Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Angga dan Afik.


__ADS_3

"Gimana sayang, orang yang udah nyelakain Shakira udah kamu laporin kan?" tanya Shirleen, ternyata saat sudah terjadi pada hidupnya dirinya bisa dendam juga.


Shakira menyelamatkan bayi-bayinya, dan harus kehilangan calon bayi mereka. Shirleen tidak bisa terima itu sebelum adanya balasan atas kejadian yang menimpa Shakira, bahkan dirinya sendiri yang meminta supaya Tuan Gilbert itu masuk penjara.


Jason mengangguk, setidaknya istrinya mengerti kadang memang ada suatu hak yang mengharuskan kita membalas semua kejahatan seseorang.


"Ah syukurlah, aku tidak akan puas jika dia masih bisa menghirup udara kebebasan. Lebih baik begitu, seharusnya orang tamak sepertinya memang berada dibalik jeruji besi hingga akhir hidupnya." ucap Shirleen.


Jason memang menjebloskan Tuan Gilbert ke penjara, namun bukan atas tuduhan pembunuhan janin Shakira, tentu kasus seperti itu tidak bisa dilaporkan, nanti akan ada oenyelidikan yang berkepanjangan jika saja dirinya jujur mengenai kejadian yang sebenarnya.


Bagaimana bisa Shakira yang meminum minuman itu?


Apakah anda sudah mengetahui rencana Tuan Gilbert sebelumnya hingga anda sudah waspada?


Dan itu malah akan meringankan kasus yang menimpa Tuan Gilbert, jadi Jason putuskan untuk menutup rapat tentang Shakira. Dan Roy pasti akan mengerti akan hal itu.


"Sudah, jangan terlalu mengumpat, kau sedang hamil, harus berkata yang baik-baik kan!" ucap Jason, dirinya membelai lembut pipi istrinya.


"Cup!"


Satu kecupan mendarat di bibir Shirleen, Jason gemas kala melihat mulut itu begitu bersemangat mengatai Tuan Gilbert.


"By, besok cek kandungan yuk sekalian masih di sini!" ajak Shirleen, dirinya ingat pesan dokter Eri untuk mengecek kandungannya sebulan kemudian.


"Ah iya yah, aku sampai lupa saking banyaknya masalah."


"Iya makanya, besok yah kamu bilangin itu sama sepupu kamu!" suruh Shirleen.


"Iya Ma!" ucap Jason sembari mengerlingkan matanya.


"Ah iya, kita lama yah nggak manggil gitu, perasaan udah nyaman aja manggil kamu By, karena udah kebiasaan." ucap Shirleen, memang dirinya dan Jason sempat mengganti panggilan sayang mereka dengan 'Mama dan Papa', sekalian ingin mengajari anak-anak nantinya. Tapi itu ternyata hanya sebentar, karena baik Jason maupun Shirleen sudah nyaman dengan panggilan sayang mereka sedari awal.


"Aku juga nggak biasa, orang lain dipanggil Mas bisa, tapi perasaan kalau aku malah geli dengernya, nah ini Papa Mama aku juga nggak sreg By keknya."


"Hahaha kamu tuh ya, semua ide panggilan-panggilan itu kan dari kamu semua, tapi kamu juga yang tiba-tiba geli." ejek Shirleen.


Angga baru saja sampai di Butik Weni, dirinya seperti biasa, kegiatan rutin tiap malam apalagi kalau bukan menjemput Rara yang belum juga dirinya jadikan pacar, selama ini dirinya hanya tau ditembak, tidak pernah tau bagaimana rasanya menembak seorang gadis, jadi Angga sepertinya mengalami sedikit kesulitan.


Baginya Rara sudah seperti pacarnya, hanya tidak ada kata jadian saja yang terlontar dari mulutnya.


Namu tidak bagi Rara, dirinya yang masih berharap Angga akan menyatakan cintanya malah jadi meragu karena Angga yang tak kunjung menjadikan dirinya pacar beneran.


Setiap hari hanya ada kata calon pacar saja kala Angga menyapanya.


Seperti kali ini,


"Hai Calon Pacar!" sapa Angga.


Angga tidak tau malu lagi, semua karyawan di butik Weni sudah mengetahui dirinya karena Weni juga sudah menjelaskan siapa dia.


Pun juga Angga yang tidak pernah absen mengantar dan menjemput Rara, jadilah semua orang tau kedekatannya dan Rara.

__ADS_1


"Hai!" sahut Rara lesu, sungguh dirinya sedang kesal, karena menurutnya Angga tidak serius dengan hubungan mereka.


Padahal bagaimana bisa dianggap tidak serius, asal Rara tau saja Angga tidak pernah sebucin itu sampai mengantar jemput seorang gadis, dengan berani mengakrabkan diri dengan orang tuanya, dan satu lagi Rara tidak tau saja burung seharga lima puluh juta sudah Angga hadiahkan untuk Pak Rojali.


Namun yang namanya cewek, yah pasti selalu butuh kepastian, sedang Angga menganggap remeh hal seperti itu.


"Hei, kok gitu sih jawabnya, capek yah?" tanya Angga, dirinya masuk di tempat Rara bekerja, anggap saja dirinya sedang mojok.


Membelai lembut rambut gadisnya itu, "Kamu udah makan malam?" tanya Angga lagi.


"Udah tadi!" jawab Rara.


"Benar?" tanya Angga.


"Iya!" singkat Rara mencoba cuek.


"Ra..." panggil Angga, dirinya merasa ganjal.


"Hemm"


Angga jadi salah tingkah, kenapa Rara tampak berubah.


Lah kenapa jadi mirip Junedi?


"Bentar lagi pulang, mau kemana dulu apa mau langsung pulang?" tanya Angga lagi mencoba mencairkan suasana.


"Terserah."


Ah banyak tingkah kali betina ini, tampang juga gak seberapa malah cuek-cuek lagunya.


Angga manyun, dirinya tidak menghiraukan Rara lagi karena kesal, seumur hidup selain Jason dan Yudha jangan harap dirinya bisa diperlakukan begitu.


Saat Angga sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba Afik si ayang beibnya menelpon, sudah taulah kalau Afik menelpon mana bisa Angga mengabaikan.


^^^"Lo dimana?"^^^


"Di butik Weni!"


^^^"Pacaran mulu lo!"^^^


"Lagi selingkuh ayang beib!"


^^^"Selingkuh kok ngomong!"^^^


"Biar ayang beib cemburu!"


^^^"Najis!"^^^


"Bilang najis, tau-tau nangis di pojokan, awas yaaa!"


^^^"Gila lo Ga, gue masih waras anj!"^^^

__ADS_1


"Sayangnya gue hampir gila karena ayang beib!"


^^^"Anak setan!"^^^


"Kan kita sama-sama setan ayang beib!"


^^^"Gak normal, geli gue Ga!"^^^


"Hahahahaha!"


Rara mendelik tajam kala mendengar percakapan Angga di telpon dengan seseorang di seberang sana.


Ada sedikit cemburu terbesit di hati, siapa kiranya itu. Apa dirinya benar hanya selingkuhan Angga, karena sepertinya meski Angga mengumpat namun nada bicaranya penuh perhatian dan mesra.


Angga yang memang tidak melihat tatapan tajam yang dilayangkan Rara pun tidak menyadari kelakuannya membuat Rara cemburu. Dirinya terus menggoda Afik di seberang sana.


"Kenapa sih Beib?"


^^^"Ini ada artis yang mau ngundang kita di podcast, perihal iklan kita itu, kan gue nggak bisa mutusin sendiri, makanya gue hubungin lo!"^^^


^^^"Jadi gimana? Mau nggak lo?"^^^


"Serah ayang beib aja, aku mah pasrah mau diapain juga pasrah!"


^^^"Ga, kok lo jadi ngondek sih, gue kan jadi takut!"^^^


^^^"Gue merinding nih! Beneran sumpah!"^^^


"Merinding disko ya abang..."


"Yang bawah merinding nggak bang?"


^^^"Angga, najis lo yah, gue masih demen kacang ege. Gue nggak doyan ngemut telor sama sosis anj."^^^


"Hahahahaha!"


^^^"Ketawa, sialan lo!"^^^


^^^"Temen laknat emang !"^^^


"Lo tentuin aja jadwalnya kapan, lo kabarin gue, jadi artis keknya nggak buruk juga deh masa depan kita!"


^^^"Nah itu dia, gue juga mau diskusi sama lo, bakalan diseriusin nggak ini soalnya banyak banget tawaran, hari ini aja sebenernya ada dua artis yang ngundang, bukan cuma satu, pihak stasiun TV juga ada, tapi sengaja belum gue ambil, masih padat kan jadwal kuliah kita minggu ini."^^^


"Gue nggak tau deh, serah lo, kalau lo ikut gue juga ikut kok, kita kan harus beriringan sejalan seirama ayang beib."


Angga mulai kumat lagi, hidung Rara sudah mulai kembang kempis karena melihat Angga yang bahkan acuh padanya, dan gilanya malah memilih bertelpon mesra dengan seseorang di seberang sana. Mana yang didengar Rara, Angga membicarakan perihal masa depan tadi, sungguh membuat Rara kalap tanpa tau yang sebenarnya.


Bersambung...


Please, author butuh dukungan semangat dari kalian, dengan like, koment, hadiah seikhlasnya dan juga vote seikhlasnya.

__ADS_1


Dan doain juga Author yang sedang didera sakit gigi saat ini, tapi masih tetap semangat demi kalian pembaca setia, salam sayang dari Pee 🥰🥰


__ADS_2