggil Bi Ipah kesini, bilang Papa mau bicara" ucapnya menyuruh gadis kecilnya itu.
"Siap Bos !!!" ucap Misca lantang.
Tak lama Ipah pun datang, ia menunduk lagi tidak berani menatap wajah tuan mudanya itu, sungguh sudah melekat dalam dirinya prinsip "Kalau dipanggil berarti pasti ada masalah" karena selama bekerja di rumah utama keluarga Adrian, ia seringnya mendengar dan melihat siapapun maid di rumah keluarga Adrian jika sudah di panggil oleh Tuan Muda Jason pasti tidak akan berakhir dengan baik.
"Ipah" seru Jason.
"Ya Tuan Muda"
"Kau antarkan Misca ke alamat ini, Ayahnya mempunyai kedai di depan rumah ini, tidak perlu masuk ke rumah mereka, kau bawa saja Misca ke Kedai Ayahnya, nanti akan ku suruh pengawal menjaga kalian dari jarak jauh, jadi jangan macam-macam, jangan lepaskan pengawasanmu dari anakku" ucap Jason tangannya mengirimkan lokasi rumah Athar lewat aplikasi chatting berwarna hijau, semakin membuat tenggorokan Ipah terasa tercekat.
"Pastikan ayahnya Shirleen jangan sampai mengetahui Shirleen menikah denganku, kau bisa di percaya?" jelas Jason.
"Bi biisa Tuan"
"Dan satu lagi, jangan beri tahu Shirleen kalian mengunjungi Ayahnya Misca"
"Baik Tuan"
"Ya sudah, kau boleh kembali"
"Asyiikkk kerumah Ayah, terima kasih Papa" girang Misca.
__ADS_1
"Girl, Bunda jangan sampai tau yaaa, anak Papa bisa jaga rahasia kan ?" ucap Jason.
"Bisa dong Pa" yakin Misca.
"Cup" Misca mengecup singkat pipi Papanya itu. Hari ini ia sangat senang, setelah sekian bulan akhirnya ia bisa bertemu dengan ayahnya itu.
"Daah Papa, Misca sekolah dulu" pamit Misca.
"Eeh salimnya ?" cegah Jason.
"Ah iya lupa" Misca lalu menyalami dan mencium punggung tangan Papanya itu "Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam, sama Bunda sama Oma Opa juga jangan lupa" ujar Jason.
"Iya Papa, daahh"
"Daahh"
Jason kemudian berkemas untuk berangkat ke kantor, pakaiannya sudah di sediakan oleh Shirleen di atas ranjang, hari ini ia akan ke kantor lebih awal karena ia ingin sedikit mengerjai Roy yang telah berani menikah diam-diam tanpa sepengetahuannya, untungnya ia adalah Jason yang mempunyai mata dan tangan di mana-mana sehingga informasi serapat apapun ia bisa dengan mudah mengetahuinya.
"Kurang ajar sekali Roy itu, semalam ia juga tidak menjawab telponku" gumamnya.
Memang, semalam ia telah beberapa kali menelon asistennya itu, namun baru semalam juga Roy mengacuhkan panggilannya, biasanya mau dini hari pun ia menelpon Roy akan tetap. menjawab panggilannya.
Ia menebak pasti asisten dan anak buahnya itu sedang mengarungi surga dunia sehingga tidak mengindahkan penggilannya.
Dasar anak buah laknat...
Dan ia juga tau, pasti semua itu ulah Shakira, karena jika hanya Roy tidak mungkin pria bermata sipit itu bisa seacuh ini padanya.
Sementara di sebuah apartemen mewah di pusat kota Jerman, seorang pemuda sedang menata barang-barangnya, sebuah foto terjatuh dari tatanan bajunya, foto seorang wanita tengah memakai seragam SMA, wajahnya cantik menggemaskan, dari foto saja ia bisa menebak kalau wanita di foto tersebut mungkin termasuk anak badung waktu sekolah dulu.
Gaya rambut pada zamannya dengan warna warni bak pelangi di beberapa helainya, baju yang di keluarkan, lengan baju digulung, rok diatas lutut, serta gelang anyaman di salah satu pergelangan tangannya, kesan tomboy sangat jelas ditampilkan.
Senyumnya sungguh memikat, tanpa sadar Yudha menyunggingkan senyumnya, bagaimana bisa wanita tomboy di foto tersebut tampak girly saat sekarang ini, sungguh dua penampilan yang berbeda.
"Ternyata lo tuh udah cantik dari dulu ya" berbicara sendiri pada foto yang ia temukan di lantai saat Weni memukulnya dengan tas waktu di toilet rumah Jason.
"Lo berbeda, selama ini gue nggak nemuin orang kayak lo, yang begitu ceroboh hingga begonya gue harus peduli sama lo, yang pernah gue katain modus tapi ternyata lo malah ngangenin" gumam Yudha lagi.
__ADS_1
"Kalau misal gue pulang nanti, sampai gue ketemu lo lagi, berarti lo emang ditakdirin buat gue" yakin Yudha, ia sudah move on dari si Serong nampaknya.
Yudha melanjutkan menata barang-barangnya, hari ini ia begitu lelah, enam belas jam di udara membuat tubuhnya membutuhkan istrirahat yang ekstra.
Yang terjadi semalam di rumah Roy pukul 20:33.
"Ponselku, ponsel Roy udah, nah di silent tanpa kelap kelip dan getaran kek gini pasti akan aman, eh nggak nggak, keknya harus di sembunyikan ini sumber masalah" Shakira bergumam sendiri saat Roy berada di kamar mandi, ia sudah memimpikan malam indah nan panjang malam ini bersama sang suami.
"Bel rumah !!!"
Shakira berlari untuk memutus kabel bel rumah Roy, otak geniusnya malah sudah bisa menduga sesuatu.
Ia tau Bos Jasonnya itu akan menelpon untuk menggagalkan asmara malam pertama mereka, ia sudah membayangkan Roy pasti akan di suruh ini dan itu untuk keluar rumah, oh tidak semudah itu Ferguso, tidak bisa itu tidak bisa dibiarkan terjadi.
"Terus apa lagi ?" monolognya terus saja mewaspadai sesuatu.
Ia kemudian memutus koneksi di ponsel Roy namun hanya untuk panggilan dari Jason saja, sehingga jika Roy teringat akan ponselnya ia tetap tidak akan bisa menerima panggilan dari tuan mudanya itu.
"Beres..." bangga Shakira akan kerja kerasnya.
"Kamu abis dari mana ?" tanya Roy, saat Shakira baru saja memasuki kamarnya yang saat ini telah menjadi kamar mereka.
"Dari luar cari angin" dusta Shakira.
"Kamu liat poselku tidak ?" tanya Roy lagi.
"Enggak tuh, aku kan habis dari luar"
"Aah iya juga yaaa"
"Roooyyy" manja Shakira.
"Heemmm" ucap Roy.
Shakira mengedipkan matanya genit, ya ampun ternyata Shakira tidak berubah sama sekali sekalipun sudah menjadi istri.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!