
"Jasooooonnnnn" Teriak Shirleen, ia langsung terduduk lemas, kakinya bagai tidak bertulang untuk memopang tubuhnya, ia ambruk.
"By..." Jason menoleh kearah sumber suara, bagaimana bisa kekasihnya berada disini.
Ia mematung dengan pisau yang masih menggantung seolah siap menggorok leher Roy, entah bagaimana ia bisa menciptakan posisi terakhir semacam itu, ia begitu panik dan tidak menyadarinya.
Roy dihadapannya sedang bersiaga, namun ia sedikit lega, semoga Shirleen adalah penyelamat hidupnya.
Shirleen masih terus menangis tertunduk, kini ia telah melihat sendiri apa yang terjadi, bahwa pesan yang dikirimkan seseorang padanya memang benar, ia diminta ketempat ini untuk membuktikan bahwa kekasihnya memang orang yang gila.
"By..." Kini Jason sudah berada didekat Shirleen, entah mengapa Shirleen bisa berada disini itu bisa ia selidiki nanti, yang terpenting minta maaf dulu, karena ia yakin setelah ini entah bagaimana nasib hubungannya dengan Shirleen. Tangannya terulur untuk mengusap bahu dan lengan Shirleen, atau kalau bisa ia ingin sekali memeluk wanitanya itu.
"Jangan sentuh aku..." Shirleen menjauh, nampak aura ketakutan menyelimuti raut mukanya.
"By..." Jason semakin mendekat.
"Jangan sentuh aku, tangan itu... tangan itu tangan seorang pembunuh, jangan sentuh aku..." Shirleen sudah berhasil terisak, hal itu juga yang membuat Jason semakin bersalah, ia yakin saat ini betapa sakitnya sang kekasih.
"By... Maaf !" ucap Jason lirih.
Shirleen menggeleng, ia tidak ingin hatinya hancur. namun kenyataannya melihat Jason yang ternyata seperti itu sungguh membuatnya hancur. Dalam seketika kekecewaan menggantikan kenangan manis yang pernah mereka buat.
"By..." Tangan Jason terulur ingin memeluknya, dengan cepat Shirleen menghindar.
"By..."
"Jangan sentuh aku..."
"By..."
__ADS_1
"Maafkan aku By, maaf" nada menyesal terdengar jelas namun entahlah didalam hati siapa yang tau.
"Aaakuu, aakkuu..." Shirleen menegang, ia kembali terisak, entahlah nama Jason kini sudah bertahta dihatinya, ia seolah tidak sanggup menerima ini semua.
"By..." ucap Jason lagi dengan lirihnya.
"Lepaskan aku Jason, aku ingin lepas dari hidupmu, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, kau bisa melanjutkan apa yang ingin kau tuntaskan, mulai hari ini aku bukan lagi tunanganmu, aku memutuskan hubungan denganmu" Shirleen berbicara dengan sekali tarikan nafas, ia tidak ingin membebaninya lagi, Jason mungkin pantas untuknya, tapi entah apakah pantas untuk kedua anaknya, siapa yang mau anaknya memiliki ayah seorang psikopat ataupun mafia semacam lelaki dihadapannya ini, tidak... sungguh secinta apapun Shirleen ia tidak akan mau itu terjadi.
"By..." Jason langsung memeluk paksa kekasihnya itu, tidak peduli Shirleen meronta-ronta dipelukannya.
"By... Jangan katakan itu By" bulir air mata mulai menggenang dipelupuk, hanya tinggal menunggu arus menjatuhkannya.
"Lepaskan aku Jason, lepas" Shirleen masih berusaha melepaskan diri, tapi ia tau Jason tidak akan semudah itu membiarkannya.
Ia hanya bisa menangis, dan terus berucap minta dilepaskan.
Jason bagai sembilu mendengar isak tangis kekasihnya, apakah kekasihnya ini ingin benar-benar lepas darinya.
"Lepas Jason, aku tidak akan mau bersanding denganmu jika kamu tetap menjadi semacam ini, aku tidak akan mau"
"Kau gila, kau mafia, kau psikopat, kau pembunuh, kau PEMBUNUH" Shirleen berteriak dipelukan Jason, sebenarnya ia tidak pernah melihat Jason menghabisi orang, namun yang ia lihat tadi sungguh menyayat hatinya yang sebelumnya telah diberitahukan sekuel dari kenyataan hidup Jason. Persetan dengan kebaikan Jason selama ini, yang ia tau ia melihat dengan jelas bagaimana tadi Jason hampir saja menancapkan pisau kearah leher orang yang tengah duduk beberapa meter darinya, menatap dengan tatapan sulit diartikan.
Isak tangis mewarnai harunya drama itu.
Perlahan Jason melonggarkan pelukannya, dan kesempatan itu tidak akan disia-siakan Shirleen.
"By, maafkan aku" Jason terisak, kenyataannya begitu sakit saat orang yang ia cintai menyebutnya sebagai pembunuh.
"Aku bisa saja menerimamu Jason dan mengabaikan semuanya, tapi tidak untuk kedua anakku, siapapun tidak akan pernah mau anak-anaknya punya ayah seorang pembunuh"
__ADS_1
Shirleen berlalu pergi setelah mengucapkan pesannya, tidak ia tidak akan menerima Jason dalam keadaan seperti itu.
Saat ini ia sedang kacau, dilihatnya lagi sebuah pesan diponselnya, yang telah menunjukan rahasia besar kekasihnya itu.
Flashback.
"Datanglah ke Villa keluarga Adrian Jalan XX nomor 9, kau akan mengetahui siapa Jason sebenarnya"
Sebuah pesan memberitahunya untuk segera bertindak.
Ia lalu menitipkan Misca dan Jacob sebentar pada Ipah, ia harus membuktikan semuanya.
Tiga puluh menit berlalu, Shirleen kini sudah sampai pada alamat yang ditujukan.
Shirleen berlari cepat, ia tidak peduli akan kondisinya yang belum sampai satu bulan habis melahirkan. Ia ingin segera membuktikan sesuatu yang sampai kini masih mengganjal di kepalanya.
Ia mengecek kembali ponselnya, benar inilah tempatnya...
Lama ia mencari namun ia hanya menemui jalan buntu, seolah takdir berpihak padanya hampir setengah jam berkeliling samar-samar ia mendengar suara tembakan.
Jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya mulai melemas, namun ia tetap harus melihat sebuah kenyataan.
"Braakkk" ia mambuka pintu ruangan itu, ada sebuah tangga untuk akses menuju kebawah, ia berjalan menyusuri tangga, dan bertemu lagi dengan sebuah pintu.
pelan ia buka, dan....
"Jasooonnnn"
Flashback off.
__ADS_1
Bersambung...
Like, koment, gift, and vote