Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Maafkan aku Sri.


__ADS_3

Shirleen sudah tidur saat Jason pulang kerumah, lelah sekali rasanya hari ini.


Jason kemudian membersihkan diri setelahnya ia hanya ingin tidur nyenyak.


Jam tiga pagi Shirleen terbangun kala mendengar tangisan Jacob, dilihatnya sang suami sedang tertidur pulas disampingnya, terlihat sangat keletihan, biasanya ia tidak perlu bangun tengah malam begini karena Jacob tidak pernah menangis, Jason mengurus bayinya itu dengan sangat baik, namun kali ini suaminya itu bahkan tidak mendengar suara tangis Jacob, berarti Jason pasti lelah sekali.


Ia kemudian mengambil Jacob dan memeriksa popoknya yang ternyata sudah penuh, Shirleen lalu menggantinya.


Setelahnya ia menyusui Jacob, supaya bayi itu pulas lagi.


Dareen dan Sri baru saja selesai sholat malam, mereka tampak sangat harmonis jika dilihat dari luaran saja, namun untuk hati siapa yang tau.


"Mas..." seru Sri, saat mereka sudah berada di ranjang.


"Ya" sahut Dareen.


"Apa Mas belum juga berubah pikiran ?" tanya Sri lagi, Dareen tentu paham maksudnya tidak perlu ia menjelaskan lagi.


"Heemm," Dareen berdehem, ia juga ingin melakukannya namun ia belum yakin akan hatinya sudah mencintai Sri atau belum. "Lo udah siap jika gue bener ngelakuin itu ?" tanya Dareen.


"Sudah Mas, siap lahir batin, aku ikhlas Lillahi Ta'ala." jawab Sri.


Dareen diam saja, ia masih berpikir bagaimana caranya melakukan semua itu.


"Mas, jika Mas tidak bisa melakukannya atas dasar cinta, lakukanlah karena nafsu, aku mengerti ini tidak mudah, namun semakin kita menunda semakin berdosa kita berdua." ucap Sri.


Yah benar, untuk apa sebuah ibadah ditunda-tunda, mereka sudah halal, bahkan Dareen sudah mendaftarkan pernikahannya dengan Sri pada pengadilan agama, apa lagi yang mereka tunggu.


Hanya kerena belum adanya keyakinan, itu bukan masalah, Dareen saja yang terlalu takut dan alasan sebenarnya karena belum bisa menerima Sri apa adanya.


Sri mengecup lama bibir suaminya, tidak apa sudah tugasnya mempertahankan rumah tangga, jika bukan dia yang memulai lalu siapa ?.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Mas." ucap Sri pelan.


Dareen tidak bisa diam saja, sebenarnya hatinya telah luluh, hanya ego saja yang masih menggunung, ah sudahlah ia akan mencobanya malam ini.


Ia membaringkan Sri pelan di ranjang, tidak ada penolakan karena Sri benar-benar sudah siap. Tangannya mematikan lampu yang memang kontaknya berada di dekat nakas, ia lalu menghidupkan lampu tidur saja.


Membaca doa sebelum mereka benar-benar melakukannya.


Dareen mulai mencium bibir istrinya, ini adalah kali pertama baginya, pengalaman ini pasti tidak akan ia lupakan begitu saja.


Suasana semakin panas, Sri mulai mengeluarkan des*han yang tak mampu ia tahan, mereka berdua benar-benar akan menuntaskan haknya malam ini.


Dareen menatap Sri penuh cinta, Sri mengangguk meminta Dareen untuk jangan pernah ragu, mengisyaratkan pada Darean supaya mari lakukan saja.


Dareen melucuti pakaian Sri, kini mereka sudah polos, Dareen mengarahkan miliknya pada milik Sri, namun diluar dugaan Dareen ternyata milik Sri sangat sulit untuk di jejali oleh adik kecilnya.


"Jleb" dengan usaha yang lumayan, akhirnya adik kecilnya berhasil menerobos masuk.


Dareen segera menuntaskan hasratnya, ia sudah hampir mencapai puncak, semburan oleh naga apinya memenuhi ruang milik Sri, kini benihnya sudah tertanam disana.


"Aarrgghhhh" keduanya mengerang bersamaan.


"Terima kasih, sudah menjaganya untukku." ucap Dareen setelah mereka selesai melakukannya, ia mengecup lama kening Sri, sebelum akhirnya tumbang dalam pelukan Sri.


Air matanya luruh, selama ini apa yang telah ia pikirkan pada Sri, apa yang ia tuduhkan pada Sri, ternyata tidaklah benar, namun Sri sama sekali tidak pernah menyangkal atau melawan barang sedikitpun untuk membela diri, ia begitu merasa bersalah, ia menyimpulkan sendiri bagaimana kehidupan Sri, tanpa pernah menanyakan pada Sri apa sebenarnya yang telah terjadi.


"Maafkan aku Sri, maafkan aku istriku." panggilannya pun langsung saja berubah sopan, ia begitu mencintai Sri saat ini, dengan derai air mata dan tangis yang terisak Dareen sungguh menyesal telah menuduh Sri, meski selama ini tidak lagi pernah ia ungkapkan, namun dalam hatinya selama ini ia selalu saja berpikiran bahwa Sri dulunya adalah wanita yang buruk sebab adanya kehadiran Fahira.


"Mas sudah Mas." ucap Sri menenangkan, mengusap punggung sang suami, ia merasakan dekat dadanya mulai basah karena air mata Dareen.


"Ceritakan, ceritakan padaku Fahira itu siapa kamu, kalau kamu masih suci lalu kenapa ada Fahira ?" tanya Dareen, kedua anak manusia yang masih tela*jang itu pun memilih duduk membenarkan posisi.

__ADS_1


Sri ingin mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya, namun Dareen mencegahnya, Dareen kemudian duduk bersandarkan kepala ranjang lalu membawa Sri kedalam dekapan.


"Dia Fahira, anak majikanku Mas." Sri lalu mulai bercerita menjelaskan bagaimana kehidupannya sebelum dibawa ke rumah Bu Halima ibunya Dareen.


Dari mulai ia berniat merantau meninggalkan desanya, meninggalkan kedua orang tuanya, lalu di tipu dan diselamatkan oleh seorang wanita yang bernama Suminem, dan selanjutnya ia dipekerjakan sebagai IRT yang diambil dari Jasa penyedia IRT, bertemu dengan Athar yang menjadi majikannya, perlakuan baik Athar, hingga pada kenyataannya ternyata Fahira bukanlah anak manjikannya itu, lalu Fahira dibawa ke Panti Asuhan dan ia pun ikut berhenti bekerja dipulangkan ke rumah jasa penyedia ART tersebut.


"Aku tidak tega, tangan ini yang merawat Fahira sedari ia lahir di dunia, mana mungkin aku tega membiarkannya begitu saja Mas, lalu aku mengambil Fahira lagi di Panti Asuhan tadi, tapi aku tidak berpikir, waktu itu hari yang semakin sore sayangnya aku belum juga mendapatkan kontrakan, aku bingung harus bagaimana, aku memutuskan untuk singgah sholat terlebih dahulu di sebuah Masjid, tidak disangka setelahnya aku bertemu dengan Pak Safar dan Bu Halimah, ibunya Mas, beliau orang baik, aku dibawa kerumah mereka..."


"Cukup Sri !" Dareen tidak sanggup lagi mendengar penjelasan istrinya, sebuah penjelasan yang seharusnya sudah dari dulu ia tanyakan, bukannya malah berperang dengan batin sendiri dan berasumsi yang tidak-tidak mengenai Sri.


Sri terlalu baik, bahkan bak malaikat, wanita yang tidak sanggup menelantarkan anak asuhnya, hanya seorang anak asuh, sungguh Sri memang berhati malaikat, mengapa ia seolah buta bahkan pernah menganggap Sri adalah wanita yang buruk, wanita tidak benar.


Ia ingat hari itu bahkan ia membentak Sri, padahal ternyata Sri saat itu sedang dalam kesulitan.


"Ampuni aku Sri." ucap Dareen masih drngan terisak, ia bersimpuh pada lutut Sri, ah rasanya begitu saja tidak cukup.


"Mas, sudahlah, aku sudah memaafkan Mas, waktu itu Mas hanya belum bisa menerima aku, sekarang bukan masalah benar atau salah mas, ternyata hanya masalah waktu kan, dan kita sudah bahagia saat ini, yah sudah bahagia, apa Mas bahagia mendapatkan aku ?" ucap Sri, pertanyaan itu sudah sering kali berada di ujung lidahnya, barulah kali ini dapat terucap olehnya.


Dareen mengangguk pasti, bukan hanya bahagia, ia benar-benar bahagia saat ini "Aku bahagia Sri, sangat bahagia..."


"Cup" Dareen mengecup lagi bibir istrinya, rasanya bagai ada bunga bermekaran mengelilinginya.


Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang semakin menuntut lebih, Sri terbuai, siapa sangka ternyata mereka melakukannya lagi namun kali ini dengan penuh cinta.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2